Kasus Keracunan Siswa, LSM Alab-Alab Desak Pengelolaan MBG Diserahkan ke Kantin Sekolah

Screenshot_20240218-131117_WhatsApp

Batu | Serulingmedia.com – Kasus keracunan siswa pasca makan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian serius LSM Alab-Alab Kota Batu.

Ketua LSM Alab-Alab Gaib Sampurna mengungkapkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya lahir dari niat mulia untuk meningkatkan mutu kesehatan siswa serta mendukung kecerdasan bangsa melalui pemberian makanan sehat di sekolah.

Gaib menilai program mulia tersebut gagal di tingkat pelaksanaan karena lemahnya pengawasan mutu makanan yang berpotensi merusak tujuan utama program tersebut.

Disebutkan, hasil temuan di lapangan menunjukkan banyak kelemahan, mulai dari tempat makan yang masih berbau amis, sayuran basi, hingga ayam yang tidak matang sempurna.

“Ini menunjukkan kerja dapur MBG tidak maksimal dan tidak ada pengawasan terhadap mutu makanan yang dikirim ke sekolah,” ujarnya, Senin (29/9/2025).

LSM Alab-Alab pun mendorong solusi konkret dengan menyerahkan pengelolaan distribusi MBG kepada kantin sekolah.

Menurut Gaib, langkah ini bisa mempersingkat rantai distribusi sekaligus menjamin makanan tersaji segar dan higienis.

“Kantin sekolah bertindak sebagai dapur MBG, mempersingkat rantai distribusi serta mengurangi risiko keracunan karena makanan disajikan segar,” tegasnya.

Ia menambahkan, kantin sekolah lebih memahami kondisi dan karakteristik lingkungan, sehingga distribusi makanan akan lebih efektif.

Selain itu, risiko keracunan bisa ditekan karena makanan tidak perlu menempuh perjalanan jauh sebelum sampai ke siswa.

Lebih jauh, Gaib menegaskan agar oknum pegawai pemerintah maupun legislatif tidak terlibat langsung dalam pengelolaan MBG.

Menurutnya, campur tangan pihak-pihak tersebut justru berpotensi memunculkan polemik baru.

“Pengelolaan MBG tidak boleh ada oknum pihak pemerintah maupun anggota legislatif ikut menangani. Saya akan awasi,” pungkasnya.

Kasus ini menjadi alarm penting bahwa program MBG memerlukan evaluasi serius.

Dengan demikian, kritik dan usulan dari LSM Alab-Alab ini menjadi refleksi penting bagi semua pihak terkait untuk mengevaluasi program MBG.

Supaya tujuan mulianya benar-benar tercapai, diperlukan pengelolaan yang profesional, transparan, dan dekat dengan kebutuhan sekolah.

Hanya dengan cara itu, MBG bisa menjadi solusi nyata bagi kesehatan dan kecerdasan generasi bangsa, bukan sebaliknya menjadi ancaman kesehatan bagi para siswa.

Pengelolaan yang profesional, dekat dengan sekolah, dan bebas dari kepentingan politik mutlak dibutuhkan. (Eno).