Tanpa Prodi Ilmu Falak, UIN Malang Raih Medali Perunggu di OASE III 2026
Yogyakarta | Serulingmedia.com – Keterbatasan program studi bukan penghalang untuk berprestasi.
Kontingen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang membuktikan hal itu dengan meraih medali perunggu pada cabang lomba Ilmu Falak dalam ajang Olimpiade Agama, Sains, dan Riset Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (OASE) III Tahun 2026.
Prestasi tersebut terbilang istimewa karena UIN Malang hingga kini belum memiliki Program Studi Ilmu Falak. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan semangat mahasiswa untuk bersaing dengan delegasi dari 59 PTKIN se-Indonesia.
Kompetisi tingkat nasional tersebut berlangsung di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 3–6 November 2026. OASE III menjadi ajang penguatan budaya akademik, riset, dan inovasi yang mengintegrasikan keilmuan agama dengan sains dan teknologi.
Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, dalam sambutannya menegaskan bahwa OASE merupakan implementasi tradisi keilmuan yang diwariskan Nabi Muhammad saw., yakni membangun hubungan harmonis antara agama dan sains.
Menurutnya, kemajuan umat harus ditopang oleh keselarasan nilai-nilai keagamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan riset yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Di tengah persaingan tersebut, UIN Malang berhasil mencuri perhatian melalui raihan medali perunggu cabang Ilmu Falak.
Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa penguasaan keilmuan tidak selalu dibatasi oleh keberadaan program studi khusus.
Pendamping Kontingen Ilmu Falak UIN Malang, Miftahudin Azmi, mengungkapkan rasa syukur atas prestasi tersebut.
Ia menyebut keberhasilan ini memiliki arti tersendiri karena UIN Malang mampu bersaing, bahkan mengungguli sejumlah PTKIN yang telah memiliki Program Studi Ilmu Falak.
“Di UIN Malang belum ada Program Studi Ilmu Falak, tetapi mahasiswa mampu bersaing dan bahkan mengungguli beberapa PTKIN yang telah memiliki prodi tersebut. Pada OASE sebelumnya di Jakarta, kami belum berhasil memperoleh medali di cabang Ilmu Falak. Alhamdulillah, tahun ini berhasil membawa pulang medali berkat semangat mahasiswa dan dukungan kampus yang sangat optimal,” ujarnya.
Azmi menjelaskan, kompetisi Ilmu Falak saat ini tidak lagi sekadar menitikberatkan pada penyusunan karya tulis atau artikel ilmiah.
Peserta juga dituntut mampu menghasilkan inovasi dan produk yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim UIN Malang mengembangkan kolaborasi lintas disiplin dengan melibatkan mahasiswa Fakultas Syariah dan Fakultas Sains dan Teknologi.
“Lomba Ilmu Falak saat ini tidak hanya menghasilkan karya tulis atau artikel ilmiah, tetapi juga dituntut melahirkan produk yang memiliki manfaat riil bagi masyarakat. Karena itu, kami mengelaborasi mahasiswa dari Fakultas Syariah dan Fakultas Sains dan Teknologi sebagai implementasi nyata integrasi agama dan sains,” jelasnya.
Menurut Azmi, kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam mengembangkan kajian Ilmu Falak agar mampu menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat modern.
Ia juga menilai minat mahasiswa UIN Malang terhadap kajian Ilmu Falak tetap tinggi meskipun kampus belum memiliki program studi khusus. Semangat tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan capaian pada kompetisi berikutnya.
Azmi optimistis prestasi Kontingen Ilmu Falak UIN Malang akan semakin meningkat, terlebih OASE mendatang direncanakan berlangsung di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
“Minat mahasiswa UIN Malang terhadap kajian Ilmu Falak tidak pernah surut dan semangat mereka sangat layak diapresiasi. Saya optimistis pada penyelenggaraan OASE berikutnya yang akan dilaksanakan di UIN Malang, kontingen Ilmu Falak mampu meraih hasil yang lebih baik,” ungkapnya.
Raihan medali perunggu ini tidak sekadar menambah daftar prestasi kampus.
Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa integrasi keilmuan, kolaborasi lintas fakultas, dan dukungan institusi dapat membuka ruang prestasi, bahkan pada bidang yang belum memiliki program studi khusus.
UIN Malang pun memiliki peluang untuk memperkuat tradisi riset dan inovasi Ilmu Falak sebagai bagian dari pengembangan keilmuan Islam yang adaptif terhadap kemajuan sains dan teknologi.( Eno).
