Ancaman TBC Mengintai Keluarga, Wamenkes Dorong Kota Batu Perkuat Deteksi Dini

2224989_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Ancaman tuberkulosis (TBC) yang menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus mendorong pemerintah memperkuat strategi pemberantasan hingga ke tingkat keluarga.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K), FISR, menegaskan, pengobatan pasien saja tidak cukup untuk memutus rantai penularan jika anggota keluarga yang berkontak erat tidak ikut diperiksa dan mendapatkan terapi pencegahan sesuai indikasi medis.

Penegasan itu disampaikan Benjamin saat menghadiri Deklarasi Penguatan Komitmen Desa/Kelurahan Siaga TBC se-Kota Batu sekaligus peluncuran program Satu Desa dan Kelurahan Satu Dokter di Gedung Graha Pancasila, Balai Kota Batu, Jumat (23/10/2026).

Ia mengajak pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader PKK, kepala desa, lurah, hingga masyarakat bergerak bersama memperkuat deteksi dini dan mencegah munculnya kasus baru. Menurutnya, pemberantasan TBC tidak bisa hanya mengandalkan rumah sakit dan puskesmas, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat sampai ke lingkungan tempat tinggal pasien.

“Pemberantasan TBC ini membutuhkan kolaborasi. Kementerian tidak bisa bekerja sendiri untuk menjangkau masyarakat sampai ke rumah-rumah,” tegas Benjamin.
Pengobatan Tinggi, Penularan Belum Terputus

Benjamin menjelaskan, salah satu persoalan utama dalam pemberantasan TBC di Indonesia adalah pendekatan yang selama ini lebih berfokus pada pengobatan orang yang sudah sakit.

Padahal, orang yang tinggal serumah dengan pasien berisiko terpapar, tetapi belum tentu langsung mengalami gejala.

Ia menyebutkan, tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Jawa Timur telah melampaui 90 persen. Bahkan, secara nasional, capaian pengobatan di berbagai provinsi sudah relatif tinggi.

Namun, keberhasilan tersebut belum otomatis menurunkan jumlah kasus secara signifikan apabila penularan di lingkungan keluarga terus berlangsung.

“Yang sakit diobati, tetapi orang yang berkontak erat juga harus diperiksa. Jika memenuhi indikasi, mereka perlu mendapatkan obat pencegahan,” ujarnya.

Menurut Benjamin, orang yang terinfeksi TBC tidak selalu langsung menunjukkan gejala. Karena itu, pemeriksaan terhadap kontak serumah menjadi langkah penting untuk menemukan infeksi lebih awal dan menentukan tindakan medis yang diperlukan sebelum penularan berlanjut.

Pemerintah kini mendorong pemeriksaan kontak erat melalui pemeriksaan kesehatan, termasuk rontgen, serta pemberian terapi pencegahan TBC atau TPT sesuai indikasi medis.

Benjamin meminta kepala daerah tidak hanya mengevaluasi jumlah pasien yang ditemukan dan diobati, tetapi juga memantau cakupan pemeriksaan kontak serumah dan pemberian terapi pencegahan. Indikator tersebut dinilai penting untuk mengukur keseriusan daerah dalam memutus rantai penularan.

CKG Jangkau 109 Juta Penduduk

Dalam kesempatan itu, Benjamin juga menekankan pentingnya perubahan orientasi pelayanan kesehatan nasional, dari yang semula lebih berfokus pada pengobatan menjadi mengutamakan pencegahan.


Ia menyampaikan, hingga 18 Oktober 2026, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah menjangkau sekitar 109 juta orang di Indonesia. Khusus Jawa Timur, jumlah masyarakat yang telah menjalani pemeriksaan mencapai sekitar 18,7 juta orang.

Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan capaian CKG yang dinilai baik. Kota Batu juga memiliki potensi untuk memperkuat upaya pencegahan penyakit melalui dukungan tenaga kesehatan dan komitmen pemerintah daerah.

Sebelum menghadiri deklarasi, Benjamin meninjau pelayanan kesehatan di Desa Gunungsari. Ia melihat pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil sebagai salah satu contoh pentingnya deteksi dini untuk mencegah komplikasi dan menekan risiko kematian ibu.

