24 Tahun Kepergian Ustadz Abdullah Bin Awad Abdun, Prof. Abdul Hamid: Warisan Terbesar Beliau Adalah Akhlak dan Kasih Sayang

1800591_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Dua puluh empat tahun setelah wafatnya pendiri Pondok Pesantren Daruttauhid Malang, Almarhum Ustadz Abdullah Bin Awad Abdun, sosok ulama kharismatik itu dinilai tetap hidup melalui keteladanan, akhlak, dan nilai-nilai pendidikan yang diwariskan kepada ribuan muridnya.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, M.A., Ketua Yayasan Daruttauhid Malang sekaligus Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam refleksi bertajuk “Guru yang Menggenggam Tangan Muridnya: Mengenang 24 Tahun Kepergian Ustadz Abdullah Bin Awad Abdun.”

Menurut Prof. Abdul Hamid, Ustadz Abdullah bukan hanya seorang pendidik, tetapi seorang murabbi yang membangun karakter murid melalui kasih sayang dan keteladanan.

 

“Ada guru yang mengajar dengan kata-kata. Ada guru yang mendidik dengan keteladanan. Tetapi hanya sedikit guru yang membesarkan muridnya dengan cinta,” tulis Prof. Abdul Hamid.

 

Ia menilai, di tengah era ketika kepemimpinan sering diukur dari jabatan, popularitas, dan besarnya pengaruh, sosok Ustadz Abdullah justru menghadirkan teladan kepemimpinan yang dibangun di atas ketulusan.

Sebagai alumnus Daruttauhid yang mulai menempuh pendidikan di pesantren tersebut pada Juni 1989, Prof. Abdul Hamid mengaku merasakan langsung perhatian pribadi sang guru kepada setiap santri.

 

Menurutnya, Ustadz Abdullah mengenal nama para santri, orang tua mereka, daerah asal, hingga memahami kondisi psikologis masing-masing.

 

“Beliau bukan hanya hafal kitab, tetapi juga hafal hati murid-muridnya,” ungkapnya.

 

Ia mengenang bagaimana setiap hari Ustadz Abdullah menyapa para santri, menanyakan kesehatan, pelajaran, hingga kondisi keluarga mereka. Sapaan itu, katanya, tidak pernah sekadar formalitas, melainkan lahir dari kasih sayang yang tulus.

 

Pendidikan Berbasis Kasih Sayang

Prof. Abdul Hamid menilai pendekatan pendidikan yang diterapkan Ustadz Abdullah jauh melampaui proses transfer ilmu.

 

Salah satu kenangan yang paling membekas adalah kebiasaan sang guru menggenggam tangan santri ketika berjalan bersama.

 

“Bagi kami yang jauh dari orang tua, genggaman itu menghadirkan rasa aman dan kasih sayang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata,” tuturnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut membentuk keyakinan bahwa pendidikan sejati adalah membangun manusia secara utuh, bukan sekadar mencetak lulusan yang cerdas secara akademik.

 

Menanamkan Disiplin dan Adab

Dalam refleksinya, Prof. Abdul Hamid juga mengingat sebuah nasihat sederhana yang hingga kini terus menjadi pegangan hidupnya.

 

Ketika hendak menghadiri sebuah undangan, Ustadz Abdullah berpesan:

“Kun muntadhiran wa la muntadharan.”
“Jadilah orang yang menunggu, jangan menjadi orang yang ditunggu.”

Pesan tersebut, menurutnya, bukan sekadar mengajarkan kedisiplinan waktu, tetapi juga penghormatan kepada orang lain melalui adab.

“Datang lebih awal adalah bentuk penghormatan kepada sesama,” katanya.

Dakwah di Semua Bidang Kehidupan

Prof. Abdul Hamid juga menyoroti pandangan luas Ustadz Abdullah mengenai dakwah.

Menurutnya, sang guru tidak pernah membatasi pengabdian hanya melalui mimbar atau menjadi ulama.

Sebaliknya, beliau selalu mendorong para santri untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin dan mengabdi sesuai profesinya masing-masing.

 

“Beliau selalu berpesan agar kami tidak melupakan dakwah, apa pun profesi yang kami jalani,” ujarnya.

Karena itulah, alumni Daruttauhid kini tersebar sebagai dosen, guru, hakim, pengusaha, anggota TNI, legislator, akademisi, hingga profesional di berbagai bidang, dengan semangat menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

 

Membangun Peradaban, Bukan Pengikut

Dalam analisanya, Prof. Abdul Hamid menilai keberhasilan terbesar Ustadz Abdullah bukanlah membangun institusi semata, melainkan membangun peradaban melalui manusia-manusia yang berakhlak.

Ia menyebut warisan paling berharga yang ditinggalkan pendiri Daruttauhid adalah sikap tawaduk, rendah hati, tidak gemar mencela, serta menjadikan akhlakul karimah sebagai fondasi dakwah.

 

“Beliau tidak sedang membangun pengikut. Beliau sedang membangun peradaban,” tegasnya.

 

Di tengah derasnya polarisasi, ujaran kebencian, dan budaya saling menghakimi, Prof. Abdul Hamid menilai teladan Ustadz Abdullah semakin relevan untuk dihadirkan kembali.

Haul sebagai Momentum Menghidupkan Nilai

Menurut Prof. Abdul Hamid, peringatan haul tidak semata menjadi agenda mengenang seseorang yang telah wafat.

Lebih dari itu, haul merupakan momentum menghidupkan kembali nilai-nilai pendidikan, kepemimpinan, dan dakwah yang diwariskan.

“Mengenang beliau berarti mengingat bahwa pendidikan adalah tentang kasih sayang, kepemimpinan adalah tentang melayani, dan dakwah adalah mengajak kepada kebaikan, bukan memenangkan perdebatan,” ujarnya.

Ia berharap seluruh murid dan alumni Daruttauhid mampu menjaga warisan besar tersebut melalui pengamalan ilmu, kemuliaan akhlak, serta dakwah yang menghadirkan rahmat bagi sesama.

 

“Semoga Allah SWT menerima seluruh amal saleh beliau, melapangkan kuburnya, meninggikan derajatnya di sisi-Nya, dan menjadikan kami sebagai murid yang mampu menjaga warisan terbesar yang beliau tinggalkan,” pungkas Prof. Abdul Hamid.( Eno)