Membaca Huda Sha’rawi, Membongkar Stereotip Perempuan Arab
Dosen UIN Malang M. Anwar Mas’adi menilai feminisme Arab lahir dari pergulatan kolonialisme, pendidikan, dan nasionalisme, bukan sekadar isu kesetaraan gender.
“Banyak orang memahami perempuan Arab hanya dari potongan-potongan informasi. Padahal setiap gerakan sosial lahir dari konteks sejarah, budaya, dan politik yang berbeda,” kata dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu saat membedah buku Neraka di Harem, terjemahan autobiografi tokoh feminis Mesir Huda Sha’rawi, di Ruang Baca dan Toko Buku Rendezvous Kalimetro, Kota Malang, 19 Juli 2026 lalu.
Bagi Anwar, autobiografi Huda Sha’rawi layak dibaca bukan semata sebagai kisah hidup seorang perempuan, melainkan sebagai dokumen sejarah yang memperlihatkan bagaimana kolonialisme, kebangkitan nasionalisme, dan perubahan sosial membentuk wajah gerakan perempuan Mesir pada awal abad ke-20.
Selama ini, kata dia, feminisme Arab sering ditempatkan dalam kerangka dikotomis: antara tradisi dan modernitas atau antara agama dan kebebasan. Padahal pengalaman sejarah menunjukkan persoalannya jauh lebih rumit. Gerakan perempuan di Mesir berkembang bersamaan dengan perjuangan melawan kolonialisme Inggris dan upaya membangun identitas bangsa.
“Perjuangan Huda Sha’rawi tidak hanya berbicara tentang hak perempuan, tetapi juga tentang pendidikan, kemerdekaan bangsa, dan keterlibatan perempuan dalam membangun masyarakat,” ujarnya.
Pandangan tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa feminisme Arab sekadar meniru gerakan perempuan Barat. Menurut Anwar, setiap kawasan memiliki pengalaman sejarah yang melahirkan bentuk perjuangan berbeda. Karena itu, memahami feminisme Arab membutuhkan pembacaan yang berpijak pada realitas Timur Tengah, bukan semata menggunakan perspektif Eropa atau Amerika.
Analisis itu menjadi penting di tengah derasnya arus informasi digital yang sering menyajikan Timur Tengah secara hitam-putih. Konflik politik, simbol keagamaan, hingga cara berpakaian perempuan kerap dijadikan representasi tunggal kehidupan masyarakat Arab. Akibatnya, ruang untuk memahami dinamika intelektual dan sejarah kawasan tersebut menjadi semakin sempit.
Melalui Neraka di Harem, Huda Sha’rawi justru menunjukkan wajah lain Timur Tengah. Perempuan tampil sebagai aktor perubahan yang aktif memperjuangkan pendidikan, membangun organisasi sosial, hingga ikut menggerakkan kesadaran kebangsaan. Mereka bukan sekadar korban sistem sosial, melainkan bagian dari proses transformasi masyarakat.
Anwar menilai penerjemahan karya-karya seperti Neraka di Harem memiliki arti strategis bagi dunia akademik Indonesia. Terjemahan membuka akses terhadap pengalaman sejarah bangsa lain sekaligus memperluas cakrawala pembaca dalam memahami isu-isu global secara lebih objektif.
“Literasi lintas budaya menjadi sangat penting agar kita tidak terjebak pada prasangka. Buku seperti ini membantu pembaca melihat bahwa dunia Arab memiliki dinamika pemikiran yang kaya dan beragam,” katanya.
Menurut Anwar, gagasan Huda Sha’rawi tetap relevan hingga kini. Persoalan pendidikan perempuan, akses terhadap ruang publik, kesempatan berorganisasi, hingga penguatan kapasitas perempuan masih menjadi tantangan di banyak negara. Perbedaannya hanya terletak pada konteks sosial dan bentuk perjuangannya.
Bagi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kajian terhadap karya sastra, autobiografi, dan pemikiran tokoh dunia merupakan bagian dari penguatan tradisi ilmu humaniora. Pendekatan interdisipliner yang menggabungkan sejarah, bahasa, budaya, dan kajian kawasan diyakini mampu menghasilkan pembacaan yang lebih utuh terhadap berbagai persoalan global.
Diskusi buku semacam ini juga menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang dialog publik. Melalui keterlibatan dosen dalam forum literasi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berupaya menghadirkan diskursus yang lebih kritis, berbasis riset, dan mampu menjembatani pemahaman masyarakat terhadap isu-isu internasional yang selama ini sering dipenuhi prasangka.
Di tengah menguatnya polarisasi informasi global, membaca kembali pengalaman Huda Sha’rawi menjadi pengingat bahwa sejarah tidak pernah sesederhana narasi yang beredar di media sosial. Sejarah selalu menyimpan konteks, dan konteks itulah yang, menurut Anwar Mas’adi, harus dipahami sebelum memberi penilaian terhadap perjalanan perempuan di dunia Arab. ( Eno)






