Arifatul Choiri Fauzi: Partisipasi Perempuan di Dunia Kerja Belum Sejalan dengan Kesempatan Memimpin

2299760_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifatul Choiri Fauzi, menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara partisipasi perempuan dalam dunia kerja dan kesempatan menduduki posisi strategis dalam kepemimpinan.

Meski keterlibatan perempuan di sektor ekonomi terus meningkat, kesempatan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan dinilai belum sepenuhnya setara dengan laki-laki.

Hal tersebut disampaikan Arifatul dalam The 1st International Women’s Conference and Fatima al-Fihriya Awards di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Sabtu (7/11/2026).

Arifatul mengungkapkan, berdasarkan data 2024, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan baru mencapai 56,42 persen. Angka ini terpaut 28,24 poin persentase dibandingkan laki-laki yang mencapai 84,66 persen.

Kesenjangan juga terlihat dalam keterwakilan perempuan pada jabatan strategis pemerintahan. Dari 674 jabatan pimpinan tinggi (JPT) Madya pada 2024, perempuan hanya menduduki 114 posisi atau sekitar 16,9 persen.

Sementara itu, keterwakilan perempuan di DPR RI periode 2024–2029 mencapai 21,9 persen atau 127 dari 580 anggota.

Meski menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah, angka tersebut masih berada di bawah target afirmasi keterwakilan perempuan sebesar 30 persen.

“Dalam situasi ini, perempuan tidak boleh hanya menjadi pihak yang terdampak perubahan, tetapi harus menjadi penggerak dan pemimpin transformasi,” tegasnya.

Menurut Arifatul, ketimpangan tersebut tidak berdiri sendiri. Ada sejumlah hambatan struktural yang masih membatasi ruang gerak perempuan, mulai dari beban pengasuhan dan pekerjaan domestik yang belum terbagi seimbang, keterbatasan akses terhadap pekerjaan layak, kesenjangan upah, hingga stereotip dan diskriminasi gender di lingkungan kerja.

Karena itu, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak harus menjadi bagian integral pembangunan nasional, bukan sekadar agenda tambahan.

Perempuan harus memperoleh kesempatan yang setara dalam pendidikan, ekonomi, kepemimpinan, serta perlindungan dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi.

Dalam konferensi bertema “Women’s Faith, Knowledge, Leadership, and Global Transformation” tersebut, Arifatul memaparkan lima agenda strategis untuk memperkuat peran perempuan.

Kelima agenda itu meliputi penguatan pendidikan dan literasi perempuan, perlindungan perempuan dan anak dari kekerasan, perluasan kepemimpinan perempuan, penguatan kemandirian ekonomi, serta solidaritas dan kolaborasi global.

Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap perlindungan perempuan dan anak di ruang digital. Menurutnya, kemajuan teknologi harus menjadi sarana memperluas akses pendidikan, informasi, dan peluang ekonomi, bukan justru membuka ruang baru bagi perundungan siber, eksploitasi seksual, penipuan, maupun kekerasan berbasis gender.

“Pemberdayaan tidak akan optimal tanpa rasa aman,” ujarnya.

Arifatul menegaskan, penyelesaian persoalan pemberdayaan perempuan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat pendidikan, produsen pengetahuan, penggerak inovasi, sekaligus mitra pemerintah dalam merumuskan kebijakan berbasis bukti.

Ia mendorong kampus menjadi ruang yang aman dan inklusif bagi perempuan untuk mengembangkan kapasitas intelektual, menghasilkan penelitian, serta mengambil peran dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Konferensi internasional yang diinisiasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU) tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan.

Lebih dari itu, forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif, memperkuat jejaring lintas negara, serta membangun komitmen berkelanjutan dalam memperjuangkan pemberdayaan perempuan.

Arifatul mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan nilai keimanan, ilmu pengetahuan, dan kepemimpinan sebagai kekuatan untuk mendorong perubahan.

“Jadikan keimanan sebagai arah, ilmu pengetahuan sebagai kekuatan, dan kepemimpinan sebagai penggerak perubahan nyata bagi perempuan, anak, keluarga, dan masyarakat dunia,” pungkasnya. ( Eno).