Ajmal Ramzani Nasywa Shofi: Dari Keterbatasan Ekonomi Menuju Prestasi Gemilang di UIN Malang

Ajmal Ramzani mhs Prestasi.jpg2

Malang I Serulingmedia.com -– Keterbatasan ekonomi sering kali menjadi penghalang bagi seseorang untuk meraih impiannya. Namun, bagi Ajmal Ramzani Nasywa Shofi, keterbatasan justru menjadi cambuk untuk terus berjuang. Tekad kuat dan kesungguhan belajar membuatnya mampu membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil jika hati benar-benar menginginkan.

Gadis kelahiran Tanggulangin, Sidoarjo, tahun 2004 ini tumbuh dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang tukang batu, sementara ibunya berjualan sayur setiap pagi di depan rumah untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Hidup dalam himpitan ekonomi sudah ia rasakan sejak di bangku sekolah menengah, ketika bersekolah di SMK Muhammadiyyah 7 Gondanglegi, Malang.

Di masa itu, Ajmal harus hidup di pondok pesantren dengan uang saku hanya Rp150 ribu setiap bulan. Jumlah itu harus ia siasati agar cukup untuk sebulan penuh.

“Saya sering berpuasa agar bisa menghemat. Kalau makan di pondok, saya ambil nasi agak banyak supaya kenyang dan tidak jajan lagi,” kenangnya, Minggu ( 13/9/2025 ).

Cerita getir ini ia sampaikan dengan senyum, seakan menandakan bahwa semua kesulitan itu kini menjadi kenangan berharga dalam perjalanan hidupnya.

Mimpi melanjutkan studi sempat terasa mustahil, apalagi kepala sekolahnya pernah berujar bahwa belum ada lulusan dari sekolahnya yang diterima di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kampus idamannya. Ditambah lagi, kondisi ekonomi keluarga membuatnya semakin ragu. Namun, informasi tentang program KIP-Kuliah mengubah segalanya. Dengan doa dan kerja keras, Ajmal akhirnya berhasil diterima di UIN Malang melalui jalur SPAN-PTKIN.

“Alhamdulillah, berkat KIP saya bisa kuliah. Ini bukan hanya keinginan saya, tapi juga mimpi ibu saya yang dulu sebenarnya cerdas dan ingin melanjutkan studi, tetapi terhalang biaya. Kakak saya pun akhirnya tidak bisa kuliah. Maka, bagi saya ini adalah amanah untuk membuktikan bahwa kesempatan yang saya miliki tidak akan saya sia-siakan,” ungkap Ajmal penuh haru.

Kini, Ajmal tercatat sebagai mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Malang. Prestasinya pun tak main-main. Indeks prestasinya stabil di angka nyaris sempurna—3,93 pada semester 6, setelah sebelumnya sempat meraih 4,00.

Ajmal bukan hanya sekadar mahasiswa yang berprestasi, melainkan juga sosok inspiratif yang mengajarkan arti kesungguhan, kesabaran, dan doa dalam menghadapi segala keterbatasan. Kisahnya menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari sebuah mimpi, melainkan awal dari perjalanan menuju pencapaian yang gemilang.( Eno )