Pemkab Gowa Rumuskan Strategi Konkret Entaskan Kemiskinan Ekstrem Lewat Kolaborasi Multipihak
Gowa | Serulingmedia.com – Pemerintah Kabupaten Gowa menunjukkan keseriusannya dalam menekan angka kemiskinan ekstrem dengan merumuskan strategi konkret berbasis kolaborasi lintas sektor. Upaya tersebut diwujudkan melalui sinergi bersama berbagai pihak guna mencari solusi komprehensif dan langkah terarah.
Salah satu langkah nyata dilakukan dengan menggandeng Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Selatan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Gowa Maju: Gerak Bersama Hapus Miskin Ekstrem” yang digelar di Baruga Tinggimae, Rumah Jabatan Bupati Gowa.
Kegiatan ini dihadiri langsung Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang, akademisi Muhaemin Latif sebagai narasumber, serta Bahtiar M A Saleh yang bertindak sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Bupati Talenrang menegaskan bahwa persoalan kemiskinan tidak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas manusianya.
“Berbicara kemiskinan berarti berbicara tentang SDM. Kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik seperti gedung tinggi, jalan mulus, sarana pendidikan, dan kesehatan, tetapi yang paling utama adalah kualitas SDM-nya,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Ia mengungkapkan, pada awal masa pemerintahannya, Pemkab Gowa terus mendorong pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Gowa tercatat mencapai 7,04 persen, melampaui capaian Sulawesi Selatan sebesar 5,43 persen dan nasional 5,11 persen.
Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Gowa juga menunjukkan tren positif, meningkat dari 71,74 pada 2021 menjadi 74,22 pada 2025, yang menempatkan Gowa dalam kategori tinggi.
“IPM yang tinggi menjadi modal utama bagi masyarakat miskin untuk keluar dari kemiskinan secara permanen melalui peningkatan keterampilan dan kesehatan,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah menekan kemiskinan ekstrem hingga nol persen sesuai amanat Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025. Menurutnya, kemiskinan bersifat dinamis dan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk perubahan kebijakan nasional.
Pemkab Gowa pun menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai dasar intervensi berbasis by name by address, dengan fokus pada kelompok masyarakat paling rentan.
“Strategi penanggulangan dilakukan melalui tiga pilar utama, yakni pengurangan beban pengeluaran, peningkatan pendapatan melalui pemberdayaan ekonomi dan UMKM, serta penyediaan infrastruktur dasar,” tambahnya.
Sebagai bentuk implementasi, Pemkab Gowa menjalankan Program Gowa Massunggu yang menyasar 357 keluarga miskin ekstrem melalui skema Orang Tua Asuh (OTA). Program ini didukung lebih dari 200 OTA dari unsur ASN, DPR, dan perusahaan daerah, dengan total 43 jenis intervensi lintas sektor.
Sementara itu, Ketua IJTI Sulsel, Andi Mohammad Sardi, menilai kolaborasi antara pemerintah dan media menjadi langkah strategis dalam percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem.
“Sinergi ini penting untuk menghadirkan informasi yang akurat, edukatif, dan berimbang kepada publik, sekaligus mengawal kebijakan agar berjalan transparan dan tepat sasaran,” ujarnya.
Ia berharap keterlibatan media mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong partisipasi seluruh elemen dalam mendukung program pemerintah.
FGD ini juga dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari OPD terkait, pendamping desa, hingga perwakilan masyarakat penerima manfaat, sebagai bagian dari upaya bersama mewujudkan Gowa yang maju dan sejahtera. (Yah/Eno)






