Manuskrip Islam Nusantara Terancam Terlupakan, FST UIN Malang Dorong Katalogisasi dan Preservasi
Malang | Serulingmedia.com — Warisan intelektual Islam Nusantara tidak cukup hanya disimpan.
Manuskrip yang merekam perjalanan ilmu, agama, dan kebudayaan masyarakat Nusantara membutuhkan pengelolaan ilmiah agar tetap dapat dibaca dan dikaji lintas generasi.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui Forum Silaturahmi Akademisi Saintek (FORSiASA), Jumat (28/8/2026).
Forum yang digelar di Auditorium Utara FST itu mengangkat tema “Katalogisasi dan Preservasi Manuskrip Islam Nusantara: Antara Amanah, Ilmu dan Warisan Peradaban.”
Dosen Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi FST UIN Malang, Achmad Nizam Rifqi, M.A. dan Evi Nurus Suroiyah, M.Pd., menjadi pemateri dalam forum tersebut. Ganis Chandra Puspitadewi, M.A. memandu jalannya diskusi.
Kegiatan berlangsung pukul 13.00–14.30 WIB dan diawali pembacaan Sholawat Maulid Diba’ oleh tim hadrah mahasiswa.
Setelah itu, peserta mengikuti pembahasan mengenai posisi manuskrip Islam Nusantara dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian warisan peradaban.
Forum menempatkan manuskrip bukan sekadar benda tua yang memiliki nilai sejarah. Manuskrip menyimpan pengetahuan yang merekam perkembangan intelektual, keagamaan, dan kebudayaan masyarakat Nusantara.
Karena itu, katalogisasi menjadi langkah penting. Melalui katalogisasi, pengelola dapat mendokumentasikan identitas, karakteristik, dan informasi penting sebuah manuskrip secara sistematis.
Data tersebut memudahkan peneliti maupun masyarakat menelusuri keberadaan dan isi koleksi.
Di sisi lain, preservasi diperlukan untuk menjaga manuskrip dari kerusakan. Kondisi fisik manuskrip yang rentan membuat upaya pelestarian menjadi bagian penting agar sumber pengetahuan tersebut tidak hilang sebelum sempat dikaji oleh generasi berikutnya.
Diskusi FORSiASA juga menegaskan bahwa pelestarian manuskrip membutuhkan lebih dari sekadar penyimpanan. Amanah menjaga warisan budaya harus berjalan bersama metode ilmiah sehingga manuskrip dapat terus dimanfaatkan sebagai sumber penelitian.
FST UIN Malang menjadikan FORSiASA sebagai ruang pertukaran gagasan antarsivitas akademika. Forum tersebut sekaligus membuka perhatian terhadap isu pengelolaan pengetahuan dan kekayaan intelektual Nusantara.
Melalui forum itu, FST UIN Malang mendorong akademisi dan mahasiswa untuk tidak berhenti pada upaya mengenali manuskrip. Katalogisasi, preservasi, dan kajian ilmiah diharapkan menjadi bagian dari langkah berkelanjutan dalam merawat warisan intelektual Islam Nusantara.
Bagi perguruan tinggi, menjaga manuskrip berarti menjaga jejak pengetahuan. Ketika manuskrip mampu dirawat, didokumentasikan, dan dikaji, warisan peradaban Nusantara tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai sumber ilmu bagi masa depan. ( Eno).






