Arinda Eka Apriana, Mahasiswa UIN Malang yang Mengubah Keraguan Menjadi Kemenangan

1861385_11zon

Malang | Serulingmedia.com — Tidak semua kemenangan diawali dengan keyakinan penuh. Bagi Arinda Eka Apriana, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Malang angkatan 2025, langkah menuju gelar Duta FITK UIN Malang 2026 justru dimulai dari keraguan.

 

Arinda tidak mendaftarkan diri semata-mata untuk mengejar gelar. Ia ingin keluar dari zona nyaman, menguji kemampuan, sekaligus mencari ruang untuk mengaspirasi, menginspirasi, dan memberikan dampak bagi fakultas.

“Sebenarnya bukan karena saya merasa sudah sangat siap. Saya sadar kalau terus menunggu sampai merasa siap, mungkin saya tidak akan pernah mencoba,” ujar Arinda.

Keputusan untuk mencoba itu kemudian membawanya melewati serangkaian seleksi yang tidak mudah. Tantangan terbesar, menurut Arinda, bukan hanya mempersiapkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun kesiapan mental.

Ia belajar mempercayai kemampuan diri, bersiap menghadapi kemungkinan menang maupun gagal, serta menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan.

Keraguan sempat kembali muncul ketika Arinda melihat peserta lain dengan kemampuan masing-masing. Ia merasa peserta lain memiliki peluang yang sama untuk melangkah lebih jauh.

Titik terberat bahkan terjadi pada tahap ketiga seleksi. Rasa rindu kepada keluarga di Lombok, Nusa Tenggara Barat, membuat Arinda sempat berpikir untuk pulang.

 

Ia bahkan hampir memesan tiket karena merasa peluangnya untuk melanjutkan seleksi semakin kecil.

“Kayaknya saya nggak bakal lolos,” pikirnya ketika itu.

Namun, perjalanan Arinda ternyata belum berakhir. Ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan proses seleksi.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting. Arinda menyadari seseorang terkadang sudah meragukan dirinya sendiri sebelum mengetahui hasil akhirnya.

Sometimes we underestimate ourselves before we even know the result.

Belajar Mengelola Waktu dan Emosi
Di tengah proses seleksi dan pembinaan, Arinda juga harus membagi waktu antara kuliah, organisasi, kebutuhan pribadi, serta berbagai agenda pemilihan duta.

Kesibukan itu membuatnya belajar bahwa mengatur waktu saja tidak cukup. Ia juga harus mampu mengelola emosi dan energi.

“Time management saja tidak cukup. Seseorang juga perlu mengatur emosi dan energi agar tetap mampu memberikan yang terbaik,” katanya.

Dukungan keluarga, teman dekat, teman satu program studi, hingga rekan-rekan organisasi menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Bagi Arinda, setiap tahapan seleksi memiliki pelajaran masing-masing. Ia belajar tentang emotional management, time management, kepercayaan diri, sekaligus bagaimana menghadapi ketidakpastian.

Semua proses itu kemudian bermuara pada satu momen yang tidak pernah benar-benar ia pastikan sebelumnya.
Namanya diumumkan sebagai winner Duta FITK UIN Malang 2026.

Arinda mengaku terkejut, haru, sekaligus bersyukur. Namun, kemenangan itu tidak membuatnya menganggap perjalanan telah selesai.

“When I heard my name called as the winner, it felt so heavy—the responsibility,” tuturnya.

Bagi Arinda, gelar tersebut justru membawa amanah baru.
Tak Sekadar Selempang dan Gelar
Arinda memandang Duta FITK bukan sekadar kompetisi untuk mendapatkan gelar.

 

Seorang duta harus mampu menjadi representasi fakultas, mendengarkan aspirasi mahasiswa, sekaligus memanfaatkan posisinya untuk memberikan manfaat.

Salah satu gagasan yang ingin dikembangkan Arinda adalah DigiCam (Digital Campaign). Gagasan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk ikut mempromosikan berbagai potensi, kegiatan, dan hal-hal positif yang ada di FITK.

“Menjadi Duta FITK bukan sekadar tentang mahkota atau gelar, melainkan bagaimana seseorang mampu menjadi representasi fakultas, mendengar aspirasi mahasiswa, serta menggunakan kesempatan yang dimiliki untuk memberikan manfaat,” ujarnya.

Prinsip yang ia pegang sepanjang proses adalah “Do the best and let Allah do the rest.”
Bagi Arinda, manusia memiliki tugas untuk berusaha, mempersiapkan diri, berdoa, dan memberikan kemampuan terbaik.

 

Sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Kini, Arinda tidak lagi melihat pemilihan Duta FITK hanya sebagai sebuah kompetisi. Ia melihatnya sebagai perjalanan untuk mengenal diri dan bertumbuh.

“You are not what you see yourself, but you are not what other people see you.”
Kalimat itu menjadi pengingat bagi Arinda agar seseorang tidak terlalu merendahkan dirinya sendiri, tetapi juga tidak menjalani kehidupan hanya berdasarkan penilaian orang lain.

Percaya Diri Tumbuh Setelah Berani Memulai

Pengalaman tersebut membuat Arinda memiliki pesan bagi mahasiswa yang masih takut mencoba sesuatu yang baru.
Ia mengingatkan agar seseorang tidak menunggu sampai merasa benar-benar siap.

“Confidence doesn’t come before we start, it grows because we start,” katanya.

Menurut Arinda, keberanian bukan berarti seseorang sudah mengetahui bahwa dirinya pasti berhasil.

 

Keberanian adalah kesediaan untuk tetap melangkah meski belum mengetahui bagaimana akhir perjalanan.

Ia menggambarkan kehidupan seperti lautan:
الحَيَاةُ كَالْبَحْرِ، فَإِمَّا أَنْ تَرْكَبَ أَمْوَاجَهَا، أَوْ تَغْرَقَ فِيهَا
Kehidupan itu seperti lautan; seseorang harus memilih menaiki ombaknya atau tenggelam di dalamnya.

Perjalanan Arinda menjadi gambaran bahwa kemenangan tidak selalu lahir dari mereka yang sejak awal paling percaya diri.

Dari seorang mahasiswa UIN Malang yang sempat ragu, merindukan rumah, bahkan hampir membeli tiket pulang, Arinda akhirnya berdiri sebagai winner Duta FITK UIN Malang 2026.

Ia menang bukan karena tidak pernah takut, melainkan karena memilih tetap melangkah meski rasa takut itu ada.

Pada akhirnya, keraguan yang sempat membuatnya ingin pulang justru menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kemenangan.( Eno).