6.000 Meter Persegi yang Terlupakan: Nurochman Ingin Bangunkan Taman Bodas dari Tidurnya

2077643_11zon

Batu | Serulingmedia.com — Menyambut ulang tahun ke-25 Kota Batu, momentum untuk menata kembali ruang hijau di tengah kota terasa semakin relevan.

 

Apalagi perayaan seperempat abad Kota Batu tahun ini mengusung tema “Kreatif SAE: Bangkit Bersama, Jaga Alam Raya untuk mBatu SAE Berkelanjutan.”

 

Tema itu bukan sekadar rangkaian kata perayaan. Ia dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa pembangunan Kota Batu harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga alam.

 

Dalam konteks itulah langkah Wali Kota Batu Nurochman membenahi Hutan Kota Taman Bodas menjadi penting.

Ada ruang hijau di tengah Kota Batu yang selama ini mungkin terlalu sering dilewati tanpa benar-benar dilihat. Ia ada, tetapi belum sepenuhnya hadir sebagai ruang publik yang hidup.

 

Namanya Hutan Kota Taman Bodas

Luasnya sekitar 6.000 meter persegi. Tidak kecil untuk ukuran ruang hijau di tengah kota. Pepohonan tumbuh rindang, menciptakan suasana sejuk di tengah kesibukan kota.

 

Lebih dari itu, Taman Bodas sebenarnya tidak datang dengan tangan kosong.

 

Kawasan ini telah dilengkapi sejumlah fasilitas. Ada sarana olahraga, playground, skatepark, fasilitas MCK, perpustakaan umum, serta jogging track yang baru direnovasi. Tersedia pula ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai aktivitas.

 

Artinya, secara konsep, Taman Bodas sesungguhnya sudah memiliki modal untuk menjadi ruang publik yang menarik dan bermanfaat bagi masyarakat.

 

Tetapi ada satu persoalan yang masih terasa: pemeliharaannya belum maksimal.

 

Rumput yang semestinya menjadi hamparan hijau di sejumlah bagian mulai berganti tanah. Tumpukan daun kering masih terlihat di antara pepohonan yang rindang. Kesejukan dan keteduhan memang masih terasa, tetapi kesan kurang terawat juga tidak bisa disembunyikan.

 

Di situlah ironi Taman Bodas

 

Potensinya ada. Fasilitasnya tersedia. Jogging track baru saja direnovasi. Ruang terbuka tersedia. Pepohonannya tumbuh. Lokasinya berada di tengah kota.

 

Namun, sebuah ruang publik tidak cukup hanya dengan fasilitas.

 

Ia membutuhkan perawatan yang konsisten.

 

Pemandangan tersebut menjadi perhatian Wali Kota Batu Nurochman ketika melakukan inspeksi ke Hutan Kota Taman Bodas, Jumat (25/9/2026).

Nurochman datang bersama Sekda Kota Batu Alfi Nurhidayat, Asisten Chori, Kepala Dinas Perkim Arief As Sidiq, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dian Fachroni, Danramil Kota Kapten Jumawi serta jajaran OPD.

 

Kunjungan itu bukan sekadar melihat kondisi taman. Ada gagasan yang lebih besar: mengembalikan fungsi Taman Bodas sebagai ruang publik yang benar-benar dirasakan masyarakat.

 

“Kita punya aset yang mestinya harus kita optimalisasi, kita muliakan. Ini ada hutan di tengah kota, di tengah keramaian,” kata Nurochman.

 

Kata “muliakan” menjadi penting

 

Sebab pembangunan kota sering kali lebih mudah terlihat dari bangunan baru, jalan yang diperlebar, destinasi wisata, pusat kuliner, atau fasilitas komersial.

 

Padahal kota juga membutuhkan sesuatu yang lebih sederhana: ruang hijau yang bisa dinikmati semua orang.

 

Taman Bodas mempunyai peluang tersebut.

