Silvia Saartje dan Ita Purnamasari Hadir di “Ruang Rindu” RRI Malang, Menghidupkan Kenangan di Tengah Malam yang Tak Biasa
Malang | Serulingmedia.com – Minggu malam yang biasanya lengang di lingkungan RRI Malang mendadak berubah menjadi hangat dan penuh kehidupan. Deretan mobil memenuhi halaman, sementara suasana studio dipenuhi antusiasme para pecinta tembang kenangan, Minggu (26/4/2026).
Malam itu, dua nama besar hadir menyapa: Ita Purnamasari dan Sylvia Saartje. Kehadiran mereka bukan sekadar tampil, tetapi membawa pulang rasa rindu yang lama terpendam bagi para penikmat musik lawas.
Direktur Program dan Produksi RRI, Mistam, menjelaskan bahwa kedatangan kedua artis tersebut merupakan bagian dari perayaan ulang tahun komunitas Senandung Rindu ke-26 yang dipusatkan di Jatim Park, Kota Batu. Komunitas ini dikenal sebagai wadah besar bagi pecinta lagu-lagu kenangan di Malang Raya.

“Permintaan dari komunitas agar menghadirkan artis ibu kota kami wujudkan. Sekaligus momentum ini kami gunakan untuk menguatkan siaran nasional ‘Ruang Rindu’,” ujar Mistam.
Program “Ruang Rindu” sendiri bukan sekadar acara radio biasa. Ia telah menjadi ruang emosional bagi para pendengar di seluruh Indonesia—tempat di mana lagu-lagu dari era 60-an hingga 2000-an kembali hidup, lengkap dengan kisah, kenangan, dan suara para penyanyinya.
Disiarkan secara berjaringan nasional melalui Pro 1 RRI Jakarta dan direlay ke seluruh Indonesia, termasuk RRI Malang, program ini rutin hadir setiap Rabu malam. Namun, edisi Minggu (26/4/2026) menjadi istimewa karena dipancarkan langsung dari Malang dengan menghadirkan bintang tamu spesial.
Dalam siaran tersebut, Ita Purnamasari tampil sebagai pemandu acara bersama penyiar RRI Malang, Ruly Suprayogo. Sejak 2023, Ita memang dikenal sebagai host tetap “Ruang Rindu” di RRI Jakarta, menjadikannya sosok yang akrab bagi pendengar setia program ini.

Sementara itu, kehadiran Sylvia Saartje atau yang akrab disapa “Jipi”, membawa nuansa yang jauh lebih personal. Bagi Silvia, RRI Malang bukan tempat asing—melainkan titik awal perjalanan kariernya.
Dengan suara bergetar, ia mengenang masa kecilnya saat pertama kali mengikuti lomba menyanyi di RRI Malang yang dulu berlokasi di Jalan Cerme.
“Waktu itu saya grogi sekali. Sampai minum air kran sambil berdoa. Tapi ternyata saya menang. Itu momen yang tidak pernah saya lupakan,” tuturnya.
Kisah itu menjadi pengingat bahwa panggung besar sering kali berawal dari ruang-ruang sederhana. Dari RRI Malang, langkah kecil Sylvia tumbuh menjadi perjalanan panjang hingga ia dikenal sebagai lady rocker pertama Indonesia.
Kariernya melesat sejak merilis album “Biarawati” pada 1978, dengan lagu-lagu seperti “Jakarta Blue Jeansku” yang melekat kuat di hati penggemarnya. Gaya panggungnya yang kuat dan karakter vokalnya menjadikannya ikon perempuan dalam musik rock Tanah Air.

Malam itu, “Ruang Rindu” bukan sekadar siaran radio. Ia menjadi ruang pertemuan lintas waktu—antara masa lalu dan masa kini, antara penyanyi dan pendengar, antara kenangan dan harapan.
Mistam berharap, ke depan program ini tidak hanya menjadi ruang dengar, tetapi juga ruang temu secara nyata.
“Kami ingin ada pertemuan nasional, sebuah pertunjukan yang mempertemukan artis dan penikmat lagu kenangan dalam satu panggung,” ujarnya.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, “Ruang Rindu” membuktikan bahwa kenangan tidak pernah benar-benar usang. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali diputar—dan malam itu, di RRI Malang, kenangan itu hidup kembali. ( Eno)






