UIN Malang Dorong Pesantren Ramah Anak, Pengurus As-Salma Ditempa Jadi Pendamping Santri

As-salma_11zon

Jombang | Serulingmedia.com – Pesantren ramah anak tak cukup dibangun dengan aturan. Di balik kehidupan santri yang padat dengan aktivitas pendidikan dan keagamaan, ada persoalan psikologis yang membutuhkan pendampingan tepat.

Kesadaran itulah yang mendorong Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar “Psikologi Mengabdi: Penguatan Pendamping Santri untuk Mendukung Pesantren Ramah Anak” di Pondok Pesantren Putri As-Salma Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jumat (25/9/2026).

As-Salma ditetapkan sebagai pilot model program penguatan pendamping santri. Seluruh pengurus pesantren dibekali kemampuan dasar untuk mengenali persoalan psikologis, mendengarkan keluhan santri, memberikan dukungan awal, sekaligus mengetahui kapan sebuah persoalan harus dirujuk kepada tenaga profesional.

Pengasuh Pondok Pesantren As-Salma Bahrul Ulum Tambakberas, Prof. Dr. K.H. Abd. Kholid Mas’ud, M.Ag., bersama Nyai Hj. Emi Tahmidah, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dari Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, hadir Wakil Dekan III, Andik Rony Irawan, M.Si., yang menyampaikan sambutan mewakili Dekan Fakultas Psikologi.

Tiga kemampuan menjadi fokus utama pelatihan, yakni kesehatan mental, konseling dasar, dan Psychological First Aid (PFA).

Dr. Yulia Solichatun, M.Si., pada sesi psikoedukasi kesehatan mental mengajak para pengurus memahami berbagai kondisi yang mungkin dialami santri. Sedih, cemas, rindu rumah, kecewa dan kelelahan merupakan pengalaman yang dapat muncul dalam kehidupan santri dan membutuhkan respons yang tepat.

Karena itu, perubahan perilaku atau kondisi emosional santri perlu dikenali sejak awal. Pengurus yang setiap hari berada dekat dengan santri memiliki posisi penting untuk mendeteksi perubahan tersebut.

Namun, mendampingi bukan berarti menghakimi.

Pesan itu mengemuka dalam materi Konseling Dasar yang disampaikan Dr. Mualifah, MA. Pengurus dilatih untuk hadir, mendengar, memahami, membantu santri melihat pilihan, kemudian melakukan tindak lanjut.

Pendamping tidak dituntut selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan. Yang lebih penting adalah kemampuan menciptakan ruang aman agar santri berani bercerita.

Mendengarkan sebelum menasihati dan memahami sebelum menilai menjadi prinsip penting dalam membangun komunikasi antara pendamping dan santri.

Sementara itu, Fuji Astutik, M.Psi., memberikan pelatihan Psychological First Aid dengan prinsip Look, Listen, Link.

Pendamping diajarkan melihat kondisi dan kebutuhan mendesak, mendekati serta mendengarkan santri secara aktif, kemudian menghubungkannya dengan bantuan yang sesuai.

Pelatihan tersebut juga menegaskan bahwa pendamping memiliki batas kewenangan.

Persoalan seperti tanda menyakiti diri, pembicaraan mengenai mengakhiri hidup, distres yang berlangsung lama dan mengganggu aktivitas, dugaan kekerasan, maupun kondisi yang melampaui kapasitas pendamping membutuhkan penanganan lebih lanjut dari pihak yang memiliki kompetensi.

Dengan demikian, pendamping bukan pengganti psikolog atau tenaga profesional. Peran mereka lebih pada menjadi garda awal yang mampu mengenali persoalan, memberikan dukungan psikologis awal, dan memastikan santri memperoleh bantuan yang tepat.

Program Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut sekaligus menunjukkan bahwa konsep pesantren ramah anak tidak berhenti pada penyediaan lingkungan yang aman secara fisik.

Ada kebutuhan untuk membangun ekosistem yang mampu memperhatikan kondisi psikologis santri.

Penetapan As-Salma sebagai pilot model diharapkan menjadi langkah awal untuk mengembangkan pola pendampingan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Sebab, ketika seorang santri memiliki tempat untuk bercerita, didengar tanpa dihakimi, dibantu secara tepat, dan dilindungi ketika menghadapi persoalan serius, pesantren bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu.

Pesantren juga menjadi ruang tumbuh yang aman bagi santri. ( Eno)