Investasi Batu Tembus Rp2,33 Triliun, Nurochman Dihadapkan pada Tantangan Pemerataan Kesejahteraan
Batu | Serulingmedia.com – Investasi Kota Batu yang menembus Rp2,33 triliun pada 2025 belum cukup menjadi ukuran keberhasilan pembangunan jika manfaatnya belum dirasakan secara merata oleh masyarakat.
Di tengah pertumbuhan ekonomi dan membaiknya sejumlah indikator sosial, Wali Kota Batu Nurochman menegaskan pembangunan harus mampu membuka lapangan kerja, mengembangkan usaha rakyat, meningkatkan kualitas pelayanan publik, sekaligus menjaga kelestarian alam.
Pesan tersebut disampaikan Nurochman dalam upacara peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu dan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur di halaman Balai Kota Among Tani, Sabtu (17/10/2026).
Mengusung tema “Bangkit Bersama, Jaga Alam Raya untuk Batu Sayang Berkelanjutan”, peringatan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi arah pembangunan daerah.
Tantangannya bukan sekadar meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan hasil pembangunan dapat dinikmati petani, pedagang, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pekerja pariwisata, serta masyarakat secara luas.
Nurochman mengakui berbagai capaian pembangunan telah menjadi modal penting bagi Kota Batu. Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan harus diterjemahkan menjadi kesempatan kerja, pelayanan berkualitas, usaha yang berkembang, dan kesejahteraan yang semakin merata.
“Capaian-capaian ini merupakan modal penting, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa pertumbuhan harus terus diterjemahkan menjadi kesempatan membuka peluang kerja, pelayanan berkualitas, usaha yang berkembang, dan kesejahteraan yang semakin merata,” ujarnya.
Investasi Besar, Pemerataan Jadi Pekerjaan Rumah
Berdasarkan data yang disampaikan dalam pidatonya, realisasi investasi Kota Batu pada 2025 mencapai sekitar Rp2,33 triliun, jauh melampaui target yang telah ditetapkan.
Pada periode yang sama, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Batu mencapai 80,35, meningkat dibandingkan 79,69 pada tahun sebelumnya. Persentase penduduk miskin turun dari 3,66 persen menjadi 2,86 persen, sedangkan tingkat pengangguran terbuka tercatat 3,52 persen.
Kota Batu juga meraih Universal Health Coverage (UHC) Award 2026 kategori Madya.
Angka-angka tersebut memperlihatkan perkembangan sejumlah indikator pembangunan.
Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi menghasilkan manfaat yang lebih luas, terutama dalam bentuk pekerjaan yang layak, peningkatan pendapatan masyarakat, dan kesempatan usaha yang berkelanjutan.
Bagi daerah yang mengandalkan sektor pariwisata, pertanian, dan ekonomi kreatif, pemerataan menjadi persoalan penting.
Pertumbuhan investasi perlu berjalan seiring dengan penguatan usaha lokal agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton di tengah berkembangnya kegiatan ekonomi.
Karena itu, keberhasilan pembangunan Kota Batu perlu terus diukur melalui dampaknya terhadap kehidupan warga, bukan semata-mata besarnya modal yang masuk atau capaian indikator makroekonomi.
Investor Diminta Tidak Mengabaikan Lingkungan
Selain pemerataan kesejahteraan, Nurochman menempatkan kelestarian lingkungan sebagai bagian penting dari arah pembangunan Kota Batu.
Ia mengingatkan para pengusaha yang berinvestasi agar mematuhi peraturan dan menjaga ekosistem di sekitar lokasi usaha.
“Kepada para pengusaha yang berinvestasi di Kota Batu, mari patuhi aturan yang seharusnya menjadi rujukan dan landasan. Selamatkan alam dan lingkungan kita, tetap jaga dan lestarikan alam yang ada di sekitar kita sebagai bagian ekosistem dari usaha saudara-saudara sekalian,” tegasnya.
Menurut Nurochman, Kota Batu memiliki kekayaan alam berupa kawasan pegunungan, tanah subur, sumber air, potensi pertanian, dan pariwisata yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Posisi Kota Batu sebagai bagian dari kawasan hulu Sungai Brantas juga menempatkan daerah ini dalam tanggung jawab ekologis yang lebih luas.
Kelestarian lingkungan di wilayah hulu tidak hanya berkaitan dengan kepentingan warga setempat, tetapi juga berdampak terhadap wilayah lain yang memperoleh manfaat dari aliran sungai tersebut.
Karena itu, pembangunan yang mengandalkan investasi harus memperhitungkan daya dukung lingkungan. Pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan keberlanjutan alam berisiko menggerus sumber daya yang justru menjadi modal utama Kota Batu.
Nurochman mengaitkan tanggung jawab tersebut dengan falsafah Jawa memayu hayuning bawana, yakni ikhtiar menjaga keharmonisan kehidupan bagi generasi sekarang dan mendatang.
Pendidikan dan Kesehatan Jadi Prioritas
Dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, Pemerintah Kota Batu terus mengarahkan pembangunan pada sektor pendidikan dan kesehatan.
