Ita Hidayatus Sholihah: Kampus Besar Harus Terasa Dekat, Pelayanan Jadi Ukuran Keunggulan UIN Maliki Malang

ITA HIDAYATUS.jpeg2_11zon

Malang I Serulingmedia.com – Memasuki usia ke-65 pada 28 Oktober 2026, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dihadapkan pada tantangan untuk memastikan bahwa pertumbuhan prestasi, reputasi internasional, dan kemajuan institusi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat.

Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (AAKK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ita Hidayatus Sholihah, S.Ag., M.M., menegaskan, keunggulan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari akreditasi, pemeringkatan, kemegahan infrastruktur, maupun luasnya jejaring internasional. Lebih dari itu, keunggulan harus tercermin dalam kualitas pelayanan yang dirasakan setiap hari oleh seluruh sivitas akademika.

Pandangan tersebut menjadi inti refleksi Ita dalam menyambut Dies Maulidiyah ke-65 UIN Maliki Malang bertajuk “Kampus Besar Harus Terasa Dekat”.

Menurut Ita, enam dekade lebih perjalanan UIN Maliki Malang merupakan buah dari sejarah panjang, perjuangan, prestasi, dan cita-cita besar. Namun, kebanggaan atas capaian tersebut perlu diimbangi dengan pertanyaan mendasar: sejauh mana pertumbuhan universitas memberikan manfaat nyata bagi mereka yang dilayani?

“Apakah semakin besarnya universitas juga membuat semakin besar manfaat yang dirasakan oleh mereka yang dilayani?” demikian pertanyaan reflektif yang diajukannya.

Bagi Ita, pertanyaan itu penting untuk memastikan bahwa kemajuan institusi tidak berhenti pada capaian yang terlihat dari luar, tetapi juga hadir dalam pengalaman nyata mahasiswa ketika mengakses layanan akademik, memperoleh kesempatan mengembangkan diri, maupun mengikuti program kerja sama.

Pelayanan Akademik Tidak Boleh Menjadi Labirin Birokrasi

Sebagai unit yang menangani administrasi akademik, kemahasiswaan, dan kerja sama, Biro AAKK memiliki posisi strategis dalam membangun pengalaman layanan yang lebih baik di lingkungan kampus.

Ita menilai, administrasi akademik harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru menambah beban bagi mahasiswa. Mahasiswa datang ke perguruan tinggi untuk membangun masa depan, mengembangkan ilmu, dan meraih cita-cita. Karena itu, energi mereka seharusnya tidak terkuras hanya untuk mencari kepastian mengenai prosedur pelayanan.

Pelayanan akademik, menurutnya, perlu terus diarahkan agar semakin sederhana, cepat, transparan, dan solutif.

Transformasi tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan pemanfaatan teknologi digital, melainkan juga perubahan cara pandang dalam bekerja. Birokrasi kampus perlu semakin adaptif terhadap kebutuhan pengguna layanan, sekaligus berani meninggalkan kebiasaan lama yang tidak lagi relevan.

Bagi Ita, tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun tidak otomatis harus dipertahankan apabila tersedia cara yang lebih baik untuk memberikan pelayanan.

Kemahasiswaan Harus Membuka Ruang Tumbuh

Selain pelayanan akademik, aspek kemahasiswaan menjadi perhatian penting dalam refleksi Ita.

Pengelolaan kemahasiswaan, menurutnya, tidak cukup hanya berorientasi pada penyelenggaraan kegiatan atau pencatatan prestasi mahasiswa. Lebih jauh, perguruan tinggi harus mampu membangun ekosistem yang memberikan ruang tumbuh bagi setiap mahasiswa.

Akses terhadap kesempatan, dukungan untuk mengembangkan potensi, serta lingkungan kampus yang memungkinkan mahasiswa bertumbuh menjadi bagian penting dari kualitas pendidikan tinggi.

Dengan demikian, keberhasilan bidang kemahasiswaan tidak hanya dilihat dari banyaknya kegiatan yang terlaksana atau penghargaan yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuan institusi membantu mahasiswa mengembangkan kapasitas akademik, keterampilan, karakter, dan daya saing.

