Hari Jadi ke-25 Kota Batu, Pasar Among Tani Rp166 Miliar Megah, Pedagang Mengeluh Sepi
Batu | Serulingmedia.com – Sepinya pembeli di Pasar Induk Among Tani dikeluhkan pedagang karena berdampak langsung pada pendapatan dan keberlangsungan usaha mereka. Di tengah peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu, Muhammad Ali Zubaidi mempertanyakan manfaat pasar senilai sekitar Rp166 miliar itu bagi pedagang kecil yang masih kesulitan menarik pembeli.
Ali menilai, kemegahan bangunan belum menjamin aktivitas perdagangan berjalan ramai. Ia juga menyoroti akses menuju lapak yang dinilainya menyulitkan sebagian pembeli, terutama warga lanjut usia.
“Kota Batu hari ini ulang tahun ke-25. Kota sudah megah, jalan mulus, hotel berjejer, wisata mendunia. Kami ikut bangga. Tapi saya mau tanya, Pak, 25 tahun Kota Batu berdiri, yang menjaga perut warganya dari dulu siapa? Kami pedagang pasar,” ungkap Ali.

Ia membandingkan kondisi pasar lama yang becek tetapi ramai dengan pasar saat ini yang menurut pengalamannya justru sepi.
“Dulu pasar kami becek, tetapi ramai. Sekarang gedungnya megah Rp166 miliar, tetapi lapak kami sepi. Simbok-simbok, ibu-ibu, dan bapak-bapak tidak kuat naik tangga,” tuturnya.
Bagi Ali, sepinya pasar bukan sekadar persoalan jumlah pengunjung, melainkan menyangkut penghasilan pedagang dan kemampuan mereka mempertahankan usaha. Karena itu, peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi apakah pembangunan fasilitas publik benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pemerintah Kota Batu bersama pengelola pasar perlu mengevaluasi kemudahan akses, tata ruang, penempatan pedagang, serta pola kunjungan pembeli. Data jumlah pengunjung, keterisian lapak, dan perkembangan omzet juga penting untuk mengidentifikasi persoalan serta menentukan langkah pembenahan.
Momentum Hari Jadi ke-25 Kota Batu dengan tema “Bangkit Bersama Jaga Alam Raya untuk mBatu SAE Berkelanjutan” diharapkan tidak berhenti pada perayaan dan kemegahan pembangunan. Semangat bangkit bersama perlu dirasakan pula oleh pedagang pasar, petani, dan pelaku usaha kecil yang menopang ekonomi masyarakat.
“Di ulang tahun ke-25 ini, harapan saya cuma satu: jangan lupakan kami. Kami tidak minta gedung lebih megah. Kami cuma minta pasar yang mudah didatangi simbok, ibu, dan bapak,” kata Ali.
Keluhan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan Pasar Among Tani tidak cukup diukur dari nilai investasinya. Di usia seperempat abad Kota Batu, pasar itu perlu dibuktikan mampu menghidupkan transaksi, meningkatkan pendapatan pedagang, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.( Eno)
