Nusron Wahid: Iduladha Bukan Sekadar Kurban, Tapi Menyembelih Ego dan Keserakahan

IMG-20260529-WA0025

Jakarta | Serulingmedia.com – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mengajak umat Islam menjadikan Iduladha 1447 Hijriah sebagai momentum memperkuat ketakwaan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama manusia.

 

Pesan itu disampaikan Nusron saat menjadi khatib dalam salat Iduladha di Masjid Raya Al-Ittihaad, Jakarta, Rabu (27/05/2026).

 

Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa makna kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan semata, melainkan juga menjadi simbol pengendalian diri dan pengorbanan demi kemanusiaan.

 

“Di balik semua takbir dan semarak kurban ini, ada pesan besar yang tidak boleh kita lupakan dalam Iduladha. Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang menyembelih ego, hawa nafsu, keserakahan, dan rasa tidak peduli kita kepada sesama, terutama sesama umat manusia,” ujar Nusron Wahid.

Menurutnya, ibadah kurban merupakan proses menundukkan diri kepada Allah SWT sekaligus membersihkan hati agar manusia tidak terjebak dalam kepentingan pribadi.

 

“Semakin tinggi ketakwaan seseorang kepada Allah, seharusnya semakin besar kepeduliannya umat manusia tersebut kepada manusia lainnya,” tuturnya di hadapan ratusan jamaah.

Nusron juga mengingatkan bahwa yang sampai kepada Allah SWT bukanlah daging ataupun darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dan keikhlasan sebagaimana tertuang dalam Surat Al-Hajj ayat 37.

 

Dari ketakwaan itulah lahir manusia yang rela berkorban demi kebaikan bersama.
Dalam khutbahnya, Menteri ATR/Kepala BPN menyoroti tantangan kehidupan modern yang tidak hanya diwarnai persoalan kemiskinan materi, tetapi juga kemiskinan hati dan empati sosial.

 

Ia menilai banyak orang hidup berkecukupan namun kehilangan rasa peduli, memiliki ilmu tetapi kasar terhadap sesama, bahkan rajin beribadah namun sulit menghargai orang lain.

“Padahal Rasulullah SAW mengajarkan sekaligus mengingatkan kepada kita, tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri,” kata Nusron.

 

Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam menjadikan Iduladha sebagai ruang refleksi untuk menilai sejauh mana ibadah yang dilakukan telah membawa perubahan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

 

Menurutnya, ketakwaan sejati akan selalu melahirkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial di tengah kehidupan masyarakat.

 

“Kalau ada yang renggang, mari kita damaikan. Kalau ada yang terluka, mari kita maafkan. Karena, ketakwaan sejati bukan hanya di sajadah, tetapi juga dalam kepedulian kepada sesama,” pungkasnya.( Sar).