Gubernur NTB Sabet UB Halal Metric Award 2026, Klaim Lonjakan Produk Halal Capai 22 Ribu Lebih

1388866_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Iqbal, meraih penghargaan bergengsi dalam ajang Indonesia Halal Ecosystem Summit & UB Halal Metric Award 2026 yang digelar di Auditorium Algoritma, Gedung Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Brawijaya, Senin (5/5/2026).

 

Kegiatan yang mengusung tema “Orchestrating the Halal Ecosystem: Bridging Research, Infrastructure, and Policy” ini merupakan penyelenggaraan ketiga sejak pertama kali digelar pada 2024, dan menjadi forum strategis dalam memperkuat sinergi pengembangan ekosistem halal di Indonesia.

 

Usai menerima penghargaan, Iqbal menegaskan bahwa NTB telah lama membangun fondasi ekosistem halal sejak era kepemimpinan Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB).

 

Saat ini, kata dia, pemerintah provinsi tinggal memperkuat dan mengembangkan sistem yang sudah terbentuk.

 

“Di institusi keuangan kami semua sudah berbasis syariah. Dalam lima tahun terakhir, produk halal di NTB meningkat hampir 2000 persen. Dari tahun 2021 hanya 52 produk, sekarang sudah lebih dari 22 ribu,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Imam Santoso menjelaskan bahwa UB Halal Metric merupakan instrumen pengukuran komprehensif terhadap komitmen institusi dalam membangun ekosistem halal.

 

“Penilaian mencakup berbagai dimensi seperti infrastruktur, kebijakan, riset, pendidikan, hingga aspek pendukung lainnya,” jelasnya.

 

Ia menegaskan bahwa UB menjadi pionir dalam pengembangan halal metric tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga global, dengan pendekatan yang holistik dalam menilai kesiapan institusi.

 

Ketua Pelaksana, Jhauharotul Muchlisyiyah mengungkapkan bahwa jumlah institusi yang dinilai pada tahun 2026 meningkat signifikan menjadi sekitar 300 institusi dari seluruh Indonesia, atau masing-masing 100 institusi di sektor industri, pemerintahan, dan perguruan tinggi.

 

“Peningkatan ini menunjukkan kesadaran yang semakin tinggi terhadap pentingnya ekosistem halal yang terukur dan terstandarisasi,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, UB Halal Metric berbeda dengan sertifikasi halal pada umumnya. Pendekatan yang digunakan lebih menekankan pada kesiapan sistem secara menyeluruh, mulai dari kebijakan, inovasi, edukasi, hingga infrastruktur.

 

“Ketika sistemnya sudah terjamin halal dan thayyib, masyarakat tidak perlu lagi memeriksa satu per satu produk. Jaminan itu sudah melekat pada sistem,” jelasnya.

 

Dalam pelaksanaannya, penilaian dilakukan melalui dua mekanisme, yakni self-reporting oleh institusi serta verifikasi langsung oleh tim UB menggunakan indikator akademik yang terukur.

 

Melalui forum ini, Universitas Brawijaya menegaskan perannya tidak hanya sebagai institusi pendidikan dan riset, tetapi juga sebagai motor penggerak dalam merumuskan standar global pengembangan ekosistem halal yang inklusif dan berkelanjutan. ( Eno).