STMM “MMTC” Raih MURI: 1.541 Karakter Dikumpulkan, Tantangan Serapan Kerja Menanti

KETUA STMM MENERIMA PIAGAM MURI_11zon

Yogyakarta | Serulingmedia.com — Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) Yogyakarta mencatatkan Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dengan menghimpun 1.541 karakter animasi dan game karya mahasiswa. Prestasi itu membanggakan, tetapi sekaligus menyisakan pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana ribuan karya tersebut mampu menembus industri dan menghasilkan nilai ekonomi bagi penciptanya?

Rekor MURI kategori “Buku dengan Karakter Animasi dan Game Terbanyak Karya Mahasiswa dari Satu Perguruan Tinggi” itu ditetapkan pada Rabu ( 9/9/2026), bertepatan dengan Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode I Tahun Akademik 2026/2027.

Sebanyak 1.541 desain karakter tersebut merupakan karya 416 mahasiswa Program Studi Animasi dan Teknologi Permainan yang mengikuti mata kuliah Desain Karakter sepanjang 2021–2026.

Karya-karya tersebut kemudian dihimpun dalam buku Desain Karakter Animasi dan Game. Buku itu disusun dan ditata oleh dosen animasi STMM, Atmaja Septa Miyosa, M.Sn., sejak awal Juni hingga awal September 2026.

Piagam MURI diserahkan oleh Senior Representative atau Kepala MURI Semarang, Ari Andriani, kepada Ketua STMM Yogyakarta, Dr. H. R.M. Agung Harimurti, M.Kom. Medali juga dikalungkan kepada Ketua Program Studi Animasi Atmaja Septa Miyosa.

Agung menyebut pencapaian tersebut menjadi catatan bersejarah bagi STMM. Rekor itu, menurut dia, bukan sekadar penghargaan institusi karena masuk kategori ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjadi bagian dari kontribusi dunia pendidikan nasional.

“Ini sangat menggembirakan karena baru pertama kali dalam sejarah STMM,” ujar Agung.

Target awal STMM sebenarnya 1.441 karya untuk memperingati Dies Natalis ke-41. Namun jumlah yang terkumpul mencapai 1.541 karakter.

Angka tersebut kemudian diposisikan sebagai bagian dari agenda STMM menuju Kampus 1000 IP (Intellectual Property).

Di titik inilah tantangan STMM sebenarnya dimulai.

Sebab, mengumpulkan 1.541 karakter merupakan capaian kuantitatif. Tantangan berikutnya adalah mengubah karya akademik menjadi kekayaan intelektual yang hidup: memiliki pemilik yang jelas, dilindungi, dikembangkan, dipasarkan, dan menghasilkan nilai ekonomi.

Rekor tidak otomatis menjadi pasar.

Bagi perguruan tinggi yang bergerak di bidang multimedia dan industri kreatif, keberhasilan pendidikan semestinya tidak berhenti pada kemampuan mahasiswa menghasilkan karya. Kampus juga perlu memastikan karya tersebut memiliki jalan menuju industri, sementara lulusan memiliki kemampuan untuk mengubah kreativitas menjadi produk.

Persoalan itu menjadi semakin penting karena pada momentum yang sama STMM mewisuda 188 lulusan.

STMM telah membekali mahasiswa dengan pembelajaran yang relatif kuat pada aspek praktik. Program Sarjana Terapan memiliki komposisi 40 persen teori dan 60 persen praktik. Sementara Program Sarjana memiliki komposisi 60 persen teori dan 40 persen praktik.

Mahasiswa juga diwajibkan mengikuti kerja praktik dan berbagai bentuk praktikum.

Namun, data serapan kerja yang disebut sebesar 14,36 persen memperlihatkan adanya persoalan yang tidak bisa ditutup hanya dengan prestasi akademik.

Ada jarak antara kampus yang mampu menghasilkan karya dan industri yang mampu menyerap talenta.

Jarak itulah yang kini harus dijawab STMM.

Bukan Sekadar Mencari Pekerjaan

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam pesan kepada para wisudawan menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak seharusnya hanya berpikir mengenai pekerjaan yang akan diperoleh.

Menurut dia, pertanyaan yang lebih penting adalah persoalan apa yang mampu mereka selesaikan.

“Kalau Saudara hanya mencari pekerjaan, Saudara akan mencari posisi. Tetapi kalau Saudara mencari masalah untuk diselesaikan, Saudara akan menciptakan nilai,” ujar Meutya.

Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan kreativitas dan kemampuan digital, mulai dari kesenjangan digital, literasi masyarakat, transformasi digital UMKM, kapasitas teknologi sekolah, hingga ancaman hoaks dan disinformasi.

Karena itu, keberhasilan lulusan tidak semestinya hanya diukur berdasarkan penghasilan.

Seberapa banyak orang yang terbantu, peluang yang diciptakan, pengetahuan yang dibagikan, dan perubahan positif yang dihasilkan juga menjadi ukuran keberhasilan.

Bagi 188 wisudawan STMM, pesan itu menjadi tantangan langsung setelah mereka meninggalkan kampus.

Mereka memasuki industri yang tidak hanya menuntut ijazah dan kemampuan teknis, tetapi juga kreativitas, adaptasi, kemampuan membangun jejaring, penguasaan teknologi, dan keberanian menciptakan lapangan kerja.

Apalagi industri kreatif kini berhadapan dengan perkembangan kecerdasan buatan atau AI yang semakin mampu menghasilkan gambar, animasi, suara, video, bahkan berbagai bentuk konten digital.

Dalam situasi tersebut, kemampuan teknis semata tidak lagi cukup.

Nilai manusia justru diuji dari kemampuan menemukan ide, memahami persoalan, menciptakan konsep, membangun karakter, mengembangkan cerita, serta menghasilkan karya yang memiliki makna dan nilai ekonomi.

Karena itu, Rekor MURI 1.541 karakter seharusnya tidak menjadi etalase prestasi semata.

Ia harus menjadi modal untuk membangun ekosistem kekayaan intelektual STMM.

Karya mahasiswa harus mempunyai keberlanjutan. Sebagian dapat dikembangkan menjadi gim, animasi, komik, film, merchandise, konten digital, maupun produk kreatif lainnya.

Jika tidak, ribuan karakter itu berisiko berhenti sebagai angka besar dalam sebuah buku—indah sebagai catatan rekor, tetapi belum tentu berarti besar bagi kehidupan penciptanya.

Meutya menitipkan tiga pesan kepada para wisudawan: menjaga integritas, terus berkarya, dan memastikan karya memberikan dampak.

“Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini membutuhkan orang pintar yang mau berkarya dan menyelesaikan masalah,” kata dia.

Bagi STMM, rekor MURI itu menjadi kebanggaan. Tetapi ukuran keberhasilan yang sesungguhnya baru akan terlihat ketika 1.541 karakter tersebut tidak hanya tercatat di MURI, melainkan mampu hidup di industri, menjadi kekayaan intelektual, menciptakan nilai ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan memberi dampak sosial.

Sebab, rekor adalah pencapaian. Tetapi keberlanjutan karya adalah pembuktian. ( Eno)