UIN Malang Dorong Sivitas Akademika Go Internasional Lewat Sosialisasi Erasmus+

1460356_11zon

Malang | Serulingmedia.com – UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus memperkuat langkah internasionalisasi kampus melalui sosialisasi program Erasmus+ yang digelar secara daring oleh International Office (IO) UIN Malang, Kamis(21/5/2026).

 

Kegiatan ini menjadi upaya strategis untuk mendorong mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan memperluas kompetensi akademik serta jejaring global.

 

Sosialisasi yang berlangsung melalui Zoom tersebut dibuka langsung oleh Pelaksana Harian Rektor UIN Malang sekaligus Wakil Rektor I Bidang Akademik, Drs. H. Basri, M.A., Ph.D..

 

Kegiatan menghadirkan narasumber dari Delegasi Uni Eropa, Destriani Nugroho, serta dosen Fakultas Saintek UIN Malang sekaligus alumni Erasmus+, Dr. Ir. Arief Rakhman Setiono, S.T., M.T..

Dalam sambutannya, Basri menegaskan bahwa program Erasmus+ merupakan peluang besar bagi sivitas akademika untuk meningkatkan kapasitas akademik sekaligus memperoleh pengalaman internasional yang kompetitif.

“Kesempatan ke Eropa merupakan good opportunity yang harus dimanfaatkan dengan baik. Yang paling penting adalah memiliki kompetensi linguistik dan mempersiapkan diri sejak dini. Penguasaan bahasa asing harus diperkuat meskipun terdapat fleksibilitas dalam beberapa program,” ujarnya.

 

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak Erasmus+ dan Uni Eropa yang telah membuka peluang kerja sama internasional bagi UIN Malang, khususnya kepada Destriani Nugroho sebagai perwakilan Delegasi European Union.

 

Kegiatan sosialisasi dipandu oleh moderator Arofiatus Sa’diyah dari tim International Office UIN Malang.

 

Dalam pemaparannya, Destriani Nugroho menjelaskan berbagai skema dan peluang program Erasmus+ yang didanai Uni Eropa untuk mendukung sektor pendidikan, kepemudaan, dan olahraga.

 

Menurutnya, program tersebut tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa, tetapi juga dosen, tenaga kependidikan, hingga institusi perguruan tinggi untuk memperkuat kolaborasi internasional antara negara-negara Uni Eropa dan negara mitra di luar kawasan Eropa.

Destriani menjelaskan bahwa hasil studi peserta di luar negeri nantinya dapat diakui dan dikonversi ke sistem pendidikan di Indonesia melalui mekanisme European Credit Transfer System (ECTS).

 

Ia juga menegaskan bahwa kerja sama Erasmus+ tidak menggunakan Memorandum of Understanding (MoU), melainkan Inter Institutional Agreement yang telah memiliki standar internasional sehingga dinilai lebih aman dan terstruktur.

Dalam sesi tersebut, Destriani turut memperkenalkan dua dimensi utama Erasmus+, yakni European Dimension dan International Dimension.

 

Salah satu program unggulan yang banyak diminati adalah Erasmus Mundus Joint Master, program magister internasional dengan masa studi satu hingga dua tahun di berbagai universitas mitra di Eropa.

 

Sementara itu, Arief Rakhman Setiono membagikan pengalamannya mengikuti program International Staff Exchange di Polandia selama tujuh hari.

 

Program yang berlangsung di Fakultas Teknik Sipil tersebut memberikan pengalaman akademik internasional sekaligus memperluas jejaring global antarperguruan tinggi.

 

Melalui kegiatan ini, UIN Malang berharap semakin banyak sivitas akademika yang terdorong mengikuti program internasional dan aktif membangun kolaborasi global melalui Erasmus+.( Eno).