Pasokan Strowbery Lokal Seret, Petani Batu Datangkan Buah dari Bandung Saat Lebaran
Batu | Serulingmedia.com – Permintaan buah strowbery di Kota Batu melonjak drastis selama momentum Idulfitri 1446 Hijriah, mencapai 2–3 kuintal per hari. Sayangnya, tingginya permintaan tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan lokal akibat minimnya produksi selama musim hujan.

Nur Sudarto, pemilik NT Strawberry di kawasan Bumiaji, mengungkapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, ia terpaksa mendatangkan strowbery dari luar daerah, tepatnya dari Ciwedey, Bandung.
“Kami ingin mempertahankan kondisi pasar dan menjaga komitmen dengan pelanggan, maka kami mendatangkan stroebery dari Bandung,” ujar Nur Sudarto saat menyiapkan kiriman strowbery kepada pelanggan.
Menurutnya, strowbery dari Bandung memiliki rasa yang sedikit lebih kecut dibandingkan strowberry Batu yang dikenal manis. Namun, keduanya berasal dari varietas yang sama, yakni jenis Mencir.
Saat ini, strowberry produksi NT Strawberry untuk memenuhi kebutuhan ke berbagai supermarket di Malang dan Surabaya, serta ke sejumlah hotel dan restoran, dengan harga jual sekitar Rp60.000 per kilogram.

Minimnya produksi lokal disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi sejak awal tahun. “Bulan Januari hingga April merupakan musim penghujan, sehingga banyak bunga stroberi yang rontok sebelum sempat berbuah,” jelas Nur. Ia memperkirakan panen raya baru akan terjadi pada bulan Juni hingga Juli mendatang.
Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi petani hortikultura di Batu. Ketergantungan pada pasokan luar daerah menjadi solusi jangka pendek, sementara untuk jangka panjang dibutuhkan strategi adaptif agar produksi stroberi tetap stabil, terutama saat permintaan meningkat tajam di momen-momen tertentu seperti Lebaran. (Eno)






