Damir, Pejuang Apel yang Tak Ingin Batu Kehilangan Identitas
Batu | Serulingmedia.com – Bagi sebagian orang, apel mungkin hanya buah yang dijajakan di pasar, toko oleh-oleh, atau kawasan wisata.
Namun bagi Damir, apel memiliki makna yang jauh lebih besar. Buah itu merupakan bagian dari identitas Kota Batu yang sejak dahulu dikenal sebagai Kota Apel.
Karena itu, ketika keberadaan apel lokal semakin sulit ditemukan, Damir tidak sekadar memilih untuk pasrah.
Sebagai pedagang apel, ia justru berupaya mencari apel dari berbagai daerah agar ikon Kota Batu tersebut tetap hadir di tengah masyarakat dan wisatawan.
“Sejak lahir sudah mengenal bahwa Batu dikenal sebagai Kota Apel. Oleh karena itu saya bertekad memperjuangkan agar Batu tetap ada apelnya,” ungkap Damir saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Temas, Rabu (16/9/2026).
Tekad tersebut bukan sekadar slogan. Dalam kesehariannya, Damir berupaya mencari pasokan apel hingga keluar wilayah Kota Batu. Poncokusumo, Kabupaten Malang, dan Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, menjadi sejumlah daerah yang ia datangi untuk mendapatkan buah apel.
Menurutnya, beberapa jenis apel seperti Manalagi dan Rome Beauty masih dapat diperoleh dari daerah tersebut. Sementara apel jenis Anna masih cukup banyak ditemukan di wilayah Kota Batu.
“Saya berupaya mencari buah apel dari Poncokusumo dan Nongkojajar, terutama jenis apel Manalagi dan Rome Beauty. Kalau apel Anna banyak di Batu,” ujarnya.
Upaya Damir memiliki alasan sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang lebih besar. Ia melihat wisatawan yang datang ke Batu sudah memiliki bayangan bahwa kota wisata ini identik dengan apel.
Ketika wisatawan mencari apel di Batu, kata dia, mereka tidak terlalu mempersoalkan dari mana buah tersebut berasal.
Yang mereka tahu, apel merupakan bagian dari pengalaman ketika berkunjung ke Kota Batu.
Karena itu, apel yang didatangkannya dari luar daerah kemudian dibagikan kepada pedagang apel di Kota Batu. Mulai dari pedagang di Pasar Among Tani hingga pedagang yang berjualan di sejumlah kawasan wisata.
Langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian Damir terhadap keberadaan ikon kota yang telah melekat sejak dirinya kecil.
“Wisatawan tahunya apel dari Kota Batu. Oleh karena itu saya berupaya mendatangkan apel luar kota kemudian dibagikan ke pedagang yang ada di Kota Batu, baik di Pasar Among Tani maupun tempat wisata,” tuturnya.
Namun di balik aktivitas berdagang itu, tersimpan sebuah persoalan yang lebih besar: bagaimana mempertahankan identitas Kota Batu sebagai Kota Apel ketika produksi apel lokal terus menghadapi tantangan?
Damir berada di posisi yang unik. Ia bukan pejabat, bukan pengambil kebijakan, dan bukan pula pemilik perkebunan besar. Ia hanya seorang pedagang yang setiap hari bersentuhan langsung dengan apel dan konsumen.
Tetapi dari lapak dan aktivitas perdagangannya, ia melihat perubahan tersebut secara nyata.
“Bagaimana lagi, apel Batu sudah habis,” tandasnya.
Pernyataan singkat itu bukan hanya menggambarkan persoalan ketersediaan komoditas. Lebih jauh, kalimat tersebut menjadi kegelisahan seorang warga yang tidak ingin identitas kotanya perlahan hanya tinggal nama.
Batu telah tumbuh menjadi salah satu destinasi wisata penting di Jawa Timur. Hotel, tempat wisata, pusat oleh-oleh, kuliner dan berbagai sektor ekonomi berkembang mengikuti arus wisatawan.
Namun di tengah perkembangan tersebut, apel tetap menjadi bagian dari cerita yang membentuk citra Kota Batu.
Karena itu, perjuangan Damir menghadirkan apel dari luar daerah dapat dilihat sebagai potret kecil dari upaya mempertahankan sebuah identitas.
Memang, apel yang didatangkan dari Poncokusumo atau Nongkojajar bukan lagi apel yang tumbuh dari tanah Batu. Tetapi bagi Damir, keberadaan buah apel di tengah kota tetap penting agar wisatawan tidak kehilangan gambaran tentang Batu sebagai Kota Apel.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih luas. Menjaga Batu sebagai Kota Apel tidak cukup hanya dengan memastikan apel tetap tersedia di pasar.
Identitas itu pada akhirnya membutuhkan keberlanjutan perkebunan, regenerasi petani, perlindungan lahan, inovasi budidaya, hingga kebijakan pemerintah yang mampu membuat apel kembali menjadi komoditas yang menjanjikan bagi masyarakat.
Damir mungkin hanya satu dari sekian banyak pedagang yang merasakan persoalan tersebut. Namun kegelisahannya menunjukkan bahwa apel bagi masyarakat Batu bukan sekadar komoditas perdagangan.
Apel adalah kenangan, identitas, sekaligus wajah sebuah kota.
Dan selama masih ada orang seperti Damir yang berusaha agar apel tetap hadir di Kota Batu, harapan untuk mempertahankan sebutan “Kota Apel” belum sepenuhnya hilang. ( Eno).
