Basri: Jangan Sederhanakan Persoalan Anak dan Orang Tua di Barat

Screenshot_2026-10-04-19-47-05-736_com.google.android.googlequicksearchbox-edit

Denpasar | Serulingmedia.com —Persoalan hubungan anak dan orang tua di negara-negara Barat tidak bisa serta-merta disederhanakan sebagai persoalan rendahnya religiusitas atau minimnya pengetahuan agama.

 

Pandangan itu disampaikan Wakil Rektor I Bidang Akademik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Drs. H. Basri, M.A., Ph.D., saat mengikuti konferensi di Denpasar yang salah satu pembahasannya menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (AI) sekaligus isu sosial dan keagamaan dalam perspektif masyarakat global, Minggu ( 4/10/2026).

Basri menilai, fenomena anak yang tidak merawat atau tidak tinggal bersama orang tuanya di Amerika Serikat perlu dibaca dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas.

Menurutnya, terlalu simplistik jika kondisi tersebut langsung dikaitkan dengan kekeringan religiusitas anak.

“Tidak bisa kita melakukan penyederhanaan bahwa anak tidak mengopeni orang tuanya semata-mata karena minimnya religiusitas atau pengetahuan keislaman mereka,” ujar Basri.

Ia mengatakan, terdapat banyak variabel yang berkelindan dalam persoalan tersebut. Salah satunya adalah pendidikan karakter yang bersifat universal dan tidak selalu harus dilekatkan pada simbol maupun ritual agama tertentu.

Basri mencontohkan, kepedulian terhadap orang tua juga dapat ditemukan pada masyarakat non-Muslim di negara-negara Barat.

“Tidak sedikit anak-anak non-Muslim seperti Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha di Barat yang sangat peduli dengan orang tua mereka,” katanya.

Nursing Home Bukan Selalu Bentuk Penelantaran

Salah satu hal yang menurut Basri kerap disalahpahami adalah keberadaan nursing home, assisted living maupun retirement home di Amerika Serikat.

Dalam perspektif masyarakat Indonesia, keputusan orang tua untuk tinggal di institusi semacam itu acap kali dipahami sebagai bentuk penelantaran. Namun, menurut Basri, perspektif tersebut tidak selalu sesuai dengan realitas sosial di Amerika.

Ia menjelaskan, bagi sebagian warga lanjut usia, tinggal di retirement home justru dapat menjadi pilihan hidup yang dianggap ideal.

Orang tua yang secara finansial relatif mapan, misalnya, dapat memilih tinggal di fasilitas tersebut karena kebutuhan sehari-hari, kesehatan dan interaksi sosial mereka tersedia secara lebih teratur.

“Ketimbang tinggal di rumah, anak pergi jam enam pagi dan baru pulang jam lima sore. Tidak bertemu. Orang tua kemudian stres di rumah hanya menonton televisi,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti itu, tinggal bersama sesama warga lanjut usia justru memungkinkan mereka menjalani kehidupan sosial yang lebih aktif.

Mereka dapat bertemu dengan orang-orang seusia, berbincang, bernostalgia, bermain dan menjalani aktivitas bersama.

“Di sana mereka bisa bertemu dengan sesama yang mungkin tahun kelahirannya sama, bisa ngobrol, nostalgia, bermain. Nah, itu yang kadang tidak dipahami,” kata Basri.

Faktor Ekonomi dan Kondisi Fisik

Namun Basri juga tidak menutup mata bahwa keberadaan nursing home tidak selalu lahir dari pilihan sukarela.

Ia membagi fenomena tersebut ke dalam sejumlah kemungkinan: pilihan ideal, pilihan personal, kebutuhan medis, keterbatasan fisik, kemampuan finansial, hingga kondisi ketika orang tua memang tidak mendapatkan perhatian dari keluarga.

Bagi kelompok kelas menengah dan atas, misalnya, tinggal di fasilitas khusus lansia dapat menjadi pilihan karena faktor kenyamanan dan independensi.

 

Mereka bersedia membayar biaya yang relatif mahal untuk mendapatkan pelayanan yang dianggap lebih baik.

“Tidak jarang orang tua dengan suka rela memilih tinggal di retirement home karena merasa lebih nyaman dan independen,” ujarnya.

Sebaliknya, terdapat pula lansia yang harus tinggal di fasilitas yang dibiayai pemerintah karena tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai, baik dari dirinya sendiri maupun keluarganya.

Karena itu, menurut Basri, satu fenomena yang sama dapat memiliki latar belakang yang sangat berbeda.

“In short, tinggal di nursing atau assisted home bisa jadi sebagai pilihan ideal, opsional atau keterpaksaan,” katanya.

Kritik terhadap Cara Pandang Etnosentris

Pernyataan Basri pada akhirnya mengarah pada satu persoalan yang lebih besar: bagaimana masyarakat Indonesia memahami praktik sosial masyarakat lain.

Menurut dia, perbedaan budaya tidak seharusnya dinilai hanya menggunakan ukuran yang berlaku di lingkungan sendiri.

Ia mengingatkan bahaya cara pandang ethnocentric dan oversimplistic ketika membaca fenomena sosial di negara lain.

Dalam konteks hubungan anak dan orang tua, tinggal terpisah tidak otomatis berarti tidak mencintai atau tidak peduli.

 

Demikian pula, tinggal bersama orang tua tidak otomatis menjadi bukti bahwa relasi keluarga berlangsung ideal.
Di sinilah pentingnya perspektif multikulturalisme.

Fenomena sosial, kata Basri, perlu dibaca dengan mempertimbangkan struktur keluarga, budaya kerja, sistem jaminan sosial, kondisi ekonomi, kebutuhan kesehatan, hingga pilihan individual.

Dengan demikian, agama tetap dapat menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk karakter dan relasi keluarga, tetapi tidak semestinya dijadikan satu-satunya variabel untuk menjelaskan kompleksitas persoalan tersebut.

Membaca Dunia Tanpa Kacamata Tunggal

Pernyataan Basri menarik karena membawa diskusi tentang orang tua dan anak keluar dari perdebatan hitam-putih antara “religius” dan “tidak religius”.

Ada persoalan budaya di sana. Ada persoalan ekonomi. Ada sistem sosial. Ada perubahan struktur keluarga.

 

Ada pula pilihan personal yang lahir dari keinginan seseorang untuk tetap mandiri ketika memasuki usia lanjut.

 

Dengan kata lain, nursing home tidak selalu identik dengan “pembuangan” orang tua, sebagaimana tinggal bersama keluarga juga tidak otomatis menjamin kesejahteraan mereka.

Yang menjadi persoalan justru adalah apakah keputusan tersebut lahir dari kepedulian, kebutuhan dan pilihan yang manusiawi—atau sebaliknya, dari ketidakpedulian dan penelantaran.

Basri menempatkan isu tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan multikultural masyarakat Indonesia.

Sebab, memahami masyarakat lain bukan berarti harus menyetujui seluruh praktiknya. Tetapi, sebelum memberikan penilaian, seseorang perlu memahami konteks yang melahirkan praktik tersebut.

Di titik itulah kritik Basri menjadi relevan: jangan menjelaskan dunia yang kompleks dengan satu kacamata. ( Eno).