Surabaya I Serulingmedia.com — Tidak semua perjalanan karier dimulai dengan gemerlap. Bagi Slamet Agus Wijaya, alumni Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga, langkah panjang menuju jabatan Direktur Operasional PT Kaia Anugerah Indonesia justru bermula dari ruang kuliah sederhana sebagai bagian dari angkatan pertama FPK Unair.
Hari ini, lebih dari dua dekade kemudian, jejak perjuangannya telah membawanya menjadi salah satu sosok penting di balik ekspor berbagai komoditas unggulan Indonesia ke pasar internasional seperti Amerika Serikat dan Jepang — mulai dari tuna, kakap merah, hingga rajungan.
Langkah Awal dari Kampus yang Masih Berbenah
Slamet mengenang masa-masa kuliahnya sebagai fase yang penuh tantangan, namun justru membentuk ketangguhan diri.
“Menjadi bagian dari angkatan pertama membuat saya terbiasa menghadapi tantangan. Dari situlah terbentuk mental untuk terus belajar, beradaptasi, dan tidak mudah menyerah,” ungkapnya.
Di sanalah fondasi mentalnya terbangun: pantang menyerah, mau belajar, dan siap menghadapi perubahan.
21 Tahun Mengarungi Industri yang Tak Pernah Tenang
Selama 21 tahun berkarier di sektor pengolahan perikanan, Slamet menghadapi beragam dinamika, salah satunya integrasi teknologi digital dalam dunia industri yang bergerak cepat.
“Saya terus belajar menggabungkan praktik industri perikanan dengan digitalisasi, sekaligus mengimplementasikan teori dari bangku kuliah ke kondisi nyata di lapangan,” jelasnya.
Perjalanan itu tidak mudah. Industri perikanan dalam lima tahun terakhir menghadapi tekanan akibat pandemi hingga konflik internasional yang mengguncang pasar ekspor. Namun bagi Slamet, badai justru bagian dari proses menuju kematangan.
“Setiap tantangan selalu menyimpan peluang.”
Membawa Ratusan Anak Bangsa Bertumbuh Bersama
Sebagai Direktur Operasional, kontribusi Slamet tidak hanya pada profit perusahaan. Ia menjadi rumah bagi 300 staf, termasuk 25 alumni FPK Unair, di mana 60 persennya kini duduk di posisi manajerial.
Bagi Slamet, membangun SDM adalah investasi masa depan. Ia selalu mendorong para generasi muda untuk tidak takut melangkah lebih jauh.
“Di industri perikanan, laut bukanlah batas akhir perjalanan, melainkan langkah awal menuju potensi yang tak terbatas. Jangan pernah membatasi diri dan teruslah mencoba,” pesannya penuh makna.
Kisah Slamet adalah potret nyata bahwa perjalanan tidak selalu harus dimulai dari tempat yang besar — cukup dari keberanian untuk mencoba dan konsistensi untuk bertumbuh. Dari kampus yang sedang dirintis, ia kini ikut membawa nama Indonesia ke kancah dunia. (Dini/Eno)