Rebutan Tumpeng Berhadiah Uang hingga Rp100 Ribu, Warga Beji Rela Terjatuh Demi “Berkah” Sedekah Bumi
Batu | Serulingmedia.com – Suasana riuh, penuh tawa sekaligus ketegangan, menyelimuti kediaman Kepala Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Senin (4/5/2026).
Ratusan warga tumpah ruah, saling berdesakan mengelilingi sebuah gunungan tumpeng cabutan—simbol berkah yang setiap tahun selalu dinanti dalam tradisi selamatan desa.
Tak sekadar tumpeng biasa, gunungan itu dipenuhi aneka makanan ringan, buah-buahan, hingga uang dengan nominal beragam.

Mulai dari pecahan kecil hingga Rp100 ribu digantung di setiap sisi. Bagi warga, apa pun yang berhasil didapat dipercaya membawa keberuntungan.
Ketika aba-aba dimulai, suasana berubah drastis. Warga dari berbagai usia langsung menyerbu. Dorong-mendorong tak terhindarkan.
Bahkan, beberapa orang terlihat terjatuh dan tertindih di tengah kerumunan. Di sudut lain, ada yang mengamankan hasil “jarahan”, sementara lainnya justru kebingungan karena kehilangan dompet atau telepon genggam.

Namun anehnya, tidak ada raut marah. Justru tawa dan cerita mengalir setelahnya. Bagi mereka, luka kecil atau barang yang hilang seolah terbayar dengan keyakinan telah mendapatkan berkah dari tradisi leluhur.
“Ini bukan sekadar rebutan, tapi ngalap berkah,” ujar salah satu warga dengan wajah sumringah, sambil menggenggam hasil yang didapat.

Kepala Desa Beji, Deni Cahyono, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bagian dari sedekah bumi yang rutin digelar setiap Senin Legi di bulan Sela menurut penanggalan Jawa.
Kegiatan ini menjadi bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, kesehatan, serta keberkahan sumber mata air yang menjadi nadi kehidupan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menjaga adat budaya sekaligus mempererat kebersamaan warga,” ungkapnya.
Selain tumpeng cabutan, warga juga menyajikan tumpeng nasi dan hasil bumi sebagai simbol kemakmuran.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ritual di punden sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, lalu dilanjutkan hiburan rakyat seperti campursari, bantengan, dan kuda lumping.

Selamatan desa ini juga dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Sekcam Junrejo Nuel Tri Heri Sutrisno, Wakapolsek Junrejo Iptu Rofik, serta anggota DPRD Kota Batu dari Fraksi Gerindra, Agung.
Di tengah derasnya modernisasi, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dan rasa syukur masih hidup kuat di tengah masyarakat.
Rebutan tumpeng cabutan mungkin terlihat keras dan penuh risiko, namun di balik itu tersimpan nilai gotong royong, harapan, dan keyakinan yang tak lekang oleh waktu.
Di Desa Beji, berkah bukan hanya tentang apa yang didapat, tetapi tentang bagaimana kebersamaan itu terus dirawat—meski harus saling dorong, bahkan terjatuh, demi sebuah tradisi yang tetap hidup dari generasi ke generasi. ( Eno).