 

Anak-anak dapat bermain. Anak muda bisa berolahraga. Warga dapat memanfaatkan jogging track yang baru direnovasi. Orang tua dapat berjalan kaki atau duduk menikmati suasana. Mereka yang gemar membaca bahkan memiliki perpustakaan umum sebagai ruang alternatif untuk mendapatkan bahan bacaan.

 

Ruang terbuka yang tersedia juga dapat menjadi tempat masyarakat berkumpul, bersantai, atau melakukan berbagai kegiatan komunitas.

 

Fasilitas MCK menjadi bagian penting dari kenyamanan pengunjung.

 

Dengan berbagai fasilitas tersebut, Taman Bodas sesungguhnya tinggal membutuhkan sentuhan pengelolaan yang lebih serius.

 

Nurochman pun menyampaikan rencana pembenahan secara bertahap.

 

Playground tetap dipertahankan. Alat-alat olahraga akan ditambah, termasuk sepeda statis. Landscape ditata kembali. Kebersihan menjadi perhatian.

 

Skatepark juga tidak akan dihilangkan.

 

Justru fasilitas tersebut akan dibenahi agar lebih memenuhi standar kenyamanan dan keselamatan pengguna.

 

“Skatepark-nya tetap ada. Itu menjadi salah satu daya tarik yang ada di hutan kota,” ujar Nurochman.

 

Ini penting.

 

Sebab ruang publik bukan hanya tentang bagaimana membuat tempat terlihat bagus. Lebih penting lagi, bagaimana memastikan fasilitas yang tersedia aman dan dapat digunakan dalam jangka panjang.

 

Rumput yang menghilang dan berganti tanah, misalnya, bukan sekadar persoalan estetika. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemeliharaan ruang hijau membutuhkan perhatian rutin.

 

Begitu pula tumpukan daun kering.

 

Daun yang jatuh secara alami merupakan bagian dari ekosistem pepohonan. Tetapi ketika jumlahnya menumpuk dan tidak dikelola, kesan ruang publik yang kurang terawat mulai muncul.

 

Karena itu, menjaga Taman Bodas tidak cukup dengan menanam pohon.

 

Pohon harus dirawat. Rumput harus dipelihara. Sampah dan daun kering harus dikelola. Fasilitas olahraga harus diperiksa. Playground harus dipastikan aman.

 

Perpustakaan harus dibuat hidup. MCK harus bersih. Jogging track yang baru direnovasi juga perlu dirawat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

 

Ruang publik yang baik adalah ruang yang dirawat setiap hari, bukan hanya ditata ketika ada kunjungan pejabat.

 

Nurochman bahkan membuka kemungkinan menghadirkan satu atau dua coffee shop sebagai fasilitas tambahan.

 

Jika ditata secara proporsional, keberadaan fasilitas tersebut dapat membuat kawasan lebih hidup. Masyarakat mempunyai pilihan untuk beristirahat dan menikmati suasana setelah berolahraga atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

 

Namun, fungsi utama Taman Bodas sebagai ruang hijau tentu harus tetap menjadi pijakan.

 

Jangan sampai ruang publik yang hendak dihidupkan justru kehilangan ruang hijaunya.

 

Pohon tetap harus menjadi wajah utama. Ruang terbuka tetap harus dipertahankan. Fasilitas komersial hanya menjadi pelengkap, bukan mengambil alih fungsi ekologis kawasan.

 

Nurochman juga membayangkan Taman Bodas menjadi alternatif kunjungan wisata sehingga masyarakat tidak hanya berkumpul di kawasan Alun-Alun Batu.

 

“Tidak menumpuk di alun-alun tetapi bisa bergeser ke hutan kota,” ujarnya.

 

Gagasan ini memperluas cara pandang tentang pariwisata Kota Batu.

 

Wisata tidak selalu harus berupa wahana besar dan bangunan megah.

