Wakil Rektor UIN Malang Basri Ph.D : Akreditasi Internasional Harus Mendorong Budaya Mutu, Bukan Sekadar Mengejar Sertifikat Menulis
Malang | Serulingmedia.com – Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Drs. H. Basri, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa akreditasi internasional harus menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi, bukan sekadar mengejar pengakuan atau sertifikat.

Penegasan itu disampaikan saat membuka kegiatan Awareness Akreditasi Internasional ACQUIN di Aula Lantai 5 Gedung Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (16/7/2026).
Kegiatan menghadirkan narasumber Prof. Dr. rer. nat. Abdurrout, S.Si., M.Si. dari Universitas Brawijaya. Hadir pula Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, M.Ag., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, S.Ag., M.A., Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerja Sama (AAKK) Ita Hidayatus Sholihah, S.Ag., M.M., Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Prof. Dr. Hj. Sri Harini, M.Si., para dekan, serta ketua program studi.
Dalam sambutannya, Basri meminta seluruh peserta memanfaatkan forum tersebut sebagai ruang belajar untuk menyerap pengalaman dan strategi menghadapi akreditasi internasional. Menurutnya, UIN Malang tengah menyiapkan 22 program studi yang akan mengikuti proses akreditasi internasional.
“Jangan sampai akreditasi internasional hanya menjadi tujuan akhir. Yang lebih penting adalah menjadikannya sebagai instrumen untuk meningkatkan mutu pembelajaran, penelitian, tata kelola, dan pelayanan akademik,” tegas Basri.

Ia mengingatkan bahwa seluruh dokumen akreditasi harus disusun berdasarkan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, proses akreditasi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh sivitas akademika, bukan hanya Lembaga Penjaminan Mutu ataupun pimpinan universitas.
Sementara itu, Kepala Biro AAKK UIN Malang, Ita Hidayatus Sholihah, mengatakan kegiatan Awareness Akreditasi Internasional ACQUIN menjadi langkah awal universitas untuk membangun kesamaan persepsi sebelum memasuki tahapan akreditasi.

Menurut Ita, kegiatan tersebut tidak hanya membahas prosedur administratif, tetapi juga memperkuat pemahaman seluruh program studi terhadap standar mutu internasional.
“Forum ini kami laksanakan agar seluruh program studi memiliki pemahaman yang sama mengenai mutu pendidikan, pengembangan kurikulum, tata kelola, dokumentasi, serta budaya penjaminan mutu yang harus dijalankan secara konsisten. Akreditasi internasional bukan sekadar penyusunan dokumen, tetapi upaya membangun budaya mutu yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebanyak 22 program studi telah dipetakan ke dalam dua klaster. Klaster pertama, Pedagogical Sciences and Teacher Training, mencakup 11 program studi di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
Sedangkan klaster kedua, Islamic Law, Islamic Economic, Theological Studies, and Applied Sciences, terdiri atas 11 program studi dari Fakultas Ekonomi, Syariah, Sains dan Teknologi, serta Pascasarjana.
Pengelompokan tersebut, lanjut Ita, diharapkan dapat memperkuat koordinasi antarfakultas, menyelaraskan rumpun keilmuan, sekaligus mengefisienkan penyusunan dokumen dan pemenuhan standar akreditasi internasional.
“Kami berharap kegiatan ini menghasilkan pemetaan kesiapan setiap program studi, pembagian peran yang jelas, serta rencana kerja yang terukur menuju asesmen AKUIN. Dengan demikian, peningkatan mutu akademik dapat berjalan secara berkelanjutan dan berdampak pada daya saing UIN Malang di tingkat internasional,” kata Ita.
Melalui kegiatan ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan komitmennya memperluas pengakuan internasional terhadap kualitas pendidikan sekaligus memperkuat tata kelola akademik sesuai standar global.( Eno)






