Buku Baru Zainul Alfan: Menyusuri Jejak Panjang Reforma Agraria dari Ruang Kuliah hingga Lapangan

buku2_11zon

Malang | Serulingmedia.com — Di tengah derasnya arus persoalan agraria di Indonesia yang tak kunjung usai, seorang praktisi pertanahan memilih untuk berhenti sejenak, menengok kembali perjalanan panjangnya, lalu menuliskannya menjadi buku. Dialah Zainul Alfan, SP., MAP., yang baru saja merilis karyanya berjudul “Reforma Agraria (Konsepsi & Implementasi)” melalui UB Press pada Maret 2026.

 

Buku setebal 136 halaman itu bukan sekadar kumpulan teori atau catatan akademik. Di baliknya, tersimpan perjalanan seorang birokrat lapangan yang selama bertahun-tahun bersentuhan langsung dengan petani, sengketa tanah, kebijakan negara, dan harapan masyarakat kecil. Ada pengalaman, ada perenungan, dan ada kegelisahan yang ia bungkus dalam bahasa yang rapi dan dapat dijangkau pembaca luas.

 

Lahir dari Perpaduan Ruang Kelas dan Lumpur Lapangan

 

Ide buku ini tidak muncul tiba-tiba. Saat menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Zainul menemukan bahwa teori-teori kebijakan publik hanya berpijak teguh ketika diuji di lapangan. Sebaliknya, pengalaman lapangan tidak akan memiliki makna bila tidak diletakkan dalam kerangka akademik yang kuat.

 

“Reforma agraria selalu menjadi agenda besar negara, tetapi implementasinya tidak pernah sederhana,” tulisnya dalam pengantar buku.

 

Selama lebih dari lima tahun bertugas menangani Reforma Agraria di Kantor Pertanahan Kota Batu, Zainul merasakan langsung bagaimana beratnya menata kembali struktur penguasaan tanah yang timpang, menghadapi konflik agraria kronis, sampai berhadapan dengan regulasi yang saling berbenturan.

 

Pengalaman-pengalaman itulah yang kemudian ia satukan dengan kajian akademik, hingga lahir buku yang dianggap sebagai salah satu referensi segar dalam dunia pertanahan.

 

Dipuji Para Akademisi, Disambut Praktisi

 

Buku ini langsung menuai apresiasi dari para pakar. Prof. Mangku Purnomo, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, menyebut bahwa karya ini mengingatkan kembali pada hal paling mendasar: tanah adalah ruang hidup. Ia menilai penulis berhasil menjelaskan hubungan manusia dan tanah, ketimpangan penguasaan, serta dinamika politik global hingga lokal tentang reforma agraria.

 

“Reforma agraria adalah jalan untuk memberikan akses yang adil kepada rakyat agar mereka bisa hidup sejahtera,” tulis Prof. Mangku dalam pengantarnya.

 

Tak kalah penting, Prof. Dr. Drs. Bambang Santoso Haryono, MS, Guru Besar FIA UB, menilai buku ini istimewa karena membawa sudut pandang administrasi publik—sesuatu yang jarang disentuh dalam literatur agraria. Ia menyebut pembahasan mengenai Kampung Reforma Agraria sebagai model inovatif yang dapat menjadi inspirasi kebijakan daerah.

 

Mengurai Kegelisahan Agraria Indonesia

 

Melalui gaya penyampaian yang runtut, buku ini mengajak pembaca menyelami berbagai persoalan klasik yang masih membayangi reforma agraria Indonesia:

 

ketimpangan penguasaan lahan,

konflik pertanahan yang tak kunjung surut,

lambatnya pelepasan TORA dari kawasan hutan,

tumpang tindih kewenangan antar lembaga,

hingga lemahnya penegakan hukum bagi petani kecil.

 

Penulis menyuguhkan argumen bahwa keberhasilan reforma agraria tidak hanya bertumpu pada penataan aset seperti sertifikasi tanah, tetapi juga pada penataan akses—pemberdayaan ekonomi, modal, dan kemampuan usaha penerima tanah.

 

Buku yang Mengajak Pembaca Merenung

 

Di beberapa bagian, pembaca akan menemukan renungan-renungan Zainul tentang masa depan keadilan agraria. Ia menyinggung bagaimana reforma agraria di Indonesia sering kali terjebak menjadi proyek administratif, bukan gerakan pemberdayaan. Ia membandingkan praktik di beberapa negara, menunjukkan bagaimana politik agraria tidak pernah lepas dari corak kekuasaan negara.

 

Pada titik inilah buku ini bergerak seperti feature: tidak hanya bicara fakta, tetapi juga membawa pembaca ke belakang panggung kebijakan—menyentuh sisi manusia, sisi perjuangan, dan sisi keadilan yang menjadi napas reforma agraria itu sendiri.

 

Kontribusi Penting dari Seorang Praktisi Lapangan

 

Ketika kebanyakan buku agraria ditulis oleh akademisi atau pegiat LSM, buku ini berbeda. Ia ditulis oleh seorang aparatur sipil negara yang sehari-hari berkutat dengan data, sengketa, musyawarah desa, pemetaan, hingga pendampingan masyarakat. Perspektif lapangan inilah yang menjadikan buku ini terasa dekat, nyata, dan relevan bagi pembuat kebijakan.

 

Bagi mahasiswa, buku ini memberikan gambaran komprehensif; bagi ASN di daerah, buku ini bisa menjadi manual praktis; bagi masyarakat umum, buku ini menjadi pintu masuk untuk memahami mengapa reforma agraria tetap menjadi agenda perjuangan panjang di Indonesia.

 

Pada akhirnya, buku “Reforma Agraria (Konsepsi & Implementasi)” bukan hanya catatan, tetapi ajakan. Ajakan untuk terus memperjuangkan keadilan agraria; ajakan untuk melihat tanah bukan hanya sebagai aset ekonomi, tetapi sebagai ruang hidup; ajakan untuk merawat harapan akan masa depan yang lebih adil.

 

Dengan hadirnya buku ini, UB Press menambah satu karya penting dalam literatur agraria Indonesia—sebuah kontribusi nyata dari seorang praktisi yang memilih berbagi pengalaman agar tidak hilang ditelan waktu.( Buang Supeno)