Idul Adha: Meneguhkan Solidaritas di Tengah Luka Dunia
Oleh. Prof. Dr.Triyo Supriyatno,M.Ag *
Malang I Serulingmedia.com – Hari raya qurban bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan. Ia adalah madrasah kemanusiaan yang mengajarkan pengorbanan, empati, dan solidaritas sosial. Di balik gema takbir Idul Adha, tersimpan pesan besar bahwa agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan sesamanya.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS merupakan simbol ketaatan total kepada Allah SWT. Namun lebih dari itu, kisah tersebut mengandung nilai kemanusiaan universal: keikhlasan berkorban demi kebaikan yang lebih besar. Qurban mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus melahirkan cinta kepada manusia. Ketakwaan tidak boleh berhenti di sajadah, tetapi harus menjelma menjadi kepedulian sosial.
Allah SWT berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa esensi qurban bukan pada darah atau dagingnya, melainkan pada nilai spiritual dan sosial yang terkandung di dalamnya. Qurban adalah latihan membebaskan diri dari egoisme, kerakusan, dan cinta berlebihan terhadap materi. Orang yang berqurban sedang belajar berbagi kebahagiaan dengan orang lain, terutama kaum dhuafa, fakir miskin, dan mereka yang selama ini jarang menikmati kecukupan pangan.
Dalam konteks dunia modern yang penuh krisis kemanusiaan, nilai qurban menjadi semakin relevan. Di berbagai belahan dunia, jutaan manusia hidup dalam penderitaan akibat perang, kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan. Anak-anak kehilangan masa depan, keluarga tercerai-berai, dan banyak masyarakat hidup dalam ketakutan. Di tengah situasi seperti ini, semangat qurban seharusnya melahirkan gerakan solidaritas kemanusiaan yang lebih luas.
Qurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi juga “menyembelih” sifat individualisme, keserakahan, dan ketidakpedulian sosial. Qurban sejati adalah keberanian berbagi di tengah keterbatasan, membantu di tengah kesulitan, dan menghadirkan harapan bagi mereka yang terluka oleh kehidupan.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini memperlihatkan bahwa ukuran keimanan tidak hanya ditentukan oleh ritual ibadah, tetapi juga oleh kualitas kemanusiaan seseorang. Orang yang beriman adalah orang yang mampu merasakan penderitaan orang lain dan tergerak untuk membantu.
Karena itu, momentum Idul Adha harus menjadi penguat budaya filantropi umat Islam. Semangat qurban harus melahirkan kepedulian terhadap kaum miskin, korban bencana, anak yatim, pengungsi perang, serta masyarakat yang terpinggirkan. Daging qurban memang habis dalam beberapa hari, tetapi nilai kasih sayang dan solidaritas yang ditanamkan harus hidup sepanjang waktu.
Qurban juga mengajarkan persaudaraan lintas batas. Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka semangat qurban tidak boleh dibatasi oleh sekat suku, bangsa, atau kelompok. Ketika manusia terluka, di situlah panggilan kemanusiaan harus dijawab. Ketika ada kelaparan, di situlah tangan-tangan kepedulian harus bergerak.
Pada akhirnya, qurban adalah pesan bahwa kebesaran manusia bukan terletak pada apa yang dimiliki, tetapi pada apa yang mampu dikorbankan untuk orang lain. Dunia yang penuh konflik dan krisis hari ini membutuhkan lebih banyak hati yang rela berbagi, lebih banyak jiwa yang peduli, dan lebih banyak manusia yang menjadikan agama sebagai jalan kasih sayang dan perdamaian.
Semoga ibadah qurban tidak hanya mendekatkan kita kepada Allah SWT, tetapi juga mendekatkan kita kepada sesama manusia. Sebab di dalam setiap tetes pengorbanan, terdapat harapan bagi lahirnya dunia yang lebih adil, damai, dan berperikemanusiaan. ( * Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang )






