Di Madinah, Nurochman Meneladani Akhlak Rasul: Pemimpin yang Melayani dengan Ikhlas

1358470_11zon

Madinah | Serulingmedia.com – Di kota suci Madinah, tempat jejak keteladanan Rasulullah SAW terpatri, sebuah pelajaran tentang kepemimpinan kembali hidup dalam keseharian jamaah haji.

 

Sosok Nurochman menunjukkan bahwa kekuasaan sejati bukanlah tentang dilayani, melainkan tentang kesediaan untuk melayani dengan tulus.

 

Laporan koresponden Serulingmedia.com, Kayat Hariyanto

 

Rabu (29/4/2026), Jamaah Haji Kota Batu yang tergabung dalam Kloter 4 telah menuntaskan tujuh hari rangkaian ibadah di Madinah. Dari total 380 jamaah, sebanyak 226 di antaranya berasal dari Kota Batu, sementara sisanya dari Surabaya, Probolinggo, Pasuruan, dan Kota Malang.

 

“Alhamdulillah, jamaah asal Kota Batu sudah hadir pada tanggal 23 April 2026 siang hari,” ujar H. Nurahmat, pembimbing dari KBIHU Al Ikhlas.

 

Selama berada di Madinah, jamaah mengisi hari-harinya dengan ibadah yang khusyuk—mulai dari sholat wajib berjamaah, sholat arba’in, ziarah ke Makam Rasulullah SAW, hingga berdoa di Raudhah.

 

Selain itu, kegiatan spiritual diperkuat dengan khataman Al-Qur’an secara daring dan istighotsyah bersama di hotel.

“Selama tujuh hari ini, jamaah diharapkan memaksimalkan ibadah dan memperkuat kebersamaan,” tutur H. Muchlison, Ketua Rombongan KBIHU Nurut Taqwa.

 

Di tengah kekhusyukan itu, hadir keteladanan yang tak banyak bicara namun terasa nyata. Nurochman, yang di Kota Batu dikenal sebagai orang nomor satu, justru melebur tanpa sekat di tengah jamaah.

 

Bersama sang istri, Siti Fauziyah, ia turut menjalani peran sederhana—ikut piket membagikan konsumsi, menyapa jamaah dari kamar ke kamar, hingga membantu menjembatani komunikasi dengan petugas haji.

 

“Terima kasih pada Cak Nur. Walaupun di Kota Batu sebagai walikota, di Madinah beliau bersama saya membagi jatah makanan,” ungkap Andis Mulyawan, jamaah yang juga guru SMA Negeri 2 Batu.

 

 

Tak hanya itu, dalam kegiatan istighotsyah yang digelar di lobby lantai 2 Hotel Karam Al Madinah, Nurochman juga hadir memberi pengantar dengan penuh kerendahan hati. Tidak sebagai pejabat, melainkan sebagai sesama jamaah yang menguatkan satu sama lain.

“Saya di sini jamaah, harus melakukan tugas yang sama dengan jamaah lain, termasuk membagi makanan. Namun saya siap membantu dan menjembatani kebutuhan jamaah dengan petugas,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga kesabaran, kekompakan, dan kesehatan selama menjalani rangkaian ibadah yang masih panjang.

Kisah ini menjadi cermin bahwa nilai-nilai kepemimpinan sejati justru tumbuh dalam kesederhanaan. Di tanah suci, jabatan bukanlah pembeda. Yang membedakan adalah ketulusan dalam membantu dan keikhlasan dalam melayani—sebagaimana teladan Rasulullah SAW.

Sesuai jadwal, pada Jumat (1/5/2026), jamaah akan diberangkatkan menuju Makkah untuk melanjutkan rangkaian ibadah umrah dan haji.

Dari Madinah, pelajaran itu mengalir lembut namun kuat: bahwa pemimpin yang besar adalah mereka yang rela turun, menyapa, dan melayani—tanpa sekat, tanpa jarak, hanya dengan keikhlasan. ( Eno).