Prof. Candra Fajri Ananda: Ekonomi Kota Batu Tumbuh, Pemerataan Manfaat Pembangunan Jadi Tantangan

2188681_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Seperempat abad perjalanan Kota Batu sebagai daerah otonom menandai transformasi ekonomi yang luar biasa.

 

Namun, di balik berkembangnya sektor pariwisata, perhotelan, perdagangan, dan jasa, muncul tantangan mendasar: sejauh mana pertumbuhan ekonomi tersebut telah memberikan manfaat yang merata bagi seluruh masyarakat?

 

Pertanyaan ini menjadi relevan ketika struktur ekonomi Kota Batu semakin bergeser dari pertanian dan perkebunan menuju sektor jasa.

 

Di satu sisi, perkembangan pariwisata membuka peluang investasi, lapangan kerja, dan sumber pendapatan baru.

 

Di sisi lain, perubahan tersebut menuntut kesiapan sumber daya manusia (SDM), perlindungan lahan pertanian, serta kebijakan yang memastikan masyarakat lokal tidak tertinggal di tengah pesatnya pembangunan.

Prof. Dr. Candra Fajri Ananda, S.E., M.Sc., dalam refleksinya menyambut Hari Jadi ke-25 Kota Batu, menilai perubahan struktur ekonomi tersebut perlu diikuti penyesuaian arah pembangunan, terutama dalam pengembangan SDM, modernisasi pertanian, dan penguatan tata kelola pemerintahan yang berkelanjutan.

Menurut Candra, kemajuan Kota Batu tidak bisa dilepaskan dari perubahan basis ekonominya. Aktivitas ekonomi yang dahulu bertumpu pada pertanian dan perkebunan kini semakin mengarah pada sektor jasa, seperti perhotelan, perdagangan, dan pariwisata.

“Batu telah mengalami transformasi dan kemajuan luar biasa, terutama di bidang perekonomian. Kegiatan ekonomi yang dulu berbasis pada pertanian dan perkebunan sekarang sudah mengarah pada sektor jasa,” ujar Candra.

Perubahan tersebut, menurutnya, harus menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk merancang kebijakan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan masa depan Kota Batu.

 

Pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya mendorong berkembangnya sektor unggulan, tetapi juga harus mempersiapkan masyarakat agar mampu mengambil bagian dalam perubahan tersebut.

SDM Harus Mengikuti Arah Transformasi Ekonomi

Pergeseran ekonomi menuju sektor jasa membawa konsekuensi terhadap kebutuhan tenaga kerja. Industri pariwisata, perhotelan, dan perdagangan memerlukan SDM yang memiliki keterampilan, kompetensi, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Karena itu, pengembangan SDM perlu diarahkan pada kebutuhan riil dan prospek ekonomi Kota Batu. Pendidikan dan pelatihan harus mampu memperluas kesempatan masyarakat lokal untuk mengakses pekerjaan dan peluang usaha yang tumbuh seiring perkembangan pariwisata.

Namun, transformasi tersebut tidak boleh membuat sektor pertanian kehilangan perhatian. Petani dan pelaku usaha berbasis pertanian tetap membutuhkan dukungan agar mampu meningkatkan produktivitas dan memperoleh nilai tambah dari hasil usahanya.

Di sinilah tantangan pemerataan pembangunan muncul. Ketika sektor jasa berkembang semakin pesat, pemerintah perlu memastikan bahwa masyarakat yang masih menggantungkan hidup pada pertanian juga memiliki kesempatan untuk berkembang.

Pertumbuhan ekonomi yang inklusif bukan sekadar memperbesar aktivitas usaha, melainkan memperluas akses masyarakat terhadap keterampilan, modal, teknologi, pasar, dan kesempatan ekonomi.

Pertanian Modern di Tengah Penyusutan Lahan

Candra menyoroti pentingnya inovasi untuk mempertahankan daya saing sektor pertanian Kota Batu. Penyusutan lahan pertanian menuntut perubahan metode produksi agar hasil pertanian tetap mampu memberikan nilai ekonomi yang memadai.

“Pertanian selain diharapkan mampu mendorong nilai tambah dengan memasukkan unsur teknologi, perlu dipikirkan penggunaan metode baru dalam pengembangan sektor pertanian melalui greenhouse atau semacamnya, karena jumlah lahan yang terus tergerus,” kata Candra.

Gagasan tersebut menempatkan teknologi sebagai salah satu instrumen untuk menjawab keterbatasan lahan.

