UMI Ciptakan AI Pendeteksi Wajah DPO Tersamar, Lolos Pendanaan Nasional PKM 2026
Makassar | Serulingmedia.com – Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) mencatat prestasi nasional di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui pengembangan DISGUISE-ID, sebuah sistem yang mampu mengidentifikasi wajah Daftar Pencarian Orang (DPO) meski tertutup berbagai atribut penyamaran.
Inovasi tersebut berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tim lintas disiplin UMI itu mengembangkan algoritma berbasis Variational Autoencoder (VAE) yang mampu merekonstruksi wajah dengan tingkat akurasi mencapai 94,8 persen, sekalipun objek menggunakan masker, kacamata hitam, riasan tebal, atau mengalami perubahan gaya rambut secara ekstrem.
Keberhasilan tersebut mengantarkan tim UMI lolos dalam seleksi nasional yang sangat kompetitif.
Dari 25.253 proposal yang diajukan perguruan tinggi di seluruh Indonesia, hanya 145 karya terbaik yang dinyatakan layak memperoleh pendanaan PKM Karsa Cipta 2026.
Ketua tim pengembang, Ichwal, menjelaskan, riset tersebut berfokus menguji kemampuan arsitektur Variational Autoencoder dalam mengenali sekaligus merekonstruksi fitur wajah yang tertutup objek penyamaran.
“Model kami diuji menggunakan berbagai skenario penyamaran, mulai masker medis, kacamata gelap, riasan wajah hingga perubahan gaya rambut. Hasilnya menunjukkan kemampuan rekonstruksi yang sangat tinggi,” ujarnya, Sabtu (1/8/2026).
Hasil pengujian menunjukkan sistem DISGUISE-ID mencatat akurasi identifikasi peringkat pertama sebesar 97,6 persen ketika citra wajah tersamar dibandingkan dengan basis data wajah asli.
Sementara pada pengujian lintas sesi menggunakan foto dari waktu pengambilan berbeda, sistem menghasilkan akurasi 65,3 persen.
Menurut Ichwal, capaian tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi penting dalam meningkatkan kemampuan generalisasi model terhadap variasi kondisi pencahayaan maupun sudut pengambilan gambar.
Selain akurasi tinggi, sistem juga memiliki waktu pemrosesan yang sangat cepat dengan latensi hanya 48 milidetik, sehingga dinilai berpotensi diterapkan pada sistem pengawasan berbasis kamera pintar secara real time.
Dosen pendamping tim, Lilis Nur Hayati, S.Kom., M.Eng., MTA., menjelaskan keunggulan utama DISGUISE-ID terletak pada kemampuan algoritma dalam memetakan karakteristik wajah ke dalam ruang laten probabilistik.
“Algoritma akan mengompresi citra wajah yang tertutup, menghilangkan pengaruh atribut seperti masker atau kacamata, kemudian membangun kembali struktur wajah berdasarkan pola yang dipelajari selama proses pelatihan data,” jelasnya.
Keunikan lain dari proyek ini adalah keterlibatan mahasiswa Fakultas Hukum UMI yang bertugas mengkaji aspek legal penggunaan hasil rekonstruksi wajah digital.
Pendekatan multidisiplin tersebut dilakukan agar teknologi yang dikembangkan memenuhi ketentuan hukum sebagai alat bukti elektronik dalam sistem peradilan pidana di Indonesia.
Saat ini, prototipe DISGUISE-ID telah diintegrasikan dengan sistem kamera pengawas pintar (smart surveillance) dan tengah menjalani serangkaian uji coba di lingkungan luar ruang.
Dengan capaian tersebut, civitas akademika Universitas Muslim Indonesia optimistis DISGUISE-ID mampu bersaing pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 Tahun 2026 yang akan digelar di Universitas Diponegoro, Semarang, sekaligus menjadi salah satu inovasi AI karya mahasiswa Indonesia yang berpotensi mendukung pengembangan teknologi identifikasi digital di masa depan.( Yah/Eno).






