UIN Malang Bedah Tantangan Kerja Digital, Psikolog UNAIR Ungkap Lima Risiko Sistem Remote dan Hybrid

2289800_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Transformasi dunia kerja di era digital tidak hanya mengubah pola kerja dari kantor menuju sistem jarak jauh (remote work) dan hibrida (hybrid work), tetapi juga menghadirkan tantangan baru terkait produktivitas, budaya organisasi, keadilan karier, hingga kesehatan psikologis karyawan.

Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam Guest Lecture Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (5/11/2026), di Auditorium Lantai 1 Fakultas Psikologi, Kampus 3 UIN Malang.

Mengangkat tema “Transformasi Dunia Kerja dan Masa Depan Psikologi Industri dan Organisasi: Tantangan, Inovasi, dan Peluang Karier Sarjana Psikologi”, kegiatan ini menghadirkan Guru Besar Psikologi Industri dan Organisasi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Fendy Suhariadi, M.T., Psikolog.

Dalam paparannya bertajuk Virtual & Hybrid Teams: Psychologist Challenges in the Remote Work Era, Prof. Fendy mengungkapkan, perubahan sistem kerja menuntut organisasi tidak hanya memperhatikan pencapaian target, tetapi juga memahami dinamika psikologis individu dan kelompok.

Ia mengidentifikasi lima tantangan utama dalam pengelolaan tim virtual dan hibrida.
Pertama, membangun budaya organisasi dan rasa memiliki (culture and belonging).

Minimnya interaksi langsung berpotensi melemahkan hubungan sosial, solidaritas, dan identitas bersama antarkaryawan.

Kedua, menjaga keadilan penilaian kinerja dan kesempatan karier (proximity bias and fairness). Karyawan yang lebih sering bekerja di kantor berpotensi memperoleh keuntungan dalam akses informasi, proyek strategis, hingga promosi jabatan.

Karena itu, penilaian kinerja perlu didasarkan pada hasil dan kontribusi, bukan semata-mata kehadiran fisik.

Ketiga, fragmentasi pekerjaan dan fenomena infinite workday. Komunikasi melalui berbagai platform digital, notifikasi, serta pesan pekerjaan di luar jam kerja dapat mengaburkan batas kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Kondisi tersebut berisiko memicu kelelahan digital hingga burnout.
Keempat, menjaga keterlibatan kerja sekaligus kesejahteraan psikologis (engagement vs well-being).

Produktivitas pekerja jarak jauh tidak boleh membuat organisasi mengabaikan risiko stres, isolasi sosial, dan kelelahan akibat terbatasnya interaksi serta dukungan emosional.

Kelima, proses adaptasi karyawan baru, pembelajaran, dan transfer pengetahuan (onboarding, learning and knowledge transfer).

Berkurangnya interaksi informal dapat menghambat pendampingan, adaptasi, dan pertukaran pengetahuan di lingkungan kerja.

Dorong Sistem Kerja Hibrida yang Sehat
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Prof. Fendy menekankan pentingnya membangun sistem kerja hibrida yang sehat (healthy hybrid work).

Menurutnya, organisasi perlu menerapkan penilaian kinerja berbasis hasil, mengatur komunikasi tatap muka dan digital secara proporsional, menyediakan waktu khusus untuk kolaborasi dan pendampingan, serta menetapkan batas waktu kerja yang jelas.

Organisasi juga harus menjamin kesetaraan akses informasi, pengembangan karier, dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan bagi seluruh karyawan, baik yang bekerja dari kantor maupun jarak jauh.

Dalam konteks ini, psikologi industri dan organisasi memiliki peran strategis dalam memahami perilaku manusia, menganalisis dinamika tim, membangun budaya kerja sehat, serta merancang intervensi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan karyawan.

Prof. Fendy turut memperkenalkan sejumlah pendekatan untuk mengevaluasi kondisi tim virtual dan hibrida, di antaranya survei keterlibatan dan kesejahteraan karyawan, audit efektivitas rapat, audit dokumentasi organisasi, serta social network analysis untuk memetakan pola komunikasi dan hubungan antarkaryawan.

Dekan: Mahasiswa Psikologi Pantang Menyerah

Sementara itu, Dekan Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Siti Mahmudah, M.Si., dalam sambutannya mengingatkan mahasiswa agar mempersiapkan diri menghadapi persaingan dan perubahan kebutuhan dunia kerja.

“Semua orang butuh kerja. Sebagai orang yang mempelajari psikologi, kita pantang menyerah dan pantang putus asa dalam menghadapi tantangan karier masa depan,” pesannya.

Menurutnya, penguasaan ilmu psikologi harus disertai kesiapan mental, kemauan untuk terus belajar, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa transformasi dunia kerja tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang karier baru bagi sarjana psikologi.

Kemampuan memahami perilaku manusia, melakukan asesmen, menganalisis persoalan organisasi, serta merancang intervensi psikologis menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan.

Fakultas Psikologi UIN Malang berharap kegiatan tersebut mampu menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata dunia kerja, sekaligus mempersiapkan lulusan yang adaptif, kompeten, dan memiliki daya saing menghadapi perubahan industri di masa depan.( Eno).