Dari Lahan Bencana Jadi Kampung Anggur: Reforma Agraria Bangkitkan Ekonomi Warga Duyu Palu

950133_11zon

Palu | Serulingmedia.com – Siapa sangka, kawasan yang sempat luluh lantak akibat bencana gempa dan likuefaksi pada 2018 kini menjelma menjadi sentra pertanian anggur sekaligus destinasi agrowisata favorit warga Kota Palu.

Kebun Anggur di Desa Duyu, yang kini dikenal sebagai Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit, menjadi bukti nyata keberhasilan pelaksanaan Reforma Agraria melalui Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Transformasi kawasan ini mulai digerakkan sejak 2021. Melalui penataan aset dan akses yang terintegrasi, GTRA Kota Palu mendorong masyarakat—khususnya para penyintas bencana—untuk bangkit dan berdaya secara ekonomi.

Hasilnya, kawasan yang sebelumnya rawan kini berubah menjadi zona produktif berbasis pertanian modern dengan nilai ekonomi berkelanjutan.

Perencana Ahli Muda Dinas Pertanian sekaligus anggota GTRA Kota Palu, Sutikno Teguh Asparianto, mengaku bangga terlibat langsung dalam pengembangan Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit. Ia menilai perubahan paling terasa adalah peningkatan pendapatan warga.

“Perkembangan dari segi pendapatan teman-teman di sini menonjol. Padahal, dari sejarah panjangnya, mereka ini adalah penyintas bencana,” ujar Sutikno saat ditemui di Kebun Anggur Duyu, Kamis ( 29/1/2026).

Menurutnya, GTRA Kota Palu yang dikoordinasikan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menjadi kunci sinergi lintas sektor. Seluruh program dirancang agar tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Sejak 2021 kami tergabung dalam Gugus Tugas Reforma Agraria Kota Palu. Pak Wali Kota sebagai ketua memberikan arahan langsung, dan BPN berperan sebagai koordinator. Dengan begitu, semua kegiatan bisa berjalan terkoordinasi,” jelasnya.

Manfaat program ini tidak hanya dirasakan oleh kelompok tani inti, tetapi juga warga sekitar. Ibrahim, salah satu warga Desa Duyu, mengaku budidaya anggur telah menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya.

“Alhamdulillah, bisa dapat tambahan penghasilan selain dari warung. Kampung Duyu sekarang juga makin dikenal sebagai kampung anggur,” tuturnya.

Ia menanam sekitar 20 pohon anggur sejak tiga tahun lalu. Kini, Ibrahim mampu memanen hingga tiga kali dalam setahun, dengan penghasilan sekitar Rp4 juta setiap panen.

Awalnya, budidaya anggur itu ia coba secara mandiri setelah belajar dari YouTube dan mendapat arahan dari Ketua Petani Kampung Anggur Duyu Bangkit.

“Awalnya coba-coba, ternyata hasilnya lumayan. Bibit awal juga dikasih oleh pak ketua,” tambahnya.

Keberhasilan Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit menjadi contoh nyata bahwa Reforma Agraria bukan sekadar penataan lahan, tetapi juga instrumen pemulihan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dari puing-puing bencana, Desa Duyu kini tumbuh menjadi simbol harapan, kemandirian, dan kebangkitan ekonomi lokal.(Sar)