Sepuluh Tahun FKIK UIN Malang: Menanam Ilmu, Menumbuhkan Harapan bagi Kesehatan Masyarakat
Malang | Serulingmedia.com – Membangun fakultas kedokteran di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam bukanlah perjalanan yang singkat.
Ada kesabaran para perintis, kerja keras para pendidik, dan harapan masyarakat yang tumbuh bersama setiap langkahnya.
Sepuluh tahun perjalanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi bagian dari perjalanan panjang universitas yang kini memasuki usia ke-65 tahun.
Dari sebuah gagasan dalam Pohon Ilmu, FKIK tumbuh menjadi tempat lahirnya calon dokter dan tenaga farmasi yang diharapkan tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap sesama.
Dekan FKIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati, M.Kes., Sp.Rad(K), memandang momentum Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII universitas sebagai kesempatan untuk bersyukur sekaligus menengok kembali perjalanan fakultas yang dipimpinnya.
“Sepuluh tahun FKIK adalah bukti bahwa akar itu mulai kokoh. Tugas kita bersama pada usia ke-65 ini adalah memastikan cabangnya terus tumbuh, buahnya dirasakan masyarakat, dan naungannya meluas hingga ke tingkat dunia,” demikian refleksi Yuyun tentang perjalanan FKIK.
Berawal dari Benih yang Ditanam dengan Kesabaran
Perjalanan FKIK sesungguhnya telah dimulai sebelum fakultas tersebut berdiri pada 2016. Program Studi Farmasi menerima mahasiswa angkatan pertama pada 2013, setelah memperoleh izin dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam pada akhir 2012.
Langkah berikutnya adalah mempersiapkan pendidikan dokter. Universitas menjalin kerja sama pembinaan dengan RS Tingkat II dr. Soepraoen Malang dan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS).
Upaya tersebut berlanjut dengan visitasi pendirian Program Studi Pendidikan Dokter pada Januari 2016.
Di bawah kepemimpinan dekan pertama, dr. Bambang Pardjianto, Sp.B., Sp.BP-RE(K), fondasi akademik dan budaya fakultas mulai dibangun.
Yuyun menyadari bahwa capaian yang dinikmati FKIK saat ini tidak lahir secara instan. Ada proses panjang yang dilalui para pendahulu, mulai dari menyiapkan sistem pendidikan, membangun jejaring, hingga menumbuhkan kepercayaan terhadap institusi yang relatif muda.
“ Kami yang datang kemudian hanyalah meneruskan tanaman yang telah ditanam dengan penuh kesabaran,” ungkapnya dalam refleksi perjalanan fakultas.
Dari Akreditasi Menuju Kepercayaan Masyarakat
Perkembangan FKIK terlihat dari capaian mutu pendidikan. Pada 2022, Program Studi Pendidikan Dokter memperoleh akreditasi Baik Sekali, sedangkan Program Studi Profesi Dokter meraih akreditasi Baik.
Perjalanan tersebut berlanjut setelah asesmen lapangan LAM-PTKes pada 24–28 Februari 2025. Kedua program studi itu kemudian memperoleh Akreditasi Unggul.
Bagi Yuyun, pencapaian tersebut patut disyukuri, tetapi tidak boleh membuat seluruh sivitas akademika berpuas diri. Akreditasi bukanlah tujuan akhir, melainkan tanggung jawab untuk terus memberikan pendidikan yang bermutu.
Ukuran keberhasilan pendidikan kedokteran, menurut dia, pada akhirnya tercermin dari kompetensi dan karakter lulusannya.
FKIK mencatat hasil menggembirakan ketika lulusan pertama Program Profesi Dokter lulus uji kompetensi tanpa peserta yang harus mengulang. Tradisi tersebut berlanjut pada Januari 2026, ketika seluruh peserta kembali dinyatakan lulus.
Pada Juli 2026, sebanyak 21 dokter baru mengucapkan Sumpah Dokter Periode XI. Mereka menjadi bagian dari harapan bahwa pendidikan kedokteran yang relatif muda dapat menghasilkan tenaga medis yang siap mengabdi kepada masyarakat.
Prestasi alumni juga mulai terlihat di tingkat nasional. Salah seorang alumni meraih penghargaan presentasi oral terbaik dalam Kongres Nasional PABI VII pada 2025. Setahun sebelumnya, pada 2023, FKIK dipercaya menjadi tuan rumah Forum Dekan Asosiasi Fakultas Kedokteran Negeri Indonesia (AFKNI).
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan sebuah institusi tidak semata-mata diukur dari usia, melainkan juga dari kemampuannya membangun mutu dan kepercayaan.
Enam Program Studi, Enam Jalan Pengabdian
Pertumbuhan FKIK juga ditandai dengan bertambahnya jenjang pendidikan. Setelah Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker dibuka pada 2022, universitas memperoleh izin pembukaan Magister Farmasi dan Magister Ilmu Biomedik pada 2025.
Kini, FKIK mengelola enam program studi, yakni Sarjana Farmasi, Profesi Apoteker, Magister Farmasi, Pendidikan Dokter, Profesi Dokter, dan Magister Ilmu Biomedik.
Kehadiran Maliki Apotek sebagai apotek pendidikan sejak Juni 2025 turut memperluas ruang pembelajaran mahasiswa. Melalui fasilitas tersebut, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kuliah dan laboratorium, tetapi juga semakin dekat dengan kebutuhan pelayanan kefarmasian masyarakat.
Meski demikian, Yuyun mengingatkan bahwa perjalanan menuju mutu yang merata masih membutuhkan kerja keras. Keunggulan tidak boleh berhenti pada program studi yang lebih dahulu berkembang, sementara program studi lain masih berproses.
