Hangatnya Kopi, Dekatnya Komandan: Sosok Humanis di Balik Seragam

Screenshot_2025-06-04-07-23-42-182_com.android.chrome-edit

Serulingmedia. Com – Di tengah ritme ketat dunia militer yang kerap dipersepsikan kaku dan tertutup, hadir sosok yang mencairkan sekat-sekat itu dengan senyum, ketulusan, dan sikap terbuka.

Ia adalah Marsekal Pertama TNI Reza Ranesa Rasyid Sastranegara, S.Sos., M.AP., MNSS., Komandan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang.

Selasa pagi yang hangat, 3 Juni 2025, menjadi momen yang tak sekadar menghubungkan para insan media yang tergabung dalam PWI Malang raya dan jajaran militer dalam acara coffee morning di Care Gamel Skatex 022 Lanud Abd. Saleh.

Lebih dari itu, pertemuan ini menjadi ruang silaturahmi yang dibingkai kesederhanaan dan penuh keakraban. Di sana, Marsma Reza hadir bukan sekadar sebagai seorang pemimpin, tetapi sebagai sahabat dialog—yang mendengar, merespons, dan menyapa dengan tulus.

Sikap ramah dan humble-nya bukanlah kemasan seremonial, melainkan cerminan watak yang terbangun dari jejak panjang pengabdian.

Lahir di Jakarta pada 26 September 1973, Marsma Reza mengawali langkahnya di militer sejak dilantik menjadi Letnan Dua pada 1996. Sejak itu, langkahnya terus menapak ke atas, menguatkan kapabilitas melalui beragam pendidikan dalam dan luar negeri—mulai dari Sekolah Penerbang, Aviation Medicine Course di Singapura, hingga Strategic Study Course di Australia.

Namun, yang paling menonjol bukan hanya daftar panjang prestasi dan kursus militer yang ia tempuh, melainkan bagaimana ia membawa nilai-nilai kemanusiaan dalam kepemimpinannya.

Ketika banyak yang bersembunyi di balik jabatan, Marsma Reza justru turun menyapa, membuka ruang diskusi, dan menjadikan komunikasi sebagai jembatan pengabdian.

Tak mengherankan jika para wartawan merasa nyaman dalam dialog dengannya. Di balik seragam dan pangkat, mereka melihat sosok manusia yang mampu merangkul, bukan sekadar memerintah.

Ini bukan hal baru di Lanud Abd. Saleh. Sebelum menjabat sebagai Komandan pada 29 April 2025, Marsma Reza telah akrab dengan suasana pangkalan ini. Ia pernah menjabat sebagai Komandan Skadron, Kepala Dinas Personel, Kepala Dinas Operasi, hingga Komandan Wing. Ia tumbuh bersama denyut pangkalan ini—mengerti dinamika dan wajah manusianya.

Ketika seorang pemimpin tak hanya berbicara perintah, tetapi juga membuka ruang cerita dan rasa, maka di situlah letak kekuatan yang sejati.

Marsma Reza telah menunjukkan bahwa pangkalan udara bukan hanya tempat bagi pesawat dan taktik tempur, tetapi juga tempat tumbuhnya harapan, komunikasi, dan kebersamaan.

Dan di pagi yang sederhana itu, secangkir kopi menjadi saksi: bahwa kekuatan seorang pemimpin bukan hanya ada pada gelar dan pangkat, tetapi pada kerendahan hati yang mampu menghangatkan ruang-ruang perbedaan.( Buang Supeno).