Prof. Abd. Hamid: Di Balik Sorak dan Air Mata, Piala Dunia 2026 Mengajarkan Makna Kehidupan

1678399_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Perhelatan Piala Dunia 2026 memang belum mencapai partai final. Namun, turnamen sepak bola terbesar di dunia itu dinilai telah menyajikan pelajaran yang jauh melampaui persaingan di atas lapangan hijau.

 

Di balik sorak kemenangan dan air mata kekalahan, tersimpan makna kehidupan yang telah diajarkan dalam wahyu suci Al-Qur’an.

 

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. M. Abdul Hamid.

 

Menurutnya, setiap pertandingan yang telah berlangsung menghadirkan dua kenyataan yang selalu berdampingan, yakni kebahagiaan bagi mereka yang menang dan kesedihan bagi mereka yang harus mengakhiri perjuangan.

“Meski Piala Dunia 2026 belum memasuki partai final, kita sudah melihat bagaimana dalam satu peluit akhir pertandingan lahir dua kisah sekaligus. Ada tim yang merayakan kemenangan, tetapi pada saat yang sama ada tim yang harus pulang dengan air mata. Itulah gambaran kehidupan yang sesungguhnya,” ujar Abdul Hamid.

 

Ia menegaskan bahwa fenomena tersebut bukan sekadar bagian dari olahraga, melainkan cerminan sunatullah, hukum kehidupan yang telah dijelaskan Allah SWT dalam wahyu suci Al-Qur’an.

Abdul Hamid mengutip firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran ayat 140:
“Wa tilkal ayyāmu nudāwiluhā bainan-nās.”
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.”

Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa kemenangan dan kekalahan merupakan ketetapan Allah yang akan terus bergantian menghampiri manusia. Tidak ada kejayaan yang berlangsung selamanya, sebagaimana tidak ada kegagalan yang bersifat abadi.

“Wahyu suci Al-Qur’an telah mengajarkan bahwa hidup adalah pergiliran. Hari ini seseorang berada di puncak kemenangan, esok bisa saja berada dalam ujian. Sebaliknya, mereka yang hari ini kalah masih memiliki kesempatan untuk bangkit. Inilah pelajaran yang tergambar jelas dalam perjalanan Piala Dunia 2026,” katanya.

Guru Besar UIN Maliki Malang itu menilai, masyarakat kerap memandang kemenangan sebatas keberhasilan mengangkat trofi atau meraih gelar juara.

 

Padahal, menurutnya, kemenangan justru merupakan ujian yang lebih berat karena dapat melahirkan kesombongan apabila tidak disertai rasa syukur.

“Kemenangan bukan hanya soal mengalahkan lawan. Kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu menjaga kerendahan hati setelah memperoleh keberhasilan. Trofi hanyalah simbol, sedangkan akhlak adalah ukuran kemuliaan,” ujarnya.

Sebaliknya, kekalahan tidak boleh dipahami sebagai akhir perjalanan. Abdul Hamid menyebut kegagalan merupakan ruang untuk melakukan evaluasi, memperbaiki diri, memperkuat mental, dan membangun karakter agar mampu bangkit lebih kuat pada kesempatan berikutnya.

Dalam perspektif Islam, ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa seluruh urusan seorang mukmin adalah kebaikan.

Ketika memperoleh nikmat ia bersyukur, dan ketika menghadapi kesulitan ia bersabar.

 

“Syukur menjaga seseorang agar tidak mabuk oleh kemenangan, sedangkan sabar menjaga seseorang agar tidak hancur karena kegagalan. Keduanya adalah fondasi karakter seorang mukmin,” katanya.

Lebih jauh, Abdul Hamid mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah lawan yang berada di hadapannya, melainkan hawa nafsu dalam dirinya sendiri.

 

Bagi pemenang, hawa nafsu hadir dalam bentuk kesombongan, merasa paling hebat, dan memandang rendah orang lain.

 

Sebaliknya, bagi yang kalah, hawa nafsu muncul dalam bentuk putus asa, iri hati, kehilangan harapan, hingga menyerah untuk bangkit.

Menurutnya, peluit akhir pertandingan sejatinya bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari ujian baru. Pemenang diuji apakah tetap rendah hati setelah dipuji dunia, sementara mereka yang kalah diuji apakah tetap tegar ketika impiannya belum terwujud.

Karena itu, Abdul Hamid mengajak masyarakat menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai ruang refleksi kehidupan, bukan sekadar tontonan olahraga.

 

Baginya, nilai terbesar turnamen tersebut bukan hanya tentang siapa yang kelak mengangkat trofi, tetapi bagaimana setiap orang mampu mengambil hikmah dari setiap kemenangan dan kekalahan.

“Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menjadi juara, tetapi juga bagaimana mereka bersikap ketika menang. Begitu pula sejarah akan mengingat bagaimana mereka yang kalah mampu bangkit. Di balik sorak kemenangan dan air mata kekalahan, Allah sedang mengajarkan kepada manusia bahwa hidup bukan tentang selalu menjadi pemenang, melainkan tentang tetap berakhlak, bersyukur saat menang, dan bersabar ketika kalah,” pungkasnya. ( Eno).