Fahrizal Bongkar Ancaman Mangrove Indonesia dalam Sidang Doktornya di UMI
Makassar | Serulingmedia.com — Ancaman serius terhadap ekosistem mangrove Indonesia disorot tajam oleh Ahmad Fahrizal dalam sidang doktornya di Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Rabu (8/4/2026).
Lewat disertasi berjudul Potensi Pengembangan Ekominawisata Mangrove Berkelanjutan di Kabupaten Sorong, Fahrizal memaparkan fakta bahwa Indonesia memegang 21–23 persen mangrove dunia namun justru mengalami penurunan luasan dalam beberapa tahun terakhir.
Sidang terbuka ini dipimpin Direktur PPs UMI Makassar, Prof. Dr. H. La Ode Husen, SH., M.Hum., dengan jajaran penguji senior: Prof. Dr. Ir. Jayadi, MP., Prof. Dr. Ir. Rustam, MS., Dr. Ir. Abrar, M.Si., Dr. Ir. Hamsiah, M.Si., Prof. Dr. Amran Saru, ST., M.Si., serta Dr. dr. Armanto Makmun.
Sementara itu, tim promotor terdiri dari Promotor Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Kasnir, M.Si., Co-Promotor I Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, M.Si., dan Co-Promotor II Prof. Dr. Ir. Muh. Ihsan, M.Si.
Dalam pemaparannya, Fahrizal menegaskan bahwa ekosistem mangrove memiliki produktivitas tinggi dan memegang peran vital sebagai pelindung pantai dari abrasi, habitat biota, penyedia sumber daya perikanan, serta ruang edukasi dan konservasi.
“Mangrove adalah benteng ekologis sekaligus penopang sosial-ekonomi masyarakat pesisir. Namun, kerusakannya kian nyata,” ujarnya.
Ia menyoroti Papua Barat Daya, khususnya Kabupaten Sorong, sebagai wilayah dengan hamparan mangrove luas dan keanekaragaman jenis tinggi.
Meski demikian, kawasan tersebut menghadapi tekanan besar akibat aktivitas manusia seperti pembukaan tambak, penebangan liar, dan pencemaran.
Fahrizal menyampaikan bahwa berbagai upaya rehabilitasi memang telah dilakukan, namun belum cukup untuk menghentikan laju kerusakan.
Melalui disertasinya, ia menawarkan konsep ekominawisata—sebuah pendekatan yang menggabungkan konservasi ekologi, pelestarian budaya perikanan, serta aktivitas pariwisata edukatif.
“Ekominawisata memberikan solusi dua arah: menjaga keberlanjutan mangrove sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tanpa strategi terpadu, kerusakan akan terus berulang,” tegasnya di hadapan para penguji.
Paparan Fahrizal mendapat perhatian serius dalam forum ilmiah tersebut, karena tidak hanya mengungkap persoalan lapangan, tetapi juga menawarkan model pengelolaan mangrove yang dapat diterapkan di berbagai daerah pesisir Indonesia.
Sidang doktor ini sekaligus menegaskan pentingnya riset berbasis solusi untuk menyelamatkan ekosistem mangrove nasional dari ancaman nyata yang terus mengintai.( Yah/Eno).