Seluruh program studi harus bergerak bersama untuk membangun budaya akademik yang kuat, memperbarui kurikulum, meningkatkan kapasitas dosen, serta memperkuat sistem penjaminan mutu.
Kemitraan dengan rumah sakit pendidikan, termasuk RSUD Karsa Husada Batu dan RSUD Kota Malang, juga perlu dikembangkan menjadi ekosistem akademik yang utuh.
Rumah sakit bukan sekadar tempat mahasiswa menjalani praktik klinis, melainkan ruang untuk belajar memahami pasien, mengembangkan ilmu, dan menumbuhkan empati.
Menjaga Ilmu agar Tetap Berpihak kepada Manusia
Di tengah tuntutan kompetensi, publikasi ilmiah, dan pencapaian akreditasi, Yuyun menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari pendidikan kesehatan.
Baginya, dokter dan apoteker lulusan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang harus memiliki keunggulan ilmu sekaligus kepribadian Ulul Albab.
Mereka diharapkan menjadi tenaga kesehatan yang cerdas, jujur, rendah hati, dan mampu memandang pasien sebagai manusia yang harus dihormati, bukan sekadar kasus medis.
Pandangan tersebut menjadi penting ketika dunia kesehatan semakin berkembang dengan dukungan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Kemajuan alat diagnostik maupun metode pengobatan tetap membutuhkan kepekaan manusiawi agar pelayanan kesehatan tidak kehilangan sentuhan kemanusiaannya.
Komitmen terhadap pengembangan ilmu juga perlu diperkuat melalui penelitian dan publikasi yang memberikan dampak nyata. Sepanjang 2025–2026, Yuyun mengupayakan penerbitan lima buku ber-ISBN dan 12 buku saku di bidang pencitraan medis.
Upaya itu diharapkan dapat menjadi contoh bagi dosen FKIK untuk terus berkarya, berbagi pengetahuan, dan mengembangkan budaya akademik yang produktif.
Mempertemukan Sains, Islam, dan Kebutuhan Masyarakat
Ke depan, Yuyun membayangkan FKIK berkembang menjadi rujukan pendidikan kedokteran dan kesehatan integratif. Dalam konsep tersebut, sains dan nilai-nilai Islam tidak ditempatkan sebagai dua hal yang terpisah, melainkan saling menguatkan dalam cara memahami kesehatan dan merawat manusia.
Kekhasan itu mulai dirintis melalui pengembangan farmasi halal, kefarmasian dan kesehatan haji, serta Magister Ilmu Biomedik dengan paradigma ekoteologi yang memiliki keunggulan pada bidang penuaan dan penyakit degeneratif.
Fokus tersebut memiliki relevansi dengan kebutuhan Indonesia. Setiap tahun, jutaan umat Islam di seluruh dunia menunaikan ibadah haji, termasuk jemaah Indonesia yang banyak di antaranya berusia lanjut dan memiliki penyakit kronis.
Kondisi ini membutuhkan pendekatan kesehatan yang tidak hanya mengandalkan pengobatan, tetapi juga memperhatikan pencegahan, pendampingan, dan kualitas hidup.
Dalam konteks itu, FKIK memiliki peluang untuk mengembangkan penelitian dan pendidikan yang menjawab persoalan kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat layanan kesehatan jemaah haji.
Untuk mencapai cita-cita tersebut, Yuyun menekankan pentingnya tiga langkah strategis: mendorong akreditasi internasional, memperluas kolaborasi penelitian serta mobilitas dosen dan mahasiswa dengan mitra di Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, dan Taiwan, serta mempersiapkan jenjang pendidikan lanjutan, termasuk pendidikan dokter spesialis dan program doktor.
Langkah-langkah tersebut diharapkan membuat FKIK tidak hanya berkembang di lingkungan kampus, tetapi juga mampu berkontribusi lebih luas dalam pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan.
Menumbuhkan Pohon Ilmu yang Memberi Naungan
Refleksi Yuyun kembali berpijak pada filosofi Pohon Ilmu yang menjadi landasan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Ia mengaitkannya dengan perumpamaan dalam Al-Qur’an tentang kalimat yang baik seperti pohon yang baik, yang akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit, sebagaimana termaktub dalam Surah Ibrahim ayat 24.
Filosofi itu mengandung pesan bahwa pertumbuhan membutuhkan akar yang kuat, tetapi keberadaan sebuah pohon juga dinilai dari manfaat yang diberikan melalui buah dan naungannya.
Bagi FKIK, akar tersebut adalah fondasi akademik, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan yang ditanam para pendiri. Cabang-cabangnya adalah pengembangan pendidikan, penelitian, dan kerja sama.
Sementara buahnya adalah lulusan yang kompeten serta karya ilmiah dan pelayanan yang dirasakan masyarakat.
Sepuluh tahun perjalanan FKIK menjadi pengingat bahwa membangun institusi pendidikan kesehatan bukan sekadar mengejar angka dan pengakuan.
Lebih dari itu, ada tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang mampu menjaga kehidupan dan memberikan pelayanan dengan ilmu serta hati.
Pada usia ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, harapan tersebut menjadi bagian dari cita-cita bersama: menjadikan universitas sebagai pohon ilmu yang terus bertumbuh, berakar kuat pada nilai-nilai Islam, dan memberi manfaat bagi umat, bangsa, serta dunia.
Dirgahayu ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Semoga pohon ilmu yang ditumbuhkan terus menghasilkan buah kebaikan bagi kehidupan. ( Eno).
