Miftahudin Azmi: Piala Dunia 2026 dan Diplomasi Wajah Islam Damai di Panggung Global
Malang | Serulingmedia.com – Piala Dunia FIFA 2026 tidak lagi sekadar panggung perebutan gelar juara dunia. Turnamen yang untuk pertama kalinya diikuti 48 negara dan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko, menjelma menjadi ruang perjumpaan berbagai identitas, budaya, dan keyakinan. Di tengah gegap gempita sepak bola modern, muncul narasi lain yang tak kalah penting: bagaimana Islam tampil sebagai wajah perdamaian melalui perilaku para atlet di lapangan.
Bagi Miftahudin Azmi, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, fenomena tersebut layak dibaca sebagai transformasi citra Islam di ruang publik internasional. Jika selama dua dekade terakhir Islam kerap diposisikan dalam bingkai konflik akibat berbagai dinamika geopolitik global, maka Piala Dunia 2026 justru menghadirkan panggung yang memperlihatkan wajah Islam yang humanis, inklusif, dan sarat nilai-nilai universal.
“Olahraga telah menjadi bahasa yang melampaui batas negara, agama, dan ideologi. Ketika seorang atlet muslim menunjukkan sportivitas, rendah hati, menghormati lawan, serta tetap menjaga nilai-nilai keagamaannya, saat itulah Islam berbicara melalui tindakan, bukan sekadar narasi,” ujar Miftahudin Azmi, Jumat (3/7/2026).
Edisi kali ini menjadi salah satu Piala Dunia dengan representasi negara muslim yang sangat besar. Maroko, Aljazair, Mesir, Senegal, Qatar, Arab Saudi, Iran, Irak, Yordania, Uzbekistan hingga Bosnia dan Herzegovina hadir membawa identitas kebangsaan sekaligus keberagaman dunia Islam. Di saat yang sama, sejumlah pemain muslim juga menjadi pilar utama negara-negara Eropa, seperti Lamine Yamal bersama Spanyol, Ousmane Dembélé di Prancis, Antonio Rüdiger di Jerman, hingga Anass Salah-Eddine di Belanda.
Menurut Miftahudin, kehadiran mereka menunjukkan bahwa identitas keagamaan tidak lagi menjadi batas dalam kompetisi global. Sebaliknya, agama hadir sebagai fondasi etika yang membentuk karakter seorang atlet profesional.
Salah satu momen yang dinilai paling merepresentasikan nilai tersebut terjadi saat Tim Nasional Maroko menghadapi Belanda pada babak 32 besar. Menjelang adu penalti, pelatih Mohamed Ouahbe meminta seluruh pemain membentuk lingkaran dan memimpin doa bersama sebelum menentukan nasib pertandingan.
Bagi sebagian orang, adegan itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi Miftahudin, doa merupakan bagian dari penguatan psikologis sekaligus spiritual yang memiliki landasan kuat dalam tradisi Islam.
“Dalam perspektif Islam, doa bukan sekadar ritual. Ia merupakan terapi ruhani yang membantu seseorang mengelola kecemasan, menumbuhkan harapan (raja’), memperkuat kesabaran (ṣabr), sekaligus membangun ketangguhan mental atau resilience. Spiritualitas justru menjadi sumber stabilitas ketika tekanan kompetisi mencapai titik tertinggi,” jelasnya.
Fenomena lain yang mendapat perhatian adalah keputusan gelandang Swedia, Yasin Ayari, yang tidak melakukan selebrasi berlebihan usai mencetak gol ke gawang Tunisia. Ayari memilih menghormati negara asal ayahnya yang berasal dari Tunisia, sementara ibunya merupakan keturunan Maroko.
Dalam pandangan Miftahudin, tindakan tersebut merupakan refleksi etika yang semakin jarang ditemukan dalam olahraga modern yang sering dipenuhi ekspresi individualisme.
“Ibn Khaldun menjelaskan bahwa penghormatan terhadap asal-usul keluarga merupakan bagian penting dalam menjaga solidaritas sosial atau ‘ashabiyyah. Apa yang dilakukan Ayari memperlihatkan bahwa identitas keluarga dan penghormatan terhadap leluhur tetap dapat hidup berdampingan dengan profesionalisme olahraga modern,” katanya.
Lebih jauh, Miftahudin menilai sepak bola kini telah berkembang menjadi instrumen soft power. Pertandingan tidak hanya menghasilkan skor, tetapi juga membentuk persepsi dunia terhadap suatu bangsa maupun agama. Dalam konteks tersebut, perilaku para atlet muslim menjadi representasi yang jauh lebih efektif dibandingkan berbagai kampanye citra yang bersifat formal.
“Islam tidak sedang dipromosikan melalui slogan. Islam diperkenalkan melalui kejujuran pemain, penghormatan kepada lawan, kesederhanaan dalam merayakan kemenangan, kepedulian kepada sesama, dan sikap profesional di lapangan. Nilai-nilai itulah yang sesungguhnya menjadi dakwah paling kuat di era global,” tegasnya.
Ia menambahkan, publik dunia saat ini semakin kritis dalam menilai sebuah agama. Penilaian tidak lagi didasarkan pada wacana, melainkan pada perilaku nyata para pemeluknya. Karena itu, setiap aksi yang ditampilkan atlet muslim di panggung internasional memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar hasil pertandingan.
Menurut Miftahudin, Piala Dunia 2026 memberikan pelajaran bahwa kompetisi olahraga dapat menjadi ruang dialog antarperadaban yang efektif. Ketika ribuan suporter dari berbagai negara menyaksikan atlet muslim berdoa sebelum bertanding, menghormati keluarga, tidak berlebihan dalam merayakan kemenangan, serta tetap menjunjung tinggi sportivitas, maka yang tersampaikan bukan hanya kualitas permainan, melainkan juga pesan universal tentang kedamaian, penghormatan, dan kemanusiaan.
“Trofi memang menjadi tujuan setiap tim. Tetapi warisan terbesar Piala Dunia 2026 bisa jadi bukan sekadar siapa yang menjadi juara. Yang lebih penting adalah bagaimana olahraga berhasil memperlihatkan kepada dunia bahwa Islam hadir sebagai agama yang mengajarkan kedamaian, moderasi, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Inilah wajah Islam yang sesungguhnya di panggung global,” pungkas Miftahudin Azmi.( Eno)






