Refleksi 24 Tahun Kota Batu: Menanam Harapan, Menjaga Napas Alam

WhatsApp-Image-2025-05-30-at-101351-3904515609

Batu | Serulingmedia.com — Kota Batu — kota wisata yang dulu dijuluki Swiss-nya Jawa Timur karena kesejukan dan kesuburannya.

Namun, di balik kemajuan investasi dan geliat pembangunan, tersimpan tanda tanya besar: sampai kapan alam mampu menahan laju perubahan yang tidak ramah lingkungan?

Menjelang Ulang Tahun ke-24 Kota Batu, 17 Oktober 2025, masyarakat Sedulur SAE merenung.

Kemajuan yang dibangun dengan beton dan lampu gemerlap seakan menjauhkan Batu dari akar hijau yang menjadi napasnya.

Dalam forum refleksi budaya bertajuk “Selamatkan Napas Batu”, budayawan dan pemerhati lingkungan Robiyan menyampaikan pesan mendalam:

“Alam adalah bagian dari budaya kita. Dalam setiap doa dan sesaji desa, selalu terselip harapan agar bumi tetap lestari. Ketika pohon tumbang tanpa doa, ketika air mengering tanpa rasa syukur, maka budaya kita perlahan mati bersama alamnya.”

Ia mengajak seluruh warga Batu untuk menumbuhkan kembali kesadaran ekologis sebagai warisan budaya, bukan sekadar wacana modernisasi.

“Menanam pohon itu bukan hanya menjaga alam, tapi menjaga martabat manusia sebagai makhluk yang punya rasa,” ujarnya tegas.

Sementara itu, Gaib Sampurno, Ketua LSM Alab-Alab, turut menyoroti pentingnya keberpihakan kebijakan terhadap lingkungan.

Menurutnya, Pemerintah Kota Batu perlu segera memperkuat Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan sumber air dan kawasan resapan, agar pembangunan tidak lagi menekan ruang hidup alam.

“Batu harus segera memiliki Perda yang tegas tentang sumber air dan penyelamatan lingkungan. Kita tidak bisa terus membiarkan pembangunan berjalan tanpa arah yang berpihak pada keseimbangan alam,” tegasnya.

“Sudah saatnya ada gerakan nyata menanam hutan kembali — bukan hanya seremoni, tapi aksi bersama seluruh lapisan masyarakat,” lanjutnya.

Peringatan itu bukan tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, bencana banjir bandang, longsor, hingga turunnya satwa liar ke pemukiman menjadi alarm nyata degradasi lingkungan.

Data menunjukkan, Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kota Batu bahkan turun drastis dari peringkat 7 nasional pada 2023 menjadi 131 pada 2024 — sebuah sinyal bahaya yang tak boleh diabaikan.

Namun, harapan belum padam. Gerakan Sedulur SAE kini mulai menggeliat: dari petani, pelaku wisata, pelajar, hingga komunitas lingkungan, semuanya bergerak menanam pohon, menata lahan kritis, dan menjaga aliran air dari hulu.

Mereka percaya, masa depan Batu tidak hanya ditentukan oleh angka investasi, tetapi oleh kemampuan menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya.

Dan seperti yang diucapkan Robiyan dengan lirih malam itu di kaki Arjuno:

“Ketika manusia kembali menanam pohon, sejatinya ia sedang menanam harapan — untuk anak cucunya, dan untuk macan tutul yang kini menunggu rumahnya kembali hijau.”

Doa bersama dipanjatkan Di tengah hening yang sakral, satu per satu tangan menanam bibit pohon di tepi sumber mata air semua larut dalam prosesi sederhana tapi bermakna: “Menanam Pohon, Menanam Harapan.”

Dari tanah yang digali itu, lahir bukan sekadar tunas, tapi tekad baru: menjaga Batu agar tetap bernafas hijau, lestari, dan berbudaya.

Selamat Ulang Tahun Kota Batu ke-24. Kami mencintaimu bukan hanya karena keindahanmu, tapi karena napas kehidupan yang masih kau hembuskan.
Salam Sedulur SAE. ( Eno).