 

Melalui sistem greenhouse dan metode budidaya modern lainnya, petani berpeluang mengoptimalkan produksi, meningkatkan kualitas hasil panen, serta mengelola proses budidaya secara lebih terukur.

Meski demikian, modernisasi pertanian membutuhkan dukungan kebijakan yang konkret. Pemerintah daerah perlu mempertimbangkan akses petani terhadap pembiayaan, pendampingan teknis, teknologi yang sesuai dengan kemampuan mereka, serta kepastian pasar.

Tanpa dukungan tersebut, teknologi berisiko hanya dapat diakses oleh pelaku usaha bermodal kuat. Akibatnya, modernisasi yang seharusnya meningkatkan kesejahteraan petani justru berpotensi memperlebar kesenjangan di antara pelaku usaha pertanian.

Karena itu, peningkatan produktivitas perlu berjalan beriringan dengan perlindungan lahan pertanian. Teknologi dapat membantu mengoptimalkan lahan yang tersedia, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk menjaga keberadaan lahan produktif dari tekanan alih fungsi.

Pemerintah Harus Mengubah Pola Kerja

Selain transformasi ekonomi dan penguatan pertanian, Candra menekankan pentingnya perubahan pola kerja pemerintah daerah.

 

Pemerintah Kota Batu dituntut mampu mengawal gagasan pembangunan baru sekaligus memastikan pelaksanaannya berpijak pada prinsip keberlanjutan dan kebutuhan masyarakat.

“Pemerintah Kota Batu yang mengawal seluruh ide pembangunan yang baru, perlu terus bergerak dan mengubah pola kerja yang lebih berorientasi pada pembangunan berkelanjutan dan pelibatan masyarakat yang lebih intens, partisipatif dan akuntabel,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan tidak cukup hanya dirancang dan dijalankan oleh pemerintah. Masyarakat perlu dilibatkan secara lebih intensif, mulai dari proses perencanaan hingga pengawasan pelaksanaan program.

Pelibatan warga penting agar kebijakan yang diambil tidak berhenti pada target administratif, tetapi menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

 

Sementara itu, akuntabilitas diperlukan untuk memastikan penggunaan anggaran dan pelaksanaan program dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan hasil yang terukur.

Dalam konteks Kota Batu, pendekatan tersebut penting untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

 

Perkembangan pariwisata tidak boleh mengabaikan kebutuhan warga terhadap lingkungan yang sehat, ruang hidup yang nyaman, dan kesempatan ekonomi yang adil.

Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan mempertimbangkan dampak jangka panjang, termasuk terhadap lahan pertanian, lingkungan, serta keberlangsungan usaha masyarakat lokal.

Hari Jadi ke-25, Momentum Mengukur Pemerataan

Peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi bukan hanya capaian pembangunan, tetapi juga distribusi manfaat yang dihasilkan.

Kemajuan ekonomi perlu diterjemahkan ke dalam indikator yang dirasakan langsung oleh masyarakat, seperti meningkatnya kesempatan kerja, berkembangnya usaha lokal, membaiknya kesejahteraan petani, terbukanya akses terhadap pelatihan, serta terjaganya kualitas lingkungan.

Tantangan Kota Batu bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan pariwisata, melainkan memastikan transformasi ekonomi tersebut tidak meninggalkan kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap peluang baru.

Dalam pandangan Candra, arah pembangunan yang berkelanjutan, penguatan SDM, pemanfaatan teknologi, dan pelibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk membawa Kota Batu menuju masa depan yang lebih baik.

Ia berharap peringatan hari jadi tersebut menjadi dorongan bagi Kota Batu untuk terus berkembang sekaligus menciptakan kenyamanan bagi seluruh warganya.

“Semoga dengan harlah Kota Batu, Batu semakin nyaman bagi seluruh masyarakat atau warga Kota Batu, SAE bagi semua,” tutur Candra.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak semata-mata ditentukan oleh pesatnya pertumbuhan ekonomi atau bertambahnya destinasi wisata.

 

Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana kemajuan itu memperluas kesejahteraan, menjaga lingkungan, dan membuka kesempatan yang setara bagi masyarakat.

Pada usia ke-25, Kota Batu menghadapi pilihan strategis: menjadikan transformasi ekonomi sebagai pertumbuhan yang dinikmati sebagian kelompok, atau mengarahkannya menjadi kemajuan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan dirasakan seluruh warga.

Semangat SAE bagi semua pada akhirnya harus dibuktikan melalui kebijakan yang terukur, partisipatif, dan berpihak pada keberlanjutan kehidupan masyarakat Kota Batu. ( Eno)