Muh. Anwar Fu’ady: 15 Mahasiswa UIN Maliki Gerakkan Zero Waste, Ubah Kebiasaan Keluarga untuk Tekan Krisis Sampah
Malang I Serulingmedia.com – Mengurangi sampah dari rumah, mengubah perilaku keluarga, hingga membangun lingkungan bebas sampah menjadi sasaran gerakan pengabdian 15 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang di RW 12 Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Melalui program DESAMU (Desentralisasi Sampah Mulai dari Kamu), mahasiswa akan memperkuat pengelolaan sampah berbasis keluarga sekaligus mendorong terwujudnya RW 12 Zero Waste, Adaptif, Tangguh selama kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), Desember 2026 hingga Februari 2027.
Program ini menyasar persoalan yang selama ini kerap luput dari perhatian: sampah tidak hanya menumpuk karena keterbatasan fasilitas pengolahan, tetapi juga akibat perilaku masyarakat yang belum terbiasa mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah.
Muh. Anwar Fu’ady, dosen pembimbing lapangan, menilai pembangunan tempat pengolahan sampah dan penyediaan teknologi tidak akan menyelesaikan krisis lingkungan apabila keluarga masih menyerahkan seluruh tanggung jawab sampah kepada petugas kebersihan.
“Persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan membangun TPS atau menyediakan fasilitas pengolahan. Perubahan harus dimulai dari sumbernya, yakni individu dan keluarga. Selama masyarakat masih menganggap sampah sebagai urusan orang lain, persoalan ini tidak akan pernah benar-benar selesai,” ungkap Anwar dalam refleksinya memperingati Hari Ekologi Sedunia, Minggu 1 November 2026.
Pengalaman pengabdian bersama pengelola Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Permata Alam Ngijo menjadi pijakan pengembangan program tersebut. Inisiatif masyarakat yang semula lahir dari kondisi darurat sampah kini berkembang menuju edukasi lingkungan, pengelolaan sampah berbasis sekolah, dan gagasan ekonomi sirkular.
DESAMU, Memutus Rantai Persoalan Sampah dari Rumah
Dalam kegiatan pengabdian tersebut, Anwar berinteraksi dengan Faeshol Efendi, Ketua TPS3R Permata Alam Ngijo, bersama dua anggota tim penggerak, Fitra Agung Nugraha dan Feri I. Susanto.
Dari pertemuan tersebut, terlihat bagaimana inisiatif pengelolaan sampah tumbuh dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Kondisi darurat sampah mendorong mereka memulai pengolahan di TPS3R. Namun, upaya itu kemudian berkembang menjadi gagasan untuk membangun kesadaran dan keterlibatan warga secara lebih luas.
Salah satu gagasan yang disiapkan adalah DESAMU. Program ini menekankan bahwa pengelolaan sampah tidak boleh hanya dibebankan kepada petugas kebersihan atau pengelola TPS3R.
Setiap individu dan keluarga harus bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Pemilahan, pengurangan, penggunaan kembali, dan pengolahan sampah harus dimulai sebelum sampah meninggalkan rumah.
“Rumah tangga jangan hanya menjadi tempat menghasilkan sampah, kemudian menyerahkan seluruh persoalannya kepada petugas. Keluarga harus menjadi bagian dari solusi. Kebiasaan memilah, mengurangi, dan mengolah sampah perlu dibangun dari kehidupan sehari-hari,” kata Anwar.
Selama ini, pola pengelolaan sampah masih sering berorientasi pada pengangkutan. Sampah dianggap selesai ketika sudah diambil petugas, padahal persoalannya hanya berpindah lokasi.
Karena itu, DESAMU berupaya mengubah paradigma tersebut. Keluarga harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar produsen sampah yang menyerahkan seluruh persoalannya kepada pihak lain.
Sekolah Lestari dan Ekonomi Sirkular
Selain DESAMU, TPS3R Permata Alam Ngijo juga menggagas program Sekolah Lestari. Program ini dirancang untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah dan air secara terpadu di lingkungan pendidikan.
Sekolah diharapkan tidak hanya mengajarkan teori tentang pelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi ruang praktik bagi siswa dalam membangun kebiasaan ramah lingkungan.
