Rebut Tiket Taruna STPN, 2.114 Peserta Jalani Seleksi Ketat untuk Cetak SDM Agraria Masa Depan

Screenshot_2026-07-05-20-41-34-459_com.whatsapp-edit

Cikeas | Serulingmedia.com – Persaingan memasuki Politeknik Agraria STPN semakin ketat. Sebanyak 2.114 calon taruna dan taruni dari berbagai penjuru Indonesia mengikuti Seleksi Penerimaan Taruna Baru (SPTB) Tahun Akademik 2026/2027 yang diselenggarakan perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

 

Seleksi yang berlangsung pada 1–4 Juli 2026 di Kampus Politeknik Agraria STPN, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta 2 Juli 2026 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian ATR/BPN, Cikeas, Kabupaten Bogor, menjadi gerbang awal bagi lahirnya calon aparatur profesional di bidang pertanahan dan tata ruang.

Di balik ketatnya persaingan, tersimpan semangat para peserta untuk berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan agraria yang masih menjadi tantangan pembangunan nasional.

Salah satunya ditunjukkan Aditya Rahman (17) asal Bandung, Jawa Barat. Calon taruna yang memilih Program Studi Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan (MPRP) itu meyakini Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelola ruang secara berkelanjutan.

“Saya tetap semangat dan optimis mengikuti ujian ini karena ingin mengabdi kepada Indonesia, khususnya di bidang tata ruang yang masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” ujar Aditya usai mengikuti ujian.

Keinginan tersebut bukan tanpa persiapan. Selama beberapa bulan terakhir, Aditya mempelajari matematika, pengetahuan umum, hingga dasar-dasar pertanahan.

 

Ia juga aktif menggali informasi mengenai kehidupan akademik di Politeknik Agraria STPN melalui para senior.

Meski sempat diliputi rasa tegang saat mengerjakan soal, ia menilai materi ujian masih berada dalam koridor yang dipelajarinya. Tantangan terbesar,

menurutnya, adalah ketelitian dalam memahami soal-soal berbentuk narasi.
Optimisme serupa datang dari Malika Putri Aprilia Permana (18) asal Karawang, Jawa Barat.

 

Ia memilih Program Studi Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah (KMPT) karena melihat sektor pertanahan sebagai kebutuhan mendasar masyarakat.

“Tanah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Semua aktivitas kita berawal dari tanah dan pada akhirnya kembali ke tanah. Karena itu saya ingin mendalami bidang pertanahan,” tutur Malika.

Sejak duduk di kelas XII, Malika telah membangun rutinitas belajar setiap hari dan memperbanyak latihan soal sebagai bekal menghadapi seleksi.

 

Namun baginya, ujian sesungguhnya bukan hanya menjawab soal.

“Tantangan terbesar bukan soal ujiannya, tetapi bagaimana saya mengalahkan rasa takut dalam diri sendiri. Saya memilih tetap percaya diri dan optimistis,” katanya.

Seleksi akademik menjadi tahapan awal sebelum peserta menghadapi tes kesehatan, kesamaptaan, dan wawancara.

 

Hanya peserta yang mampu melewati seluruh tahapan tersebut yang akan ditetapkan sebagai taruna dan taruni Politeknik Agraria STPN Tahun Akademik 2026/2027.

Melalui proses seleksi berlapis ini, Politeknik Agraria STPN berupaya menjaring generasi muda terbaik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, disiplin, dan komitmen untuk memperkuat tata kelola pertanahan dan penataan ruang Indonesia di masa depan. ( Sar)