Panggung Bebas TUKUL: Ketika Seni Menjadi Nafas Pergerakan Kader PMII

Screenshot_2025-12-09-06-10-12-027_com.miui.gallery-edit

Malang | Serulingmedia.com — Menjelang sore, halaman depan Kopma Padang Bulan UIN Malang berubah wajah. Bukan pasar, bukan mimbar orasi, melainkan panggung sederhana yang hidup oleh puisi, musik, gerak tubuh, dan tepuk tangan.

Di sanalah Lembaga Semi Otonom (LSO) TUKUL PMII menghidupkan “Panggung Bebas”, Minggu (8), sebagai ruang merdeka bagi kader mengekspresikan diri melalui seni.

Suasana hangat dan penuh energi terasa sejak awal. Satu per satu penampil naik ke panggung, membawa cerita dan kegelisahan masing-masing.

Ada puisi yang dibacakan dengan suara bergetar, teatrikal yang menyentil realitas sosial, alunan musikalisasi puisi yang mengundang hening, hingga tarian yang menyatukan tradisi dan semangat muda. Semua menyatu dalam tema besar: Kebebasan Seni.

Bagi sebagian penonton, pertunjukan itu lebih dari sekadar hiburan. Seni menjadi bahasa lain untuk menyampaikan pesan moral, keislaman, dan problem mahasiswa hari ini. Ada tawa, ada tepuk tangan panjang, bahkan ada kepala yang mengangguk pelan, seolah menemukan dirinya sendiri dalam setiap penampilan.

Di balik panggung, kerja keras nyaris tak terlihat. Nazar, Ketua Teamwork kegiatan, menyebut Panggung Bebas sebagai buah dari totalitas dan kekompakan kader.

“Dengan persiapan hanya satu minggu, sahabat-sahabat LSO TUKUL, termasuk seluruh talent dari tari sampai akustik, bisa membuat acara yang keren dan sangat meriah,” ujar Nazar dengan nada bangga.

Antusiasme tak hanya datang dari internal PMII. Beberapa pengunjung dari luar organisasi turut menyemut di sekitar panggung, menambah semarak acara. Menurut Nazar, Panggung Bebas ini sekaligus menjadi penanda awal perjalanan TUKUL ke depan.

“Tema Kebebasan Seni ini menjadi identitas sekaligus grand opening untuk kegiatan-kegiatan LSO TUKUL selanjutnya,” tambahnya.

Melalui Panggung Bebas, TUKUL menegaskan posisinya sebagai penjaga ruang kreatif dan kultural di tubuh PMII. Di tengah rutinitas akademik dan dinamika pergerakan, seni dihadirkan sebagai napas—sekaligus jalan dakwah kultural—yang membumi, jujur, dan dekat dengan jiwa mahasiswa.

Dan sore itu, di depan Kopma Padang Bulan, seni benar-benar merdeka. ( Eno).