Melalui pendekatan tersebut, pendidikan ekologi tidak berhenti di ruang kelas. Siswa didorong menerapkan perilaku menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh, TPS3R Permata Alam memiliki visi mengembangkan ekonomi sirkular melalui pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar.
Gagasan tersebut membuka peluang pemanfaatan sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Namun, realisasinya membutuhkan dukungan teknologi, investasi, kajian kelayakan, serta pengendalian dampak lingkungan.
Pengolahan plastik menjadi bahan bakar tidak otomatis menjamin proses yang ramah lingkungan. Aspek emisi, keamanan teknologi, efisiensi energi, dan pengelolaan residu harus diperhitungkan secara serius.
Bagi Anwar, hal menarik dari inisiatif TPS3R Permata Alam adalah perkembangannya. Gerakan yang semula lahir sebagai respons terhadap darurat sampah mulai bergerak menuju pemberdayaan masyarakat, pendidikan, dan inovasi lingkungan.
“Ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah sebenarnya bisa berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat. Bukan hanya bagaimana sampah diangkut dan diolah, tetapi bagaimana masyarakat terlibat, memperoleh pengetahuan, dan membangun inovasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ekoteologi Harus Terwujud dalam Tindakan
Gagasan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat tersebut juga memiliki relevansi dengan pendekatan ekoteologi yang dikembangkan Kementerian Agama.
Ekoteologi menghubungkan nilai keimanan dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestarian alam. Manusia tidak hanya memiliki hubungan dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga memikul amanah untuk merawat lingkungan sebagai bagian dari ciptaan-Nya.
Namun, kesadaran keagamaan tidak boleh berhenti pada ceramah, seminar, atau slogan. Nilai keimanan harus tercermin dalam tindakan konkret, termasuk cara manusia menggunakan sumber daya, mengonsumsi barang, dan memperlakukan sampah.
“Merawat lingkungan juga merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan. Kesadaran beragama seharusnya tidak hanya terlihat dalam hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga dalam bagaimana manusia memperlakukan alam,” tutur Anwar.
Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, gerakan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Pengurangan sampah, penggunaan kembali barang, daur ulang, dan pemanfaatan sumber daya merupakan bagian penting dari upaya membangun pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
15 Mahasiswa Perkuat RW 12 Zero Waste
Pengembangan gerakan lingkungan tersebut akan dilanjutkan melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang melibatkan 15 mahasiswa Fakultas Psikologi dan Fakultas Ushuluddin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Kegiatan dijadwalkan berlangsung mulai Desember 2026 hingga Februari 2027 di RW 12 Desa Ngijo.
Sebelum pelaksanaan, Anwar bersama mahasiswa melakukan survei awal pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Mereka bertemu dengan Ketua RW 12, Ahmad Fadillah, M.AB., untuk mengenali kondisi, kebutuhan, serta potensi masyarakat setempat.
Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa menemukan identitas gerakan lingkungan yang menarik, yakni tagline “RW 12 Zero Waste, Adaptif, Tangguh”.
Tagline tersebut menggambarkan arah pengembangan masyarakat yang ingin membangun lingkungan lebih bersih, memiliki kemampuan beradaptasi, serta tangguh menghadapi berbagai persoalan.
Tantangannya adalah bagaimana menjadikan identitas tersebut sebagai gerakan nyata. Zero waste tidak cukup dituliskan di papan informasi atau disampaikan dalam kegiatan seremonial. Gerakan itu harus dibuktikan melalui kebiasaan warga dalam mengurangi, memilah, dan mengolah sampah.
Anwar menegaskan, mahasiswa tidak sekadar datang membawa program dari kampus, tetapi harus mampu memperkuat inisiatif yang sudah tumbuh di masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa belajar dari masyarakat, mengenali potensi yang sudah ada, kemudian bersama-sama mengembangkan program yang benar-benar dibutuhkan. Pengabdian bukan datang untuk menggurui masyarakat, melainkan membangun perubahan bersama masyarakat,” jelasnya.
Perubahan Perilaku Lebih Sulit daripada Membangun Fasilitas
Sebagai dosen psikologi, Anwar melihat persoalan sampah dari perspektif perubahan perilaku manusia.