Nurochman menyebut pengembangan puskesmas, ketersediaan obat dan alat kesehatan, serta penguatan pelayanan posyandu sebagai bagian dari upaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam pidatonya, Kota Batu memiliki 423 dokter, 1.248 perawat, dan 184 bidan.
Sementara itu, progres program satu desa atau kelurahan satu dokter telah mencapai 75 persen.
Ketersediaan tenaga kesehatan tersebut perlu diimbangi dengan fasilitas yang memadai dan akses pelayanan yang semakin mudah, terutama bagi warga yang tinggal jauh dari pusat pelayanan.
Di sektor pendidikan, Pemerintah Kota Batu menjalankan program Seribu Sarjana untuk membuka kesempatan bagi generasi muda melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Dalam perencanaan tahun anggaran 2026, tercatat 603 calon penerima bantuan biaya pendidikan.
Program ini diharapkan memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang kreatif dan mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Nurochman menilai penguatan pendidikan dan kesehatan merupakan bentuk keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Pembangunan, menurutnya, harus membuka kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang dan mengambil bagian dalam kemajuan Kota Batu.
Menghargai Para Pendahulu
Dalam peringatan seperempat abad Kota Batu, Nurochman juga mengajak masyarakat menghargai jasa para pemimpin dan tokoh yang telah berkontribusi dalam perjalanan pembangunan daerah.
Ia menyebut almarhum Dr. H. Imam Kabul, almarhum H. Eddy Rumpoko, Dewanti Rumpoko, Aries Agung Paewai, serta para tokoh pendahulu lainnya.
Menurutnya, pembangunan Kota Batu bukan hasil kerja satu orang atau satu periode kepemimpinan, melainkan proses panjang yang melibatkan berbagai generasi.
Pengabdian para pendahulu tersebut menjadi bagian dari sejarah yang perlu diketahui, dihargai, dan dilanjutkan melalui program pembangunan yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Nurochman juga menyampaikan apresiasi kepada Kapolres Batu beserta jajaran Polri, Komandan Kodim 0818 Malang-Batu beserta jajaran TNI, dan Kepala Kejaksaan Negeri Batu beserta jajaran atas dukungan menjaga keamanan, stabilitas, tata kelola pemerintahan, dan kepastian hukum.
Apresiasi turut diberikan kepada tokoh agama yang merawat kerukunan, pendidik, tenaga kesehatan, kader posyandu, pengurus RT dan RW, organisasi kemasyarakatan, petani, kelompok tani, pelaku UMKM, pedagang Pasar Induk Among Tani, pekerja pariwisata, pengelola hotel dan restoran, seniman, budayawan, pemuda, pelajar, mahasiswa, relawan lingkungan, petugas kebersihan, insan pers, serta seluruh aparatur Pemerintah Kota Batu.
Ia menilai sinergi, kritik, saran, dan masukan dari berbagai elemen masyarakat merupakan bagian penting dalam memperbaiki penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.
Doa untuk Korban Bencana
Pada awal pidatonya, Nurochman menyampaikan keprihatinan atas bencana kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, serta banjir bandang di Solok, Sumatera Barat.
Ia menyampaikan doa bagi para korban, keluarga yang kehilangan anggota keluarga, masyarakat terdampak, serta petugas dan relawan yang terlibat dalam penanganan bencana.
Nurochman berharap para korban diberikan kekuatan, masyarakat terdampak segera pulih, dan seluruh proses penanganan serta pemulihan berjalan lancar.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa solidaritas dan kepedulian sosial tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
Seperempat Abad, Ujian Pembangunan Berkelanjutan
Peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu tidak hanya menjadi ajang mengenang perjalanan daerah, tetapi juga momentum untuk menilai arah pembangunan ke depan.
Capaian investasi, peningkatan IPM, penurunan angka kemiskinan, serta program pendidikan dan kesehatan memberikan fondasi bagi kemajuan.
Namun, pekerjaan rumah pemerintah tetap terletak pada bagaimana memastikan capaian tersebut berujung pada kesejahteraan yang lebih merata.
Pemerintah daerah perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan investasi, penguatan ekonomi masyarakat, peningkatan pelayanan publik, dan perlindungan lingkungan.
Di sektor ekonomi, keberpihakan kepada petani, pedagang, UMKM, serta pekerja pariwisata menjadi penting agar pertumbuhan tidak hanya dinikmati kelompok usaha tertentu.
Di sisi lain, pengendalian pembangunan dan kepatuhan terhadap aturan lingkungan diperlukan agar kekayaan alam Kota Batu tidak dikorbankan demi keuntungan jangka pendek.
Semangat “Bangkit Bersama, Jaga Alam Raya untuk Batu Sayang Berkelanjutan” pada akhirnya harus diwujudkan melalui kebijakan yang terukur dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Seperempat abad Kota Batu menjadi pijakan untuk melanjutkan pembangunan yang bukan hanya maju secara ekonomi, tetapi juga adil dalam pembagian manfaat, berkualitas dalam pelayanan, serta berkelanjutan dalam menjaga alam bagi generasi mendatang. (Eno).
