DWP UIN Malang: Pandai Bicara Tak Cukup, Personal Branding Muslimah Harus Berakar pada Akhlak

Maulid nabi_11zon

Malang | Serulingmedia.com — Pandai berbicara bukan jaminan seseorang memiliki karakter kuat. Di tengah era digital ketika citra dapat dibentuk hanya dalam hitungan detik, Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengingatkan bahwa personal branding Muslimah semestinya tidak berhenti pada kemampuan tampil dan berkomunikasi.

Personal branding harus berakar pada akhlak.

Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang dirangkaikan dengan kegiatan Public Speaking di Auditorium Micro Teaching UIN Maliki Malang, Rabu,( 9/9/2026).

Kegiatan mengangkat tema “Membangun Personal Branding Muslimah dengan Meneladani Tutur Bahasa Rasulullah.” Pengurus dan anggota DWP UIN Maliki Malang, termasuk para sesepuh, mengikuti kegiatan yang memadukan refleksi keagamaan dengan penguatan kemampuan komunikasi.

Ketua DWP UIN Maliki Malang, Ny. Layyinah Basri, S.Ag., serta Plt. Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK), Dr. Zainal Habib, M.Hum., hadir dalam rangkaian acara.

Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB dengan registrasi peserta. Rangkaian dilanjutkan dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Dharma Wanita, serta sambutan.

Nuansa Maulid Nabi diperkuat melalui pembacaan sholawat Nabi dan doa diba’. Setelah itu, peserta memasuki agenda utama berupa sesi Public Speaking yang berlangsung pukul 10.00-11.30 WIB.

Prof. Dr. Hj. Like Raskova Octaberlina, M.Ed., menjadi narasumber. Dalam sesi tersebut, peserta diajak melihat kemampuan komunikasi dari perspektif yang lebih luas.

Berbicara bukan hanya persoalan bagaimana seseorang tampil percaya diri. Pilihan kata, intonasi, sikap, cara menghargai lawan bicara, hingga perilaku setelah komunikasi berlangsung turut menentukan bagaimana seseorang dipersepsikan.

“Personal branding bukan sekadar tentang bagaimana seseorang ingin dikenal, tetapi tentang karakter apa yang konsisten ia tampilkan melalui tutur dan perilakunya.”

Pesan itu menjadi relevan di tengah derasnya arus komunikasi digital. Media sosial membuat seseorang dapat membangun citra dengan mudah, tetapi sekaligus membuka ruang bagi publik untuk menilai konsistensi antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.

Dalam konteks tersebut, personal branding tidak semestinya menjadi proyek pencitraan semata.

Bagi DWP UIN Maliki Malang, keteladanan Rasulullah SAW menjadi fondasi untuk membangun komunikasi Muslimah yang santun, percaya diri, berkarakter, dan memiliki daya pengaruh.

Kemampuan berbicara tanpa karakter, dalam konteks itu, hanya menghasilkan suara. Sebaliknya, tutur kata yang lahir dari akhlak dan keteladanan dapat membangun kepercayaan serta memberikan manfaat.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pemberian cinderamata, foto bersama, dan pembagian puluhan doorprize sebelum acara ditutup.

Peringatan Maulid Nabi tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi bagi anggota DWP UIN Maliki Malang. Di tengah masyarakat yang semakin terbuka dan cepat menilai seseorang melalui komunikasi publik, pertanyaan pentingnya bukan hanya “apa yang kita katakan?”, tetapi juga “karakter seperti apa yang terlihat dari perkataan kita?”

Sebab, popularitas dapat dibangun dengan strategi. Penampilan dapat dipoles. Kemampuan berbicara dapat dilatih.

Namun, kepercayaan lahir dari konsistensi antara kata, sikap, dan akhlak. ( En0)