Prof. Dr. Erfaniah Zuhriah: 65 Tahun UIN Malang, Merawat Akar Ilmu dan Memperluas Cakrawala Dunia

PROF ERFANIAH.jpeg1_11zon

Malang I Serulingmedia.com – Peringatan Dies Natalis ke-65 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi momentum refleksi untuk memperkuat fondasi keilmuan Islam sekaligus memperluas kontribusi akademik di tingkat global. Bagi Prof. Dr. Hj. Erfaniah Zuhriah, M.H., Guru Besar Hukum Keluarga Islam sekaligus Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, bertambahnya usia perguruan tinggi harus diiringi kematangan berpikir, kedalaman spiritual, dan semakin luasnya manfaat ilmu bagi masyarakat.

Dalam refleksinya bertajuk “65 Tahun UIN Malang: Memperkuat Akar, Meneguhkan Batang, dan Memperluas Cakrawala Keilmuan”, Erfaniah menegaskan bahwa usia universitas bukan sekadar angka dalam kalender. Perjalanan panjang itu merupakan amanah yang menuntut pertanggungjawaban, terutama dalam membangun tradisi akademik yang mampu menjawab tantangan zaman.

Al-Qur’an melalui Surah Al-‘Ashr mengingatkan manusia tentang pentingnya waktu dan tanggung jawab atas kehidupan. Dalam konteks perguruan tinggi, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pertambahan usia belum tentu sejalan dengan kedalaman ilmu dan besarnya kontribusi bagi kemanusiaan.

“Kalender boleh menghitung 65 tahun perjalanan, tetapi belum tentu mampu menakar kedalaman berpikir dan luasnya manfaat bagi sesama,” demikian salah satu gagasan utama dalam refleksi Erfaniah.

Pohon Ilmu, Fondasi Integrasi Keilmuan

Perjalanan UIN Malang bermula dari Fakultas Tarbiyah pada 1961, berkembang menjadi STAIN pada 1997, bertransformasi menjadi Universitas Islam Indonesia-Sudan pada 2002, hingga menjadi UIN pada 2004.

Namun, menurut Erfaniah, transformasi kelembagaan tidak cukup diukur melalui perubahan nama, perluasan bangunan, atau bertambahnya program studi. Lebih dari itu, perguruan tinggi harus terus mengembangkan tradisi intelektual yang mempertemukan khazanah keilmuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Dalam konteks tersebut, Filosofi Pohon Ilmu yang dirumuskan Prof. Imam Suprayogo menjadi landasan penting bagi pengembangan keilmuan di UIN Malang.

Akar pohon merepresentasikan ilmu-ilmu alat, seperti bahasa, filsafat, ilmu alam, dan ilmu sosial. Batangnya melambangkan fondasi keislaman yang mencakup Al-Qur’an, hadis, sirah, dan pemikiran Islam. Sementara itu, dahan dan ranting menggambarkan berbagai disiplin ilmu yang dikembangkan, dengan buah berupa insan ulul albab.

Bagi Erfaniah, filosofi tersebut tidak boleh berhenti sebagai simbol atau slogan akademik.

Pohon yang rindang akan kehilangan kekuatannya apabila akarnya tidak terawat dan batangnya tidak lagi menopang kehidupan. Demikian pula universitas yang terus memperluas bidang keilmuan, tetapi mengabaikan fondasi intelektual dan spiritualnya.

“Menjaga akar dan batang bukan berarti menolak pertumbuhan, sebagaimana memperluas cabang tidak boleh menjadi alasan melupakan asalnya,” tulisnya dalam refleksi tersebut.

Integrasi Ilmu Tidak Cukup dengan Ayat dan Hadis

Erfaniah menilai, integrasi ilmu di perguruan tinggi Islam harus dimaknai lebih mendalam daripada sekadar menggabungkan mata kuliah agama dan sains atau menyisipkan ayat Al-Qur’an dan hadis dalam pengantar penelitian.

Integrasi ilmu menuntut perjumpaan kritis antara berbagai cara memperoleh pengetahuan, menguji bukti, serta mempertanggungjawabkan manfaat hasil penelitian.

Setiap disiplin ilmu memiliki metodologi dan karakteristik tersendiri. Karena itu, integrasi tidak boleh mengaburkan perbedaan metodologis, tetapi harus membuka ruang dialog yang produktif untuk memahami persoalan secara lebih utuh.

Di tengah persaingan global, capaian kelembagaan, jejaring internasional, dan pemanfaatan teknologi pembelajaran tetap penting. Namun, Erfaniah mengingatkan agar perguruan tinggi tidak terjebak mengejar reputasi semata.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah kontribusi pengetahuan apa yang dapat diberikan kepada dunia.

Reputasi internasional, menurut arah pemikiran tersebut, semestinya tumbuh sebagai konsekuensi dari kedalaman riset dan relevansi kontribusi ilmiah, bukan menjadi tujuan yang menggeser substansi pendidikan tinggi.