Pendekatan ini menempatkan mahasiswa bukan sekadar penerima layanan administrasi, melainkan subjek utama dalam proses pendidikan yang harus memperoleh kesempatan berkembang secara optimal.

Kerja Sama Harus Menghasilkan Manfaat Nyata

Ita juga mengingatkan bahwa kerja sama institusi tidak boleh berhenti pada seremoni dan penandatanganan nota kesepahaman.

Menurutnya, ukuran keberhasilan kerja sama bukan semata-mata jumlah dokumen yang tersimpan, melainkan dampak yang dihasilkan melalui kolaborasi tersebut.

Kerja sama harus mampu membuka peluang baru, memperluas pengalaman, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memberikan manfaat nyata bagi sivitas akademika dan institusi.

Karena itu, setiap kemitraan perlu diarahkan pada program yang dapat diimplementasikan dan memberikan nilai tambah. Dengan pendekatan tersebut, jejaring kerja sama tidak hanya menjadi simbol keterhubungan UIN Maliki Malang dengan berbagai lembaga, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat mutu pendidikan dan memperluas kontribusi universitas.

Pandangan ini sekaligus menegaskan bahwa internasionalisasi kampus perlu dibangun melalui kolaborasi yang produktif, bukan sekadar pengakuan formal.

Reputasi Dunia Dimulai dari Pelayanan Internal

Dalam refleksinya, Ita menempatkan kualitas pelayanan internal sebagai salah satu fondasi penting bagi reputasi internasional universitas.

Menurutnya, sulit membayangkan sebuah perguruan tinggi menjadi rujukan dunia apabila urusan sederhana di lingkungan kampus sendiri masih dirasakan rumit oleh penggunanya.

Reputasi internasional, dengan demikian, harus berjalan beriringan dengan kualitas tata kelola, budaya kerja, dan pengalaman pelayanan yang baik.

Universitas yang berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan dituntut untuk membangun budaya kerja yang lebih manusiawi, adaptif, dan terbuka terhadap perubahan. Inovasi teknologi tetap diperlukan, tetapi harus disertai komitmen untuk memperbaiki proses kerja dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi pengguna.

Bagi Biro AAKK, orientasi tersebut menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk terus memperkuat pelayanan akademik, mengembangkan ekosistem kemahasiswaan, dan memastikan kerja sama menghasilkan dampak yang terukur.

Memasuki usia ke-65, UIN Maliki Malang perlu menjadikan momentum Dies Maulidiyah bukan hanya sebagai perayaan atas capaian masa lalu, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mengevaluasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki.

Kampus Hebat yang Kehadirannya Dirasakan

Refleksi Ita Hidayatus Sholihah pada akhirnya mengarah pada satu pesan utama: kebesaran perguruan tinggi harus berbanding lurus dengan manfaat yang dirasakan oleh orang-orang yang dilayaninya.

Nama besar, prestasi akademik, pengakuan internasional, dan jejaring global merupakan capaian penting. Namun, seluruhnya akan memiliki makna lebih kuat apabila didukung oleh pelayanan yang mudah diakses, kesempatan berkembang yang terbuka, serta kerja sama yang memberikan hasil nyata.

Sejarah telah mengantarkan UIN Maliki Malang menjadi perguruan tinggi dengan perjalanan panjang dan cita-cita besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa kualitas pelayanan, keberanian bertransformasi, dan kekuatan kolaborasi menjadi bagian dari budaya institusi.

Kampus yang hebat, dalam perspektif Ita, bukan hanya kampus yang namanya dikenal dunia, melainkan juga kampus yang kehadirannya benar-benar dirasakan oleh setiap orang yang dilayaninya.

Pesan tersebut menjadi relevan dalam peringatan Dies Maulidiyah ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 28 Oktober 2026.

Selamat Dies Maulidiyah ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bertumbuh dalam Prestasi, Berdampak melalui Pelayanan. ( Eno)