Muh Imam Multazami, S.Hum., Lc.: Menempa Diri di Humaniora UIN Malang , Menembus Lingkar Diplomasi Oman

1955633_11zon

Malang | Serulingmedia.com — Dunia diplomasi tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara. Di balik setiap komunikasi resmi, terdapat kemampuan membaca situasi, memahami karakter, menghormati perbedaan budaya, serta menyampaikan pesan secara tepat.

 

Kemampuan itulah yang kini menjadi bagian dari perjalanan Muh Imam Multazami, S.Hum., Lc., alumni Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang angkatan 2016 yang saat ini dipercaya menjalankan tugas sebagai Sekretaris Pribadi Duta Besar Oman.

Posisi tersebut menjadi babak penting dalam perjalanan profesional Imam. Lingkungan diplomatik mempertemukannya dengan berbagai karakter, kepentingan, dan latar belakang budaya.

 

Dalam situasi seperti itu, kemampuan komunikasi dan adaptasi menjadi modal yang tidak bisa ditawar.
Namun, perjalanan Imam menuju lingkungan internasional tidak lahir secara instan.

Ada proses panjang yang ditempa sejak dirinya menjadi mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Dari Ruang Kelas ke Dunia Internasional
Bagi Imam, kuliah di Fakultas Humaniora bukan sekadar perjalanan untuk memperoleh gelar akademik. Lingkungan kampus justru menjadi ruang untuk membangun cara berpikir.

Ia masih mengingat bagaimana para dosen Humaniora menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Materi perkuliahan tidak hanya disampaikan sebagai teori, tetapi dikemas agar mahasiswa mampu memahami persoalan secara lebih luas.

“Saya sangat bersyukur belajar di Fakultas Humaniora karena para dosennya begitu kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi. Metode pembelajaran yang mereka gunakan membuat ilmu lebih mudah dipahami sekaligus menginspirasi,” ungkap Imam.

Pengalaman tersebut membentuk kebiasaan berpikir yang kemudian dibawanya ketika memasuki dunia profesional.

Bagi seorang yang bekerja di lingkungan diplomatik, kemampuan memahami konteks menjadi sangat penting. Sebuah kalimat dapat memiliki makna berbeda ketika disampaikan dalam situasi, budaya, atau lingkungan yang berbeda.
Karena itu, kemampuan bahasa tidak berdiri sendiri.

Bahasa membutuhkan pemahaman budaya. Komunikasi membutuhkan kepekaan. Sementara profesionalisme membutuhkan kemampuan membaca keadaan.

Ketiga hal tersebut menjadi bagian dari bekal yang dirasakan Imam selama menempuh pendidikan di Fakultas Humaniora.

Humaniora sebagai Bekal Diplomasi

Ketika memasuki dunia kerja internasional, teori yang dahulu dipelajari di ruang kelas menemukan bentuk praktisnya.

Imam harus berhadapan dengan berbagai situasi yang menuntut komunikasi efektif, ketelitian, dan kemampuan beradaptasi. Sebagai Sekretaris Pribadi Duta Besar Oman, ia berada pada lingkungan yang memiliki standar komunikasi dan profesionalisme tinggi.

Peran tersebut sekaligus menempatkannya dalam ruang interaksi lintas budaya.
Menurut Imam, pengalaman belajar Humaniora membantunya memahami bahwa perbedaan bukanlah penghalang komunikasi. Sebaliknya, perbedaan harus dipahami agar komunikasi dapat berjalan secara efektif.

“Humaniora membekali saya bukan hanya dengan ilmu bahasa dan budaya, tetapi juga dengan cara berpikir yang kreatif dan terbuka. Itulah yang membuat saya mampu beradaptasi di dunia kerja internasional,” tambahnya.

Cara pandang tersebut menjadi penting dalam lingkungan diplomasi yang mempertemukan berbagai kepentingan dan latar belakang.

Di sana, kecerdasan akademik harus berjalan bersama kecerdasan sosial.

Bukan Sekadar Menguasai Bahasa

Banyak orang melihat lulusan humaniora identik dengan kemampuan bahasa dan sastra. Namun, perjalanan Imam menunjukkan bahwa kompetensi yang dibangun melalui pendidikan humaniora jauh lebih luas.

Ada kemampuan memahami manusia.
Ada kemampuan membaca budaya.
Ada kemampuan menyampaikan gagasan.
Ada pula keberanian untuk melihat persoalan dari berbagai perspektif.
Kemampuan tersebut semakin relevan ketika dunia kerja tidak lagi mengenal batas geografis secara ketat.

Profesional dapat bekerja dengan kolega dari berbagai negara. Pertemuan dapat berlangsung lintas budaya. Komunikasi dapat terjadi dalam berbagai bahasa dan konteks.
Dalam situasi tersebut, orang yang mampu menjadi jembatan komunikasi memiliki nilai strategis.

Imam menjadi salah satu contoh bagaimana kompetensi tersebut dapat berkembang menjadi modal profesional di lingkungan internasional.

Pesan dari Perjalanan Imam

Kiprah Imam sekaligus membawa pesan bagi mahasiswa dan generasi muda bahwa pilihan pendidikan tidak seharusnya dibatasi oleh stereotip mengenai jenis pekerjaan.

Lulusan humaniora tidak hanya dapat menjadi akademisi, pengajar, penulis, atau pekerja di sektor kebahasaan.

Mereka juga dapat memasuki dunia diplomasi, hubungan internasional, industri kreatif, lembaga pemerintahan, organisasi internasional, hingga berbagai sektor yang membutuhkan kemampuan komunikasi dan pemahaman lintas budaya.

Kuncinya adalah keberanian mengembangkan kompetensi dan membaca peluang.
Perjalanan Imam menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi fondasi, sementara pengalaman dan kemauan untuk terus belajar menjadi jalan untuk memperluas kesempatan.

Membawa Nama Almamater ke Panggung Global

Bagi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, keberhasilan alumninya berkiprah di lingkungan diplomatik internasional menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun lulusan yang adaptif dan berdaya saing.

Kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai disiplin ilmu, tetapi juga mendorong mahasiswa memiliki wawasan global.

Muh Imam Multazami adalah salah satu wajah dari proses tersebut.
Dari ruang-ruang kelas Humaniora, ia membawa bekal bahasa, budaya, komunikasi, dan keterbukaan berpikir menuju lingkungan kerja internasional.

Perjalanan itu menunjukkan satu hal sederhana, tetapi penting: humaniora bukan ilmu yang menjauhkan seseorang dari dunia kerja. Sebaliknya, humaniora mengajarkan seseorang memahami dunia sebelum mengambil peran di dalamnya.

Kini, ketika Imam menjalankan tugas di lingkungan diplomatik Oman, ilmu yang dahulu dipelajari di kampus menemukan ruang pengabdiannya.

Ia tidak hanya membawa nama pribadi.
Di balik kiprahnya, ada nama almamater yang ikut dibawa ke panggung internasional.
Dan dari perjalanan seorang alumni, mahasiswa Humaniora hari ini mendapatkan pesan bahwa mimpi untuk berkarier di dunia global bukan sesuatu yang terlalu jauh untuk diraih.(Eno).