Saat AI Masuk Kelas, UIN Malang Siapkan Guru agar Tak Tertinggal Zaman

PAI_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Kecerdasan artifisial (AI) mulai mengubah cara guru menyiapkan pembelajaran. Di tengah teknologi yang mampu membantu membuat perangkat ajar, media interaktif hingga bahan evaluasi, guru menghadapi satu tuntutan baru: beradaptasi sebelum teknologi bergerak lebih jauh.

 

Tantangan itu menjadi perhatian Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama Yayasan Miftahush Shibyan Bantur Malang. Keduanya menggelar workshop “Strengthening Teachers’ Digital Competence and Students’ Communication Skills through AI-Based Learning.”

Kegiatan tersebut tidak sekadar memperkenalkan kecerdasan artifisial. Para peserta diajak melihat bagaimana AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses pembelajaran, sekaligus bagaimana kemampuan komunikasi manusia tetap harus dipertahankan.

 

Kepala Yayasan Miftahush Shibyan menegaskan, perubahan teknologi harus diikuti perubahan kemampuan pendidik. Guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga perlu memahami teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan peserta didik.

 

“Guru harus terus belajar dan beradaptasi. Perkembangan AI tidak bisa dihindari, sehingga yang diperlukan adalah kemampuan memanfaatkannya secara tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” demikian cuplikan pesan Kepala Yayasan Miftahush Shibyan.

 

Menurutnya, pemanfaatan teknologi tetap harus berjalan beriringan dengan pendidikan karakter. Kemajuan teknologi tidak boleh membuat proses pendidikan kehilangan sentuhan manusia dan nilai-nilai yang menjadi dasar pembentukan peserta didik.

Pandangan tersebut sejalan dengan Kaprodi PAI FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Laily Nurarifa. Ia menilai kehadiran AI semestinya tidak dipandang sebagai ancaman bagi guru.

 

Sebaliknya, AI dapat menjadi alat bantu untuk mendorong guru bekerja lebih kreatif dan efisien. Namun penggunaannya harus tetap dikontrol oleh kompetensi pedagogis dan tanggung jawab pendidik.

 

“AI bukan untuk menggantikan guru. Teknologi ini harus menjadi alat yang membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif, efektif dan sesuai kebutuhan peserta didik,” ujar Dr. Laily Nurarifa.

 

Ia menambahkan, penguatan kompetensi digital menjadi semakin penting karena peserta didik saat ini tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan teknologi. Guru dituntut mampu memahami perubahan tersebut agar pembelajaran tidak kehilangan relevansi.

 

Workshop kemudian dibagi ke dalam dua kelas paralel. Parallel Room I secara khusus membahas pemanfaatan AI dalam pembelajaran.

 

Benny Afwadzy, M.Ag., membuka sesi dengan materi mengenai penggunaan Artificial Intelligence untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Peserta diajak melihat peluang AI dalam mendukung pekerjaan guru tanpa menghilangkan fungsi utama pendidik.

 

Materi berikutnya disampaikan Abdul Fattah, M.Th.I., melalui pengenalan MagicSchool AI. Platform tersebut dimanfaatkan untuk membantu guru menyusun perencanaan dan perangkat pembelajaran secara lebih cepat, sistematis dan kreatif.

 

Sementara Ainatul Mardhiyah, M.Cs., mengajak peserta masuk pada praktik yang lebih kreatif melalui pembuatan game edukasi dan media pembelajaran interaktif berbasis AI.

 

Peserta tidak hanya duduk menerima materi. Diskusi, praktik, berbagi pengalaman dan simulasi penggunaan platform AI menjadi bagian dari kegiatan. Dengan pola tersebut, guru diharapkan mampu membawa pengalaman workshop langsung ke ruang kelas.

 

Di Parallel Room II, perhatian diarahkan pada kemampuan public speaking siswa. Materi mencakup pembangunan kepercayaan diri, teknik berbicara di depan umum, penyusunan presentasi serta komunikasi persuasif.

 

Kemampuan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan teknologi. Ketika mesin semakin mampu mengolah informasi, manusia justru dituntut memiliki kemampuan menyampaikan gagasan, membangun komunikasi dan bekerja sama.

 

Bagi Program Studi PAI FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, transformasi pendidikan tidak berarti menyerahkan proses belajar kepada teknologi. Justru sebaliknya, teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen yang memperkuat peran guru.

 

Kolaborasi dengan Yayasan Miftahush Shibyan juga memperlihatkan pentingnya hubungan perguruan tinggi dengan lembaga pendidikan dalam menghadapi perubahan tersebut.

 

Pada akhirnya, persoalan AI di dunia pendidikan bukan lagi soal apakah teknologi itu akan masuk kelas. AI sudah berada di depan pintu.

 

Yang menentukan masa depan pembelajaran adalah seberapa siap guru membuka pintu itu—menguasai teknologinya, mengendalikan penggunaannya, dan tetap menjaga pendidikan sebagai proses membentuk manusia. ( Eno0