Dr. Hj. Sri Lestari Poernomo Soroti Arah Pendidikan Tinggi: Dari Seremonial Menuju Transformasi Nyata

Dosen Makasar_11zon

Makassar | Serulingmedia.com – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kembali menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen bangsa untuk meninjau arah dan kualitas pendidikan di Indonesia. Momentum ini dinilai tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan harus dimaknai sebagai ruang refleksi kritis terhadap relevansi pendidikan dengan kebutuhan zaman.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Hj. Sri Lestari Poernomo, S.H., M.H., dosen tetap Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) sekaligus pengajar pada Program Pascasarjana UMI Makassar. Ia menekankan bahwa pendidikan hari ini dihadapkan pada tantangan besar akibat pesatnya perkembangan teknologi, perubahan lanskap dunia kerja, serta meningkatnya kompleksitas persoalan sosial.

Menurutnya, pendidikan tinggi tidak lagi cukup berperan sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan semata. Kampus harus mampu bertransformasi menjadi ruang strategis dalam membentuk pola pikir kritis, karakter, etika, serta keterampilan mahasiswa yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

“Perguruan tinggi harus adaptif. Tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan kemampuan menghadapi perubahan,” ujarnya.

Dalam analisisnya, Sri Lestari menilai bahwa salah satu kunci utama transformasi pendidikan terletak pada peran dosen. Dosen memiliki posisi strategis sebagai penggerak utama proses pembelajaran yang berkualitas. Oleh karena itu, peran dosen tidak bisa lagi terbatas sebagai penyampai materi di ruang kelas.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa dosen harus berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran yang mendorong dialog kritis, pembimbing akademik yang memahami kebutuhan mahasiswa, pengarah riset yang relevan dengan persoalan nyata, serta teladan dalam integritas dan profesionalisme.

“Dosen dituntut untuk terus memperbarui materi perkuliahan agar selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan dunia kerja. Selain itu, pendekatan pembelajaran juga harus lebih kontekstual dan aplikatif,” tambahnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keterkaitan antara dunia akademik dengan realitas sosial. Menurutnya, riset yang dilakukan di perguruan tinggi harus mampu memberikan solusi konkret terhadap persoalan masyarakat, bukan sekadar memenuhi tuntutan administratif atau akademik semata.

Dalam konteks ini, Sri Lestari mendorong adanya kolaborasi yang lebih kuat antara kampus, pemerintah, dunia industri, dan masyarakat. Sinergi ini diyakini dapat mempercepat lahirnya inovasi serta meningkatkan relevansi lulusan di dunia kerja.

Hardiknas, lanjutnya, seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berorientasi masa depan. Ia mengingatkan bahwa tanpa pembenahan yang serius, pendidikan berpotensi tertinggal dari laju perubahan global.

“Pendidikan adalah investasi jangka panjang bangsa. Jika tidak dikelola dengan serius dan visioner, kita akan kesulitan bersaing di tingkat global,” tegasnya.

Dengan refleksi ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan dapat bergerak bersama untuk memastikan bahwa pendidikan di Indonesia benar-benar mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi kemajuan bangsa.( Yah/Eno)