 

Sebuah hutan kota yang rindang, bersih, aman dan tertata pun dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

 

Wisatawan bisa berjalan kaki, berolahraga, membaca, membawa anak bermain atau sekadar menikmati teduhnya pepohonan.

 

Dan yang lebih penting, fasilitas tersebut juga bisa dinikmati warga Kota Batu sendiri.

 

Di sinilah Taman Bodas memiliki posisi yang berbeda.

Ia bukan semata-mata destinasi wisata.

Ia adalah ruang publik.

 

Karena itu, ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa banyak orang yang datang, tetapi apakah masyarakat merasa nyaman untuk kembali.

 

Ada pekerjaan rumah besar di sana.

 

Perawatan harus lebih maksimal. Kebersihan harus dijaga. Fasilitas yang sudah tersedia harus difungsikan. Perpustakaan umum jangan hanya menjadi ruangan yang ada, tetapi harus menjadi ruang literasi yang hidup.

 

Sarana olahraga harus benar-benar dimanfaatkan. Playground harus aman bagi anak-anak. Jogging track yang baru direnovasi harus tetap terjaga kualitasnya. Ruang terbuka harus dipertahankan sebagai ruang bersama.

 

Dengan kata lain, Taman Bodas tidak kekurangan fasilitas. Yang dibutuhkan adalah konsistensi menghidupkan dan merawatnya.

 

Luas 6.000 meter persegi itu mungkin tidak spektakuler jika dibandingkan dengan kawasan wisata lainnya.

 

Tetapi di tengah kota, setiap meter ruang hijau memiliki nilai.

Ia menjadi penyangga ekologis sekaligus ruang sosial.

Tempat manusia bertemu dengan manusia.

Tempat manusia bertemu dengan alam.

Tempat anak-anak belajar bermain.

Tempat warga berolahraga di jogging track.

Tempat keluarga menikmati ruang terbuka.

Tempat orang dewasa mencari jeda dari rutinitas.

Tempat warga menikmati kota tanpa harus selalu menjadi konsumen.

 

Jika seluruh potensi itu berhasil dihidupkan, Taman Bodas tidak lagi sekadar hutan kota yang berada di tengah keramaian.

 

Ia bisa menjadi oase publik Kota Batu.

 

Terlebih, pembenahan itu datang menjelang usia seperempat abad Kota Batu. Tema “Kreatif SAE: Bangkit Bersama, Jaga Alam Raya untuk mBatu SAE Berkelanjutan” menemukan relevansinya di ruang hijau seperti Taman Bodas.

 

Kreativitas tidak selalu berarti membangun sesuatu yang baru. Kreativitas juga bisa berarti melihat kembali aset yang sudah dimiliki, kemudian mengolahnya agar memberikan manfaat yang lebih besar.

 

Menjaga alam tidak selalu harus dimulai dari kawasan hutan yang jauh dari pusat kota.

 

Ia bisa dimulai dari ruang hijau yang berada tepat di tengah kehidupan masyarakat.

 

Dan keberlanjutan bukan hanya tentang membangun hari ini, tetapi memastikan apa yang dibangun dan dimiliki kota tetap bermanfaat bagi generasi berikutnya.

 

Karena itu, langkah membenahi Hutan Kota Taman Bodas menjadi bagian penting dari upaya menerjemahkan semangat HUT ke-25 Kota Batu ke dalam tindakan nyata.

 

Sebab membangun taman membutuhkan anggaran.

Tetapi membuatnya tetap hidup membutuhkan komitmen.

Dan mungkin, Taman Bodas tidak benar-benar terlupakan.

Ia hanya sedang menunggu untuk kembali diperhatikan.

Kini pemerintah mulai melihat kembali potensi itu.

Tantangannya tinggal satu: jangan biarkan Taman Bodas kembali tertidur setelah perhatian berlalu.

 

Bangkit bersama, menjaga alam raya, bukan hanya menjadi tema perayaan. Taman Bodas dapat menjadi salah satu tempat untuk membuktikannya. ( Eno).