Menurutnya, pendekatan preventif juga perlu diterapkan terhadap penyakit tidak menular, seperti hipertensi dan diabetes. Jika faktor risiko diketahui lebih awal dan ditangani dengan tepat, kemungkinan komplikasi serius, seperti stroke, gangguan ginjal, dan serangan jantung, dapat ditekan.

Program CKG diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan sebelum penyakit berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Kota Batu Siapkan 41 Titik Pelayanan

Dalam upaya memperluas penemuan kasus TBC, Kota Batu memiliki 41 titik pelayanan pemeriksaan yang mencakup pemeriksaan kesehatan dan rontgen.

Pemerintah juga mendorong penguatan koordinasi dengan rumah sakit swasta agar akses terhadap obat pencegahan TBC semakin luas.

Selain itu, pengadaan alat rontgen portabel direncanakan untuk mendukung pemeriksaan lebih cepat dan menjangkau lebih banyak masyarakat melalui puskesmas.

Ke depan, jumlah titik pelayanan dan fasilitas pemeriksaan akan terus dikembangkan agar kelompok berisiko dapat dijangkau secara lebih luas.

Benjamin menilai, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kemampuan pemerintah daerah menggerakkan masyarakat. Kader PKK, kepala desa, lurah, camat, dan tenaga kesehatan harus bekerja bersama memastikan keluarga pasien mendapatkan pemeriksaan yang diperlukan.

Ia juga meminta pemerintah daerah memantau perkembangan terapi pencegahan TBC secara berkala melalui laporan puskesmas. Dengan demikian, pelaksanaan program tidak berhenti pada deklarasi, tetapi dapat diukur melalui peningkatan pemeriksaan kontak erat dan upaya pencegahan penularan.

Satu Desa Satu Dokter Perkuat Akses Kesehatan

Peluncuran program Satu Desa dan Kelurahan Satu Dokter di Kota Batu diharapkan memperkuat akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, termasuk untuk deteksi dini TBC dan penyakit lainnya.

Benjamin mengapresiasi potensi sumber daya manusia serta komitmen Pemerintah Kota Batu dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Ia menekankan pentingnya sinergi wali kota, wakil wali kota, DPRD, tenaga kesehatan, dan kader PKK untuk menekan angka TBC serta stunting.

Menurutnya, kepala daerah memiliki peran strategis dalam memastikan program pencegahan berjalan hingga tingkat desa dan kelurahan. Kepala daerah dapat meminta kepala puskesmas melaporkan perkembangan pemeriksaan kontak serumah dan cakupan terapi pencegahan TBC sebagai bagian dari evaluasi rutin.

Ia berharap gerakan bersama tersebut mampu menekan kasus TBC dalam dua hingga tiga tahun mendatang.

Pemerintah Siapkan Penguatan Puskesmas
Selain pemberantasan TBC, Benjamin menyampaikan rencana pemerintah memperkuat infrastruktur pelayanan kesehatan nasional.

Presiden Prabowo Subianto, menurutnya, mendorong renovasi puskesmas yang mengalami kerusakan serta pembangunan puskesmas baru di wilayah yang membutuhkan.

Puskesmas baru diprioritaskan untuk wilayah yang belum memiliki fasilitas tersebut atau memiliki jumlah penduduk yang besar sehingga membutuhkan tambahan kapasitas pelayanan.

Pemerintah daerah diharapkan menyiapkan lahan sesuai persyaratan agar pembangunan dapat direalisasikan.

Penguatan fasilitas kesehatan tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas akses pelayanan dari wilayah perkotaan hingga daerah terpencil.

Bagi Kota Batu, penguatan layanan primer melalui program Satu Desa dan Kelurahan Satu Dokter, CKG, serta pemeriksaan TBC diharapkan membuat masyarakat lebih mudah memperoleh layanan kesehatan sejak dini.

Benjamin menegaskan, penanganan TBC harus dimulai dari hulu melalui penemuan kasus, pemeriksaan kontak erat, pengobatan pasien, dan terapi pencegahan bagi mereka yang memenuhi indikasi.

Tanpa langkah pencegahan yang konsisten, penularan berisiko terus berlangsung meskipun pasien yang telah terdiagnosis mendapatkan pengobatan.( Eno)