Fakultas Ushuluddin dan Tantangan Keilmuan Masa Depan

Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam yang berdiri pada 2026 memiliki posisi strategis dalam mengembangkan tradisi kajian keislaman yang kritis, terbuka, dan relevan dengan persoalan kontemporer.

Meski relatif muda secara kelembagaan, bidang Ushuluddin berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang agama, pengetahuan, kemanusiaan, dan kehidupan. Karena itu, fakultas ini diharapkan tidak bekerja sendiri, melainkan menjadi mitra bagi berbagai disiplin ilmu untuk memperkuat dialog akademik.

Erfaniah menghadirkan sejarah Madrasah Nizamiyyah dan tradisi keilmuan al-Zaytuna di Tunisia sebagai cermin. Dari lingkungan Nizamiyyah, Al-Ghazali mengembangkan pemikiran yang berpengaruh dalam perdebatan teologi, filsafat, dan tasawuf. Sementara itu, Muhammad al-Tahir Ibn Ashur melalui karya al-Tahrir wa al-Tanwir memperkaya khazanah tafsir Al-Qur’an sekaligus mendorong pembaruan pemikiran pendidikan Islam.

Kedua tradisi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan lembaga pendidikan tidak hanya terletak pada banyaknya kitab yang diajarkan, tetapi juga pada kemampuannya melahirkan pemikir yang berani menguji dan memperbarui cara memahami pengetahuan.

UIN Malang, menurut Erfaniah, tidak harus menjadi Nizamiyyah baru atau al-Zaytuna kedua. Sejarah bukan cetak biru yang dapat dipindahkan begitu saja ke zaman berbeda. Namun, pengalaman kedua pusat keilmuan tersebut dapat menginspirasi pengembangan kampus sebagai ruang untuk mentransmisikan, memeriksa, memperdebatkan, dan memperbarui pengetahuan.

Dari Malang, ia membayangkan lahirnya mufasir yang diperhitungkan dalam percakapan global mengenai etika lingkungan atau pakar hadis yang menjadi rujukan dalam verifikasi informasi keagamaan di era algoritme.

Menjawab Tantangan Kecerdasan Buatan

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kajian keislaman.

Teknologi kini mampu menghasilkan jawaban dengan cepat, tetapi kecepatan tersebut tidak otomatis menjamin kebenaran, ketepatan sumber, maupun tanggung jawab ilmiah.

Dalam situasi ini, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dapat memperkuat kajian teks suci untuk menerangi persoalan kemanusiaan dan lingkungan. Sementara itu, Program Studi Ilmu Hadis berpeluang memperkaya literasi verifikasi sumber ketika informasi keagamaan beredar luas melalui ruang digital.

Persoalannya bukan semata-mata boleh atau tidaknya teknologi digunakan, melainkan bagaimana menjaga otoritas keilmuan, kejujuran akademik, tanggung jawab, dan martabat manusia ketika teknologi ikut membentuk pemahaman masyarakat terhadap agama.

Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Dibutuhkan kolaborasi lintas bidang agar perkembangan teknologi tetap berjalan seiring dengan pertimbangan etis dan kemanusiaan.

Dari Refleksi Menuju Kerja Nyata

Bagi Erfaniah, penguatan fondasi keilmuan harus diterjemahkan ke dalam langkah-langkah konkret. Di antaranya, meningkatkan kompetensi dosen, menumbuhkan tradisi riset dan diskusi lintas fakultas, serta mengembangkan kajian keislaman berbantuan teknologi secara bertanggung jawab.

Pembelajaran yang inklusif bagi seluruh mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas, juga menjadi bagian penting dari pengembangan perguruan tinggi yang berorientasi pada kemanusiaan.

Dengan demikian, keberhasilan fakultas maupun universitas tidak cukup diukur melalui kelengkapan struktur organisasi dan pencapaian administratif. Ukuran yang lebih substansial adalah kemampuan menghasilkan pemikiran, penelitian, dan lulusan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Enam puluh lima tahun perjalanan UIN Malang patut disyukuri. Namun, rasa syukur tidak seharusnya menghentikan evaluasi dan pembaruan.

Erfaniah mengingatkan pentingnya ‘ilmin yuntafa’u bih, yakni ilmu yang memberi manfaat, sebagaimana nilai yang terkandung dalam hadis riwayat Muslim tentang amal yang pahalanya terus mengalir, termasuk ilmu yang bermanfaat.

Pada akhirnya, masa depan UIN Malang tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi universitas itu ingin menjulang di panggung dunia, tetapi juga oleh seberapa dalam fondasi keilmuannya tertanam dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat.

Memperkuat akar, meneguhkan batang, dan memperluas cakrawala keilmuan menjadi pesan penting Erfaniah dalam memaknai Dies Natalis ke-65 UIN Malang: bertumbuh tanpa kehilangan jati diri, maju tanpa meninggalkan fondasi, serta berkiprah secara global dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. ( Eno)