Fasilitas pengolahan sampah, tempat pemilahan, hingga maggot station memang penting. Namun, seluruh sarana tersebut tidak akan berfungsi optimal apabila masyarakat tidak memiliki kesadaran dan kebiasaan untuk menggunakannya.
Seseorang bisa mengetahui bahwa sampah harus dipilah, tetapi belum tentu bersedia melakukannya. Sebuah keluarga bisa memahami pentingnya kebersihan lingkungan, tetapi belum tentu memiliki kesepakatan untuk menjalankan kebiasaan tersebut.
Perubahan perilaku lingkungan berkaitan dengan pengetahuan, sikap, motivasi, kebiasaan, norma keluarga, komunikasi, dan dukungan sosial.
“Mengetahui bahwa sampah harus dipilah tidak otomatis membuat seseorang mau memilahnya. Di sinilah pendekatan psikologi menjadi penting. Kita harus membangun motivasi, kebiasaan, kesepakatan keluarga, dan dukungan sosial agar perilaku ramah lingkungan bisa bertahan,” papar Anwar.
Karena itu, edukasi lingkungan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan tentang perbedaan sampah organik dan anorganik. Keterlibatan seluruh anggota keluarga, pembagian tanggung jawab, dan pembentukan kebiasaan harus menjadi perhatian.
Keluarga bukan hanya sasaran pendidikan lingkungan, melainkan aktor utama perubahan sosial.
Pengabdian Kampus Jangan Berhenti pada Laporan
Anwar juga menekankan pentingnya kesinambungan program pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti setelah mahasiswa menyelesaikan tugas atau laporan akhir.
Program KKM di RW 12 dirancang untuk melanjutkan dan memperkuat inisiatif yang sudah tumbuh di masyarakat.
Mahasiswa tidak datang dengan anggapan bahwa warga belum memiliki pengetahuan dan kemampuan. Sebaliknya, mereka harus belajar mengenali pengalaman, potensi, serta praktik baik yang telah dikembangkan masyarakat.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa. Teori yang diperoleh di bangku kuliah diuji melalui interaksi langsung dengan persoalan kehidupan masyarakat.
“Keberhasilan pengabdian tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak kegiatan yang terlaksana atau laporan yang diselesaikan. Yang jauh lebih penting adalah apakah masyarakat merasakan manfaatnya dan apakah perubahan itu tetap berjalan setelah mahasiswa menyelesaikan KKM,” tegasnya.
Keberhasilan pengabdian, dengan demikian, tidak semata-mata diukur dari jumlah kegiatan, dokumentasi, atau laporan administratif. Ukuran yang lebih penting adalah keberlanjutan program dan perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.
Merawat Ekologi Tidak Cukup dengan Slogan
Momentum Hari Ekologi Sedunia, 1 November 2026, menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak bisa terus-menerus dibebankan kepada pemerintah, petugas kebersihan, maupun pengelola TPS3R.
Masyarakat juga harus mengambil tanggung jawab. Mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik, dan membangun kesepakatan keluarga untuk menjaga kebersihan merupakan langkah konkret yang bisa dilakukan.
Pengalaman pengabdian di RW 12 Desa Ngijo memperlihatkan bahwa teknologi dan fasilitas memang dibutuhkan. Namun, kesadaran manusia menentukan apakah semua itu dapat berjalan secara berkelanjutan.
Jika keluarga masih menganggap sampah sebagai urusan orang lain, gerakan zero waste hanya akan menjadi slogan. Sebaliknya, ketika setiap rumah tangga mengambil tanggung jawab, perubahan lingkungan memiliki fondasi yang lebih kuat.
Krisis sampah pada akhirnya bukan hanya persoalan tentang ke mana sampah dibuang, tetapi juga tentang bagaimana manusia memproduksi, mengonsumsi, dan mempertanggungjawabkan sisa aktivitas kehidupannya.
Bumi tidak kekurangan slogan kepedulian. Yang masih dibutuhkan adalah keberanian manusia mengubah perilakunya, dimulai dari rumah sendiri. ( Eno)
