Danantara Didorong Biayai Pembinaan Olahraga, Andreas: Jangan Hanya Andalkan APBN
Batu | Serulingmedia.com – Anggota Komisi XI DPR RI, Andreas Eddy Susetyo, mendorong Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengambil peran strategis dalam pembiayaan olahraga nasional, mulai dari pembinaan atlet hingga pengembangan sport tourism.
Menurutnya, olahraga tidak lagi dipandang sebagai beban anggaran, melainkan sektor produktif yang mampu menggerakkan ekonomi.
Pernyataan itu disampaikan Andreas saat menghadiri pembukaan Turnamen Catur Bahagia antarwartawan yang digelar Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Malang Raya di Taman Rekreasi Selecta, Kota Batu, Kamis (6/8/2026).
Andreas menjelaskan, pemerintah tengah mengubah paradigma pembangunan olahraga melalui keterlibatan Danantara dalam pengelolaan aset dan pembiayaan sektor olahraga.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah pengalihan pengelolaan kawasan Gelora Bung Karno (GBK) kepada Danantara agar pemanfaatan fasilitas olahraga menjadi lebih fleksibel, adaptif, dan optimal bagi pembinaan atlet.
Menurutnya, Danantara bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga juga diarahkan untuk mendukung penyelenggaraan berbagai ajang olahraga berskala besar sekaligus mempercepat investasi di sektor sport industry dan sport tourism.
“Olahraga tidak boleh lagi dipandang sebagai cost center, tetapi harus menjadi motor penggerak ekonomi nasional yang mampu menciptakan nilai tambah, investasi, dan lapangan kerja,” kata Andreas.
Politikus PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Malang Raya yang juga menjabat Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI itu mengungkapkan, dalam pertemuannya dengan Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani, muncul gagasan agar badan usaha milik negara (BUMN) memiliki peran lebih besar dalam membina cabang olahraga.
“Nantinya BUMN bisa membina cabang olahraga, misalnya sepak bola, basket, dan lainnya. Tetapi saya berharap pembinaan itu tidak berhenti di tingkat pusat, melainkan sampai ke daerah-daerah,” ujarnya.
Andreas menilai pembinaan olahraga tidak mungkin hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), mengingat ruang fiskal pemerintah yang terbatas.
Karena itu, ia mendorong program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) BUMN turut diarahkan untuk mendukung pembinaan atlet di berbagai daerah.
“Dengan dukungan CSR BUMN, pembinaan atlet bisa berjalan lebih berkesinambungan sehingga lahir lebih banyak atlet berprestasi dari daerah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Andreas juga menegaskan Komisi XI DPR RI terus mendorong hadirnya berbagai skema pembiayaan di luar APBN guna mendukung program-program prioritas pemerintah.
Danantara dipandang sebagai salah satu instrumen penting untuk memperkuat pembiayaan pembangunan, termasuk pengembangan ekosistem olahraga nasional.
Ia optimistis sinergi Danantara, BUMN, dan pemerintah akan mempercepat pengembangan sport tourism sehingga Indonesia memiliki peluang lebih besar menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional sekaligus menarik investasi dan meningkatkan kunjungan wisatawan.
“Jika ekosistem olahraga semakin kuat, Indonesia bukan hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang besar melalui investasi dan pariwisata olahraga,” ujar Andreas. ( Eno).






