Istiqomah Menepati Janji, Pesan Moral dari Khutbah Idul Fitri di Gowa
Makassar | Serulingmedia.com – Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M dimanfaatkan sebagai pengingat pentingnya menjaga integritas diri melalui sikap istiqomah dalam menepati janji.
Hal tersebut menjadi inti khutbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Baso Amang di Masjid At-Taqwa, Kabupaten Gowa.
Baso Amang diketahui merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar yang aktif memberikan pencerahan keilmuan dan keagamaan di tengah masyarakat.
Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa kepercayaan merupakan “mata uang” paling berharga dalam kehidupan manusia. Di tengah dinamika zaman yang serba cepat, nilai sebuah janji kerap mengalami degradasi dan hanya dianggap sebagai formalitas belaka.
“Padahal, setiap janji mengandung beban moral, sosial, dan spiritual yang besar. Istiqomah dalam menepati janji bukan sekadar etika, tetapi fondasi utama peradaban yang sehat,” ujarnya.
Dimensi Spiritual: Janji sebagai Amanah Ilahi
Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, janji memiliki nilai sakral. Menepati janji merupakan perintah langsung dari Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an. Bahkan, ingkar janji disebut sebagai salah satu ciri kemunafikan.
Menurutnya, janji kepada sesama manusia sejatinya adalah janji di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, melalaikannya sama dengan meruntuhkan integritas spiritual diri sendiri.
“Istiqomah menjadi penting karena godaan untuk melanggar janji sering kali muncul, terutama saat janji tersebut menuntut pengorbanan,” tambahnya.
Dimensi Sosial: Membangun Kepercayaan Publik
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya janji dalam kehidupan sosial. Janji menjadi perekat hubungan antarindividu yang membangun kepercayaan (trust). Tanpa kepercayaan, masyarakat akan dipenuhi kecurigaan dan konflik.
Dalam dunia profesional maupun personal, reputasi seseorang tidak dibentuk oleh kata-kata, melainkan oleh rekam jejak dalam menepati janji.
“Ketika ingkar janji menjadi budaya, seperti fenomena ‘jam karet’ atau janji politik yang tidak ditepati, maka akan muncul gesekan sosial yang merugikan banyak pihak,” jelasnya.
Dimensi Psikologis: Menjaga Ketenangan Jiwa
Dari sisi psikologis, kegagalan menepati janji juga berdampak pada kesehatan mental. Rasa bersalah yang terus menerus dapat menurunkan harga diri seseorang.
Sebaliknya, sikap istiqomah dalam berjanji akan membangun rasa percaya diri dan ketenangan batin. Individu tidak perlu lagi mencari alasan atau menutup-nutupi kesalahan karena hidup dalam kejujuran.
Tantangan dan Solusi
Baso Amang juga menguraikan sejumlah tantangan dalam menjaga komitmen, seperti kebiasaan menyenangkan semua pihak, meremehkan janji kecil, hingga perubahan kondisi yang membuat janji sulit dipenuhi.
Sebagai solusi, ia mendorong umat untuk lebih bijak dalam berjanji dengan prinsip “berjanji secukupnya, memberi hasil maksimal”.
Ia juga menekankan pentingnya tanggung jawab, termasuk berani meminta maaf dan melakukan komunikasi ulang jika tidak mampu memenuhi janji.
“Karakter istiqomah dibangun dari hal-hal kecil. Jika janji kecil saja diabaikan, maka janji besar pun akan mudah diingkari,” tegasnya.
Khutbah tersebut ditutup dengan pengingat bahwa Allah SWT tidak pernah mengingkari janji-Nya, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an. Nilai ini diharapkan menjadi teladan bagi umat Islam dalam menjaga amanah dan kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari.( Yah/Eno).






