FKIK UIN Maliki Gembleng 55 Mahasiswa Jadi Jurnalis Kampus, Etika dan Integritas Jadi Kunci

IMG_20261025_090414

Batu | Serulingmedia.com – Derasnya arus informasi digital menuntut jurnalis kampus tidak sekadar cepat memproduksi berita, tetapi juga mampu memilah fakta, menangkal disinformasi, dan menjaga integritas pemberitaan.

Menghadapi tantangan tersebut, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggembleng 55 mahasiswa melalui Workshop Pers 2026 untuk membentuk jurnalis kampus yang kritis, adaptif, dan berpegang teguh pada etika jurnalistik.

Workshop bertema “Advancing Ethical, Adaptive, and Impactful Campus Journalist in the Era of Digital Transformation” ini digelar di Gedung Ibnu Sina Lantai 3 FKIK, Minggu (25/10/2026), dan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FKIK UIN Maliki Malang, Dr. Begum Fauziyah, S.Si., M.Farm.

Sebanyak 55 mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Dokter dan Program Studi Sarjana Farmasi mengikuti pelatihan tersebut. Jumlah ini melampaui target awal panitia sebanyak 50 peserta.

Materi yang diberikan mencakup jurnalistik, fotografi, videografi, dan desain.

Pembekalan ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memproduksi berita dan konten publikasi yang informatif, menarik, akurat, serta bertanggung jawab di tengah transformasi media digital.

Dalam sambutannya, Begum Fauziyah menegaskan bahwa pers mahasiswa memiliki peran strategis dalam membangun citra fakultas.

Karena itu, publikasi kampus tidak cukup hanya mengandalkan tampilan visual yang menarik, tetapi harus ditopang kualitas informasi dan integritas dalam pemberitaan.

“Tim humas atau tim pers itu adalah wajah dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Bagaimana citra fakultas ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita membangun opini melalui media, baik media tulis maupun media sosial,” ujarnya.

Menurut Begum, jurnalis kampus memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan berbagai kegiatan, prestasi, dan perkembangan fakultas kepada masyarakat.

Pemberitaan yang dikelola secara profesional dapat memperluas jangkauan informasi sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi.

Ia juga menilai keterlibatan mahasiswa dalam tim pers menjadi kesempatan berharga untuk memperoleh pengalaman jurnalistik, memperluas jejaring, dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang membutuhkan dukungan media.

“Kesempatan ini sangat sayang kalau dilewatkan. Saya berharap adik-adik bisa memperoleh ilmu dan pengalaman yang luar biasa, kemudian berlanjut menjadi bagian dari tim pers FKIK dan ikut berkontribusi mewarnai pemberitaan, baik secara internal maupun eksternal,” katanya.

Begum berharap workshop tidak berhenti sebagai pelatihan sesaat, tetapi menjadi awal lahirnya jurnalis mahasiswa yang aktif mengembangkan kemampuan menulis, mengolah informasi, serta memanfaatkan media digital secara bertanggung jawab.

Ia optimistis mahasiswa mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi karena kedekatan mereka dengan dunia digital.

Namun, kemampuan teknis tersebut tetap harus diimbangi pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab komunikasi publik.

Etika dan Akurasi Menjadi Fondasi Pemberitaan

Ketua Humas Pers FKIK UIN Maliki Malang, Melina Ratna Dianti, S.Kep., Ners., M.Kep., mengatakan workshop merupakan sarana untuk meningkatkan keterampilan jurnalistik, komunikasi, dan publikasi di lingkungan fakultas.

Menurut Melina, kemudahan mengakses dan menyebarkan informasi pada era digital harus diimbangi kemampuan memeriksa kebenaran informasi sebelum dipublikasikan.

Terlebih, lingkungan pendidikan kedokteran dan kesehatan membutuhkan komunikasi yang cermat agar informasi tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Informasi yang disampaikan harus berlandaskan fakta, mengedepankan etika, serta dapat dipertanggungjawabkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa keterampilan jurnalistik bukan hanya soal merangkai kata atau membuat konten yang menarik perhatian.

Mahasiswa juga perlu memahami pentingnya akurasi, kehati-hatian, dan tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan kepada publik.

Melina berharap peserta mengikuti kegiatan dengan antusias, aktif berdiskusi bersama narasumber, dan menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kegiatan kehumasan maupun jurnalistik kampus.

Ia juga berharap pelatihan tersebut menjadi pintu masuk bagi mahasiswa yang ingin bergabung dengan tim humas, pers, dan jurnalistik FKIK UIN Maliki Malang.

Pers Mahasiswa Bukan Sekadar Pencitraan

Sementara itu, Ketua Panitia Workshop Pers 2026, Davin Nando, menyampaikan apresiasi kepada dosen, narasumber, panitia, dan peserta yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Davin menegaskan bahwa pers mahasiswa tidak boleh hanya berorientasi pada tampilan publikasi atau banyaknya konten yang diproduksi.

Lebih dari itu, pers kampus harus mampu menunjukkan kualitas melalui karya jurnalistik yang berintegritas dan memberikan manfaat bagi pembaca.

“Pers FKIK menjadi wajah fakultas, bukan hanya melalui tampilan dan publikasi yang dihasilkan, tetapi juga melalui kualitas karya, integritas dalam menyampaikan informasi, serta tanggung jawab dalam setiap pemberitaan,” ungkapnya.

Menurut Davin, pers mahasiswa mempunyai posisi penting dalam memperkenalkan nilai, prestasi, dan potensi fakultas kepada masyarakat luas.

Karena itu, setiap karya perlu disusun dengan pola pikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Melalui workshop ini, ia berharap peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru, tetapi juga membangun kesadaran bahwa jurnalisme kampus memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga kualitas informasi.

Workshop Pers 2026 diharapkan menjadi langkah awal bagi regenerasi pers mahasiswa FKIK UIN Maliki Malang untuk menghasilkan karya yang berintegritas, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta memberikan dampak nyata bagi lingkungan kampus.

Dengan pembekalan jurnalistik, fotografi, videografi, dan desain, 55 mahasiswa tersebut diharapkan mampu mengembangkan publikasi kampus yang lebih profesional.

Di tengah derasnya arus informasi digital, etika, akurasi, dan integritas menjadi kunci agar pers mahasiswa tidak sekadar hadir di ruang digital, tetapi juga memperoleh kepercayaan publik